06 Januari 2011

refleksi minggu kedua Januari 2011


MENJADI BERKAT

Yesaya 42: 1-9


Harga cabai melambung tinggi! Kalau tidak salah sempat sampai menembus Rp. 100.000 /kg. Semua kalangan resah dan bingung, mulai dari para petani yang tampaknya belum kebagian untung, juga sampai ke para pembeli baik para pengusaha restoran dan makanan hingga sangat merisaukan ibu-ibu rumah tangga.

Lalu berbagai alasan dan dalih bermunculan mengapa fenomena cabai mahal bisa sampai terjadi. Menambah lengkap sempurna berbagai pergumulan, tantangan bahkan penderitaan hidup kehidupan keluarga, gereja, masyarakat dan bangsa Indonesia, juga seantero penghuni bumi.

Apakah kita yang dipanggilNya sebagai umat pengikut Allah juga larut dengan semua ini? Tidak!

Jangan pernah berputus asa dan hilang pengharapan. Allah tetap dan akan selalu tetap menyertai memberkati kita semua.

Hal inilah yang disampaikanNya dan dikumandangkan penulis Yesaya, yang diyakini adalah Nabi Yesaya sendiri bagi bangsa Israel di dalam pembuangannya. “ Aku ini, Tuhan, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa” (ayat 6).

Ada si pembebas (Nubuatan tentang Mesias Juruselamat) yang menyelamatkan dan membebaskan.

Ingatlah selalu saudara-saudara umat pilihan Tuhan, anda dan saya telah dipanggil untuk terus diberkati.

Diberkati Allah bukan melulu untuk diri kita sendiri. Tetapi kita diselamatkan untuk menyelamatkan. Dibebaskan untuk membebaskan. Dipulihkan untuk memulihkan. Dan diberkati untuk memberkati.

Bagi dan untuk siapa? Bagian Alkitab, Firman Tuhan jelas: Untuk orang lain ( tertera suku dan bangsa lain). Menjadi saluran berkat-berkatNya bagi sesama.

Di semakin sulit keadaan, mari, belajarlah jadi berkat untuk sesama lebih lagi. Karena jika di keadaan yang aman bahkan berkelimpahan, kita jadi saluran berkat, ah itu biasa. Sangat wajar.

Tetapi mari jadi luarbiasa dalamNya. Jadi indah bahkan lebih indah dalam Iman, Pengharapan dan Kasih. Sehingga diri kita sendiri adalah “berkat” bagi sesama. Lebih mau dan benar-benar melakonkan: Semakin berat dan susah, kita kian tertantang untuk lebih lagi membahagiakan orang lain, rela membantu, siap menolong dan menambah berbagai kebaikan.

Hingga kehidupan bersama kita,
bisa benar-benar lebih menikmati berkat-berkat Allah :)




Tulisan dan Foto: Lusindo Tobing

31 Desember 2010

refleksi minggu pertama Januari 2011


DIPILIH

Efesus 1: 3-14

Sebelum kita semua lebih jauh menapaki hari-hari yang Allah anugerahkan seterusnya, mari sadari bahwa: Kita telah dipilihNya. Dipilih sejak sebelum dunia dijadikan, dipilih untuk menjadi umat jemaatNya dan dipiliih lainnya khususnya Allah memilih kita untuk memasuki tahun yang baru ini.

Tidak semua orang dipersilakanNya masuk apalagi menjalani tahun 2011 bukan? Dan ketika saya dan anda, kita diantar oleh Allah memasuki Tahun Baru 2011, kita dipilih sehingga dan untuk mengucap syukur.

Ucapan syukur karena telah dipilihNya itu menurut Rasul Paulus yang berkirim surat ke Jemaat Efesus, berwujud hidup yang kudus dan tidak bercacat di hadapanNya (ayat 4). Ini kehendak, rancangan sekaligus dan tujuan Allah memilih kita menjadi anak-anakNya.

Mari masuki dan berikutnya jalani tahun yang baru sebagai manusia yang telah ditebus, dan setia berjuang menjadi puji-pujian bagi kemuliaan Allah di keseharian. Sehingga di dalam Tuhan Yesus Kristus, Juruselamat kita, dengan iman percaya menapaki tiap detik, tiap hari bahkan tiap minggu dan bulan-bulan baru ke depan dengan semangat yang baru pula. Optimis dan pembaruan dari hati juga pikiran berbentuk tingkah laku dan gaya hidup baru yang dimeteraikan dengan kasih dalam urapan Roh Kudus (baca kembali ayat 11-14).

Meninggalkan tahun kemarin dengan meninggalkan segala yang buruk. Semua kita dipilihNya memasuki lembaran waktu yang baru, tahun yang baru sebagai keluarga yang bersyukur dalam segala hal. Apalagi sebagai umat Allah yang terus-menerus meningkatkan pelayanan kepadaNya berwujud pelayanan Kasih bagi sesama. Juga sebagai bagian yang tidak terlepas dari bangsa dan rakyat Indonesia yang masih penuh dengan carut marut kehidupan, hingga sampai ke kebersamaan dan pergumulan kehidupan manusia di dunia.

Kita dipilih dan Allah memilih kita, untuk ada di sini, sekarang ini dengan semangat hidup lebih kudus, lebih tak bercacat. Lebih baik dari waktu yang kemarin. Lebih bawa damai dan penuh kasih, diperbarui dan membarui hidup kehidupan bersama.

Selamat Tahun Baru 2011!. Amin.



(tulisan & Foto: Lusindo Tobing)

refleksi minggu keempat Desember 2010


MENYATAKAN

Yohanes 1: 10-18

Tuhan Yesus Kristus sudah lahir, konteks perikop kali ini mengkonfirmasi ulang hal tersebut. Ia datang kepada milik kepunyaanNya tetapi Ia ditolak! Namun semua orang yang menerimaNya diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah. Yaitu mereka yang percaya, yang memiliki iman dalam namaNya. Yang diperanakkan oleh Allah sendiri. (baca ulang ayat 10-13).

Sudahkah dan masihkan terus Tuhan Yesus hadir dan ada? Mesias Juruselamat hadir dan ada seterusnya dalam hati dan kehidupan melalui kita, bagi sesama?
Mari meneladankan Yohanes Pembaptis yang tiada lelah berseru-seru memberi kesaksian tentang Tuhan Yesus. “Inilah Dia, yang kumaksudkan.. Kemudian daripadaku akan datang dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” (ayat 15).

Dengan meninggalkan segala kekisruhan, kejahatan, pertikaian, kekerasan, kerusuhan dan berbagai bencana ditahun ini. Yang akan tetap mungkin terjadi lagi dan lagi di tahun baru, 2011 di depan. Mari tanggalkan segala yang tidak berkenaan dengan kasih, dan jauh dari kebenaran Allah di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Segala kesombongan, kemunafikan, iri hati, keras hati, dendam, marah kebencian dan sebagainya dibersihkan dengan urapan Roh Allah Yang Kudus perlahan dalam proses keseharian ke depan, hingga habis.

Nyatakan kasih kedamaian di waktu-waktu yang baru yang dianugerahkanNya kepada kita di tahun yang baru ini. Berjuanglah juga menyatakan kebenaran, keadilan juga kebersamaan dan kerjasama memperjuangkan dan memberlakukan hal-hal yang lebih baik. Bersama keluarga kita masing-masing. Juga kebersamaan di aras jemaat, ingat dan mari perjuangkan Tema Pelayanan Tahun kita GKJN 2011: “Bertumbuh dan Berbuah Bersama Jemaat.” Hanya untuk kemuliaanNya. Lalu teruslah meluas menyatakan keselamatan dan kasih Tuhan Yesus di berbagai aspek hidup bertetangga, bermasyarakat juga bagi seluruh rakyat Indonesia dan hingga seantero penghuni bumi.

Selamat menjelang untuk memasuki Tahun Baru saudara-saudara, Tahun baru yang penuh upaya baru untuk menyatakan kemurahan Allah. Tahun di mana kita sebagai umat jemaatNya, akan semakin diberkati untuk dipakai menjadi saluran kasih dan kebenaranNya bagi kehidupan baru bersama yang jauh lebih baik.

Selamat menyongsong Tahun Baru 2011! Amin.




(tulisan & foto: Lusindo Tobing)

refleksi minggu ketiga Desember 2010


ALLAH MENYERTAI KITA

Matius 1: 18-25


Sangat istimewa perikop kita kali ini, Lembaga Alkitab Indonesia singkat jelas memberi judul perikop “Kelahiran Yesus Kristus”. Ya, karena memang isi menjabarkan perihal kedatangan Allah mellaui proses kelahiran seorang bayi yang kudus.

Dikisahkan tentang Maria yang bertunangan dengan Yusuf. Ternyata Maria mengandung dari Roh Kudus. Maria dan Yusuf memang ditentukan Allah untuk menjadi orang tua secara manusia dari bayi kudus itu. Nah, dari sini penyertaan Allah semakin ditampakkan, ketika Maria kelu hati, bingung dan bahkan takut akan kandungannya. Allah melalui Gabriel malaikat utusanNya berfirman agar Maria tidak takut dan tidak ragu. Demikian pula yang terjadi dengan Yusuf, Allah menyertai mereka melalui mimpi dengan menjelaskan bahkan memberi dorongan semangat agar tidak undur dari rancangan Allah. “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu. Sebab anak dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka.” (ayat 20-21).

Yang sangat menarik bila kita mengingat ulang hal ini sudah dinubuatkan oleh beberapa Nabi di konteks Perjanjian Lama (baca mis:Yesaya 7: 14). Bahkan sampai kepada hal-hal yang spesifik detail misalnya seorang perempuan muda akan mengandung, anak yang lahir itu berjenis kelamin laki-laki, dari keturunan Daud, Dia Imanuel, dsbnya. Semuanya itu terjadi dan berlaku, penyertaanNya ya dan amin!

Bahkan sebenarnya penyertaan Allah memang sudah sejak dulu, bahkan sejak awal mula dunia dijadikan, hingga sejak nubuatan-nubuatan tentang Mesias – Sang Juruselamat Dunia-, hingga digenapiNya dengan kedatanganNya sendiri ke dunia.

KedatanganNya dalam diri bayi kudus Tuhan Yesus Kristus adalah wujud bukti sekaligus konfirmasi ulang penyertaanNya atas dunia, atas semua umat manusia. Bahkan khususnya pemastian ulang cinta kasih sayang Allah kepada kita semua, kasihNya yang tidak pernah tertidur, tidak pernah bersyarat.

Inilah yang membuat kita terus-menerus akan dipulihkan seperti penyertaanNya yang memulihkan Maria-Yusuf. Kembali yakin, percaya dan bersemangat juga selalu bersukacita melakukan Firman Allah. Dengan tidak berhenti membagikan KasihNya bagi sesama, tiap hari, tiap waktu di keadaan bagaimanapun sulitnya.

Sebab Kasih Allah yang selalu baru dan tidak berkeseduhan, hingga kini bahkan sampai selama-lamanya selalu dianugerahkan. Kepada anda dan saya, kepada kita, dan diantara kita untuk semua umat manusia. Sehingga keadaan hidup kehidupanboleh makin baik, ada damai di tengah pertentangan bahkan terus ada pengampunan, iman bertumbuh dan pengharapan terang sejati.

Karena selalu, Allah menyertai kita! Amin.




(tulisan & foto: Lusindo Tobing)

16 Desember 2010

refleksi minggu kedua Desember 2010


LEBIH BESAR

Matius 11: 2-11


Ada beberapa pihak yg mengira bagian perikop ini menguakkan pertentangan antara Yohanes Pembaptis dengan Tuhan Yesus..
Tidak! Bukan, itu salah besar!

Penulis Matius justru dengan sangat gamblang memperlihatkan “kerjasama” di antara kedua tokoh tersebut.
Tanpa harus Yohanes Pembaptis mencuri kemuliaan Tuhan Yesus
Dan sebaliknya
Tanpa harus Tuhan Yesus merendahkan meremehkan Yohanes Pembaptis

Karena justru yang terjadi adalah sebaliknya..
Yohanes Pembaptis ditempatkan baik dan posisinya yg besar.

Kita menyerap sebuah refleksi dari perkataan dua tokoh tsb di sini
“Engkaukah yg akan datang itu..?” atau dgn kalimat lain “Engkaukah Mesias itu?” kalimat ini diungkapkan Yohanes (di ayat 3)
Lalu ungkap jawab Tuhan Yesus (di ayat 4), ”Katakanlah apa yg kamu dengar dan kamu lihat: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.”
Telanlah teman2.. serap dan nikmatilah ungkapan2 mereka berdua
Bukankah murid2 dan semua orang yang mendengar tek-tok “dialog” ini akan kaya
Ya, bertambah kaya dalam iman percaya

Dan bukankah kita juga, lebih memnatapkan iman kita bahwa: Yes, Dia benar sungguh adalah Mesias Juruselamat manusia!

Setelah penjabaran jawaban dengan menampilkan hal2 real nyata tersebut
Tuhan Yesus menegaskan ulang tentang pentingnya percaya hanya kepada Yang Lebih Besar!
Percaya hanya kepada Tuhan saja.

“Untuk apa kamu ke sana ke mari.. mencari-cari mana dan apakah yg sebenarnya sesungguhnya..” (ayat 7-9) demikian kurang-lebih hardikan namun sekaligus pengingatan Tuhan Yesus yg dicatat definitif oleh penulis Matius utk kita
Sebab tentang Yohanes Pembaptis yg besar tugas fungsinya di mata Tuhan, sesungguhnya telah tertulis dalam Kitab Suci dan dinubuatkan: “Lihatlah, Aku menyuruh utusanKu mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalanMu di hadapanMu.” (ayat 10)

Namun paling sangat terasa soal “besar” dan bahkan soal “lebih besar” adalah di ayat terakhir (ayat 11)
“sesungguhnya di antar mereka yg dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yg lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yg terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.”

Jadi,
Yohanes Pembaptis itu BESAR
Ya, besar dengan semua tugasnya membuka jalan, mendahului eklahiran Mesias, mempersiapkan jalan untuk Allah dalam Tuhan Yesus Kristus hadir di atas muka bumi.
Tetapi.. Tuhan Yesus Kristus adalah jaauhhhh LEEBIIIHHH BEESSAAAARRR!

Mari datang hanya kepada Kristus saja!

Boleh belajar dari berbagai hal, ajaran maupun nara2 sumber manusia atau tokoh
Pilih mereka yg adalah besar. Dalam berbagai teladan, karakter dan berbagai segi hidup kehidupan, studi, pekerjaan maupun pelayanan mereka, sebagai sumber2 berbagai nilai2 ilmu juga Iman.
Namun ingat..: Dari semua yg besar-besar itu ada yang jauh lebih besar!
Bahkan terbesar! Siapa Dia.. Yups tentu Tuhan Yesus Kristus.

Itulah mengapa dan kita semakin mengerti kini, Yohanes Pembaptis sampai pernah berkata, “membuka tali kasutNya pun.. aku tidak layak”

Kita -saya dan anda- atau manusia siapapun di dunia bisa saja diberi cap atau label “BESAR” / hebat, kuat, pintar, kaya, berhikmat, jago, sehat, keren, top, dstnya..
Yohanes pembaptis tentu di atas kita

Namun sekali lagi, jangan terpukau atau datang hanya ke si pembuka jalanNya
Atau manusia lain yg Besar
Tetapi datanglah hanya kepada Tuhan Yesus Kristus
Hanya hidup di dalamNya, berdoa, berkomunikasi, setia taat menemukan kehendak Allah atas kita masing2, berserah dan hanya dariNya kita diberkati.. dianugrahkan Kasih Keselamatan dari si Yang Lebih Besar!
Penuh damai di bumi dan kepastian Sorgawi Kekal
Yakni: Tuhan Yesus Kristus, Sang Juruselamat! :)




Tulisan & Foto: Lusindo Tobing.

10 Desember 2010

refleksi minggu pertama Desember 2010


SUDAH DEKAT

Matius 3: 1-6


“Sudah dekat” di sini adalah menyiapkan jalan
Jalan bagi siapa? Tentu bagi Tuhan

Yohanes Pembaptis mengajak semua orang berbalik kepada Allah
Dan bersiap menyambut sang Juruselamat, Mesias!
Kata2 teriakannya (ayat 2), “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”

Dengan meruntut kepada nubuatan dari Tuhan melalui Nadi Yesaya
Jelas semakin jelas bahwa Dia yg sudah dekat itu adalah Tuhan Yesus Kristus
Penulis Matius menggunakan istilah Kerajaan Sorga
Sedangkan penulis2 Injil lainnya memakai istilah Kerajaan Allah.

Yang jalanNya ke dunia disiapkan oleh Yohanes Pembaptis
“Ada suara orang yg berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagiNya.” (Yesaya 40: 3)
Dan ketika mereka bertemu (baca lagi Matius 3: 13-15), Tuhan Yesus sendiri menegaskan hal itu kembali
Ketika Dia datang dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya
Yohanes berusaha mencegah Dia, katanya: Akulah yang perlu dibaptis olehMu, dan Engkau yang datang kepadaku? Lalu Yesus menjawab, kataNya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.”
Dan Yohanes Pembaptis pun menurutiNya.

Jadi “sudah dekat” selain bicara soal waktu yg memang sudah mendekati
Juga lokasi atau posisi yg kian dekat
Tetapi yang jauuhhh lebih dalam makna refleksinya adalah: Kesiapan kita
Kesiapan hati kita tepatnya
Kesiapan hati untuk mempersilakan Dia yg benar2 hadir dan bertakhta berkuasa..!

Sudahkah teman2?

Sudahkah hati kita menjadi seperti palungan yg berisi jerami2 yg bersih?
Dan tidak doyong atau rapuh?

Mari, persiapkan
Bersihkan jerami-jerami yg kotor, bersihkan dan bahkan ganti
Dengan jerami2 yg bersih: Iman, Pengharapan dan Kasih
Dan kuat di dalam Kasih Penyelamatan Tuhan Yesus Kristus

Atau juga seperti Kristus dibaptis oleh Yohanes pembaptis
“Dibaptis” maksudnya mau dibersihkan dari berbagai noda
Noda kesombongan, ego, iri hati, kerendahan diri terlampau, bahkan marah dan dendam
Dibersihkan jernih bening dengan air pembasuhanNya
Air Kasih penyelamatan Allah atas dunia khususnya segenap umat manusia

Mari mau dibersihkan
Dilayakkan oleh kuasa Roh Allah Yg Kudus

Di ayat 6 eksplisit mengingatkan kita lagi soal baptisan kita masing2
“Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan”
Ada pengakuan dosa
Tepatnya ada kesungguhan utk bertobat!

Mau mengubah sikap hati juga sikap hidup
Terhadap diri sendiri
Terhadap Allah
Juga terhadap sesama manusia

Semua proses inilah yg dimaksud dengan kesadaran “sudah dekat” itu
Proses mau lebih dekat dengan Tuhan
Namun didasari sebuah keyakinan bahwa Dia sudah dekat dengan kita
Seperti seekor anak ikan yg bertanya di manakah laut itu
Dan ibunya menjawab bahwa laut itu dekat
Sedekat apa?
Tentu sedekat kehidupan dan keberadaan kita
Ada di luar tetapi juga ada di dalam kita
Tinggal kita-lah yg mau sungguh2 mempersilakan Dia menguasai hidup kehidupan
Bahkan segenap tubuh di sepanjang durasi kehidupan selama-lamanya!
Andalan kita satu2nya
Iman kita
Pengharapan kita
Bahkan Kasih kita ada karena, dalam dan untuk Dia
Allah alam semesta
Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus, Sang Juruselamat
Allah Roh Kudus

Alfa sampai Omega

Allah yg selalu dekat dengan kita kapapnpun di manapun dan bagaimanapun!

Sekarang.. Sudah dekatkah kita?
Kita dengan Tuhan?
Yg berwujud kita mau lebih dekat dengan sesama?

Mari jawab dan berdoa juga berusaha nyata sungguh2..:

Sudah dekat! :)



tulisan & foto: Lusindo Tobing

30 November 2010

refleksi minggu keempat November 2010


DUNIA YG BERDAMAI

Yesaya 11: 1-10

Pemberian judul “Raja Damai yg akan datang”
oleh Lembaga Alkitab Indonesia utk perikop kita kali ini, sangatlah tepat!
Tepat karena konteks Firman ini memang ditujukan utk sebuah pemulihan
Utk sebuh pengharapan
Dan utk sebuah motivasi semangat terus menjalani kehidupan dalamNya

Tetapi akan jauh lebih tepat lagi..
Jika kita mengaktualisasikannya di kehidupan sekarang, kini!
Dgn apa?
Dengan mau berdamai tentunya.

Jadi, kedatangan Raja Damai kita sambut dgn perjuangan mau mampu berdamai
Berdamai lebih.. lagi!
Kita sambut dgn sebaik2nya dan sesungguh2nya Kasih kehadiranNya
Dengan berdamai berdamai berdamai..

Berdamai dalam urapan Roh Allah
Berdamai dengan diri sendiri
Dan
Berdamai dengan sesama juga lingkungan kehidupan


Tentang kedatangan Raja Damai itu
Nabi Yesaya dipakai Tuhan mengingatkan kita ulang secara spiritual, “Roh Tuhan aka nada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan Tuhan..” (ayat 2-3)
Upaya dan proses berkelanjutan utk dicuci, ditahirkan dan menjaga waspada dengan tulus hidup dalam urapan Roh. Roh Raja Damai.. Roh Allah!

Sehingga kelanjutan jadi jelas ketika dihubungkan dengan hal “ikat pinggang” di ayat 5
Ikat pinggang di sini refleksinya adalah tiap kita punya bagiannya sendiri-sendiri
Tiap kita ada ukurannya sendiri ditentukan Tuhan
Namun yg jauh lebih penting ad pemaknaan bahwa tiap kita ditantang setia, taat!
“ia tidak akan menyimpang dari kebenaran!..” , yg bisa mengecap damai adalah mereka
Yang mau bersedia terus menerus berdamai..
Dengan siapapun dan di manapun, dimulai sekali lagi berdamai dgn diri sendiri
Sehingga muncullah damai sejati Allah.., damai yang mengatasi akal pikiran kita
Damai di hati, bersyukur di hati dan bersukacita menikmati hari2 dari hati penuh damai..

Sehingga akan banyak orang mencari kita, menanti-nantikan kita
Jangan gr (baca: ge er / gede rasa) dulu.. tepatnya akan lebih banyak orang yang langsung
Tidak langsung menerima damai itu dari Allah, melalui saya dan anda.
Semakin banyak orang yg ingin mengetahui Dia
Belajar akan KasihNya
Rindu lebih dalam mengenal Sang Raja Damai
Dengan pengharapan utk hidup dalam damai di tengah2 ketidakdamaian yg menggila
“.. sebab seluruh bumi penuh pengenalan akan Tuhan.. dia akan dicari oleh suku-suku bangsa..” (ayat 9-10)
Merindukan damai dgn hati datang ke arahNya, menyongsong menyambut Sang Raja Damai itu.


Ini semua akan menghasilkan sebuah tujuan luhur bersama tadi
Tuhan memberitakannya melalui Yesaya, ”Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama.”
Hampir ketidakniscayaan
Namun ini adalah sebuah pengharapan, pengharapan yg kuat.
Untuk kita perjuangkan lakukan wujudkan di dunia kita sekarang, hidup saya dan anda kini!
Membuktikan kewibawaan Damai
Bahwa apapun akan takluk di bawah kaki Sang Raja Damai
Kedamaian menang
Kedamaian yg bertakhta
Kedamaian mengalahkan, menyingkirkan bahkan menghabiskan segala sesuatu yg rebut, ribet, buruk dan mengacau menggangu gugat
Kedamaian yg menghalau kuasa kegelapan
Kedamaian kini terus menerus.. menuju kedamaian abadi kekal: Damai Sempurna Sorgawi
Yg sudah bisa kita kecap sedari sekarang, di sini, di kehidupan dunia kita kini

Dalam Dia berdamai
Hati kita sendiri yg mau sungguh berdamai
Juga khususnya nda lelah2 berjuang berdamai dgn sesama juga seantero kehidupan kita

Dunia yg berdamai.. :)



tulisan & foto: lusindo tobing