28 Agustus 2012

refleksi minggu kedua Agustus 2012


ADA TUHAN DI TENGAH KEPUTUSASAAN

1 Raja-raja 19: 5-7
Mazmur 34: 7-8
Yohanes 6: 35-61
Efesus 4:25 - 5:2





                Ingat Nabi Elia yang ditolong Allah diberi makanan (juga minuman) disaat-saat lapar karena menyelamatkan diri dan juga saat mengalami kemunduran motivasi pelayanannya. Bahkan rawan menjemput keputusasaan. Sesungguhnya bukan sekadar kebutuhan perut (baca: jasmani) yang dicukupkan, namun tentu ada banyak pesan dan ajaranNya kepada Elia sendiri, tetapi juga kepada kita.Salah satunya adalah:
Jangan ambil keputusan untuk hidup dalam keputusasaan.

Ya, keputusasaan jangan pernah dijadikan keputusan. Walau putus asa adalah pilihan yang paling gampang bahkan paling banyak diputuskan atau diambil. Sekali lagi, jangan putus asa! Karena apa? Karena Tuhan Allah sendiri tidak berkenan untuk kita jatuh putus asa. Melalui Firman juga tindakanNya –salah satunya tadi melalui Nabi Elia-  juga kepada semua mereka yang percaya dan terlebih yang melayaniNya,  tidak diperkenankanNya untuk kita lemah iman, pasif dan kalah terhadap tantangan kehidupan.  Coba  baca lagi 1 Raja-raja 19: 5-7, jelas Allah ingin agar Elia juga kita semua untuk sungguh percaya dan berani meneruskan perjalanan hidup, tugas pekerjaan dan pelayanan dengan kekuatanNya. Jangan berhenti bersaksi. Tidak boleh gentar dan layu dalam iman kepada Kasih. Dan sesungguhnya kita dilarang untuk menyerah, apalagi atas sesuatu yang buruk, jahat dan tidak diperkenankan Tuhan.  Keputusasaan bukan keputusan!

Yang lebih indah lagi, bila kita cermati keberadaan hidup kehidupan kita manusia. Allah justru ada di tiap kerawanan keputusasaan tersebut. Bahkan bisa kita katakan, Allah justru lebih ada dan lebih nyata terasa justru di tengah-tengah situasi yang menghimpit dan sangat menggoda kita untuk nyerah kalah.

Ingatlah bahwa Allah Ada. Ya, Dia selalu ada di dalam berbagai fenomena dan kejadian. Di tiap bagian fase kehidupan dan perjalanan kehidupan kita.  Allah adalah Allah, Dia selalu hadir, selalu aktif mencintai mengasihi dan tidak tertidur bahkan tidak pernah gagal. Rancangannya untuk berproses menyelamatkan dunia khususnya kita umat manusia, tidak pernah gagal. Tidak ada produk gagal Allah. Semua ya. Semua berhasil. Rancangannya tidak bisa digagalkan. Tidak bisa diperlambat atau ditahan-tahan, oleh siapapun dan bagaimanapun. Jadi, mengapa kita harus menjadikan putus asa sebagai salah satu calon keputusan kita? Jangan! Jangan putus asa ketika kita sungguh beriman kepadaNya.  Walau di tengah penindasan bagaimanapun dan kesesakan yang besar. Allah ada. Andalkan selalu Dia. Kembali dulu pertama kali selalu kepada Allah. Takutlah akan Dia. Sembah puji dan bersyukur atas kebaikan kemurahan berkat-berkatNya. Yakini Allah selalu ada dan ada selalu Allah. Lalu persilakan Tuhan Allah yang bekerja menguasai hidup kehidupan kita. Mengatasi, memanage dan memberi solusi di tiap pergumulan dan perjuangan. Allah ada, ada Allah.

 Pemazmur di Mazmur 34: 7-8 dengan indah menandaskan, “Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya. Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.” Coba perhatikan, MalaikatNya berkemah di sekeliling kita. Indah sekali dan sangat menguatkan kita! Dan minimal ada dua kata yang menarik tadi,  “menyelamatkan” dan “meluputkan”.  Setelah membuka beberapa bahan dan kajian, saya mendapatkan hal yang menarik lebih lagi atas dua kata ini. Rupanya, kata “menyelamatkan” bahkan juga berarti Allah sungguh fokus akan Cinta KasihNya dan Penjagaan PembimbinganNya (TuntunanNya) kepada kita. Allah tidak pernah berhenti mengasihi kita, keluarga kita dan setiap orang. Apa yang baik saja yang dicurahkan dan diberikan kepada kita semua. Dan kata yang kedua, yakni “meluputkan” sungguh menjadi pemahaman juga pencerahan baru karena punya arti Allah selalu rindu unuk kita dipindahkanNya dari satu keadaan yang tidak baik ke keadaan yang baik. Dengan kekuatanNya, Dia selalu akan berusaha membuat kita beralih dari yang buruk ke indah, dari jahat ke yang baik dan jika sudah baik dan indah maka akan dibuatNya naik lagi bepindah ke keadaan yang lebih dan lebihhh baik indah. Di tiap hari, tiap waktu kehidupan kita. Sampai kapan? Tentu sampai akhir hidup kita bahkan kerinduanNya kita akan kembali bersamaNya. Di kemuliaan abadi sorga.

              Sehingga tepat ketika Tuhan Yesus Kristus sendiri menyatakan lewat lisanNya, “Akulah Roti Hidup” (Yohanes 6: 35-61). Siapa yang mau datang kepadaNya, mendekat dalam hubungan spiritual dan kehidupan kesehariannya, maka akan hidup. Tidak mati lagi. Artinya memiliki kedamaian sorgawi, tenangan dan sejahtera yang illahi dari Tuhan selama hidup di dunia. Dan bahkan seterusnya ada kepastian keselamatan dan kesempurnaan keselamatan Sorga. Tidak akan lapar lagi, tidak akan haus lagi. Tidak akan ada tangis dan penderitaan lagi, tidak ada duka sengsara lagi nanti di Sorga abadi itu. Tetapi juga kini, sekarang, selagi ada berpijak di atas bumi, maka kita bersama mengecap kedamaian Allah. Yang membuat kita mampu mengalahkan kuasa buruk dan jahat. Bahkan bisa benar-benar berbahagia, lega sukacita dan pasti dalam melangkah.  Asal dan karena mau hidup makan “roti hidup”.  Menjalani hidup dengan roti hidup, hidup di dalam Kuasa Allah saja.

                 Dan Allah ingin kita membagikan itu semua. Membagikan pengetahuan bahwa Allah ada dan  selalu ada Allah. Dan menshare semangat hidup kepada sesama. Bagi siapapun juga, khususnya bagi orang-orang yang sedang menuju bahkan mungkin sedang mengalami keputusasaan. Mari untuk terakhir kita baca secara penuh dan maknai Efesus 4:25 - 5:2. Betapa segala perintahNya adalah untuk memberlakukan yang benar dan baik, bagi sesama. Satu dengan yang lainnya.

                Mari, jangan berhenti untuk diubah oleh Tuhan untuk terus berpindah dari keburukan ke kebaikan. Atau jika memang sudah baik maka jadilah lebih baik lagi. Untuk sesama dan bagi kemuliaanNya. Ayo jadi sosok yang gampang diajak dihubungi dan bekerjasama. Selalu siap bergandengan tangan dan hati, siap membantu dan menolong orang lain. Membagikan kekuatan dan mendampingi yang lebih lemah. Memberi telinga untuk mendengar dengan hati tulus. Memberi perhatian dan permakluman. Dan bahkan siap melayani dengan nyata. Dalam bentuk yang paling sederhana hingga besar. Sehingga orang-orang di dekat kita boleh tersenyum damai karena kehadiran kita. Ada jalan keluar saat bersama kita. Bahkan diri kita boleh member dan menjadi solusi tersebut. Bagaimanapun dan di manapun juga kapanpun, senang untuk membuat sesama senang. Bahagia karena membahagiakan orang lain. Ada encouragement, yang sesungguhnya berisi juga berbentuk membagikan doa, pujian, juga inspirasi dan bahkan keteladanan ketegaran iman juga sikap yang baik. Sehingga dunia sedikit maupun banyak, tidak menuju kepada keputusasaan. Atau jikalaupun sedang dan sudah, dengan kekuatan Allah saja, dalam terang KasihNya, kita dipakai jadi alat untuk membawa terang. Juga menggarami situasional dan kondisional yang hamper basi. Dan kehidupan kita bersama boleh menuju, hanya menuju kepada kebahagiaan sukacita, Damai Allah. :)




tulisan dan foto: Lusindo Tobing.

31 Juli 2012

refleksi minggu pertama Agustus 2012



BERTOBATLAH BANGSAKU DAN BERHARAPLAH KEPADA-NYA!


Mazmur 51:1-12





Ini (mazmur) ajaran sekaligus ajakan untuk diri sendiri, sesungguhnya. Tetapi juga secara lebih meluas, ini ajaran dan ajakan juga untuk sesama dan segenap rakyat juga bangsa Indonesia.

Bangsaku yang negaranya, oleh pihak luar bahkan dirinya sendiri (beberapa dari kita sebagai anak bangsa), dijuluki sebagai “Negara yang gagal”. Gagal karena demikian banyak korupsi!
Yang seterusnya berlanjut kepada sangat lambannya percepatan pendidikan dibandingkan pertambahan jumlah penduduknya bahkan dengan kecepatan tantangan dunia dan perkembangan zaman. Yang juga sangat merusak pondasi-pondasi dasar ekonomi dan apalagi berkembangannya ekonomi (dari negara berkembang maunya ke negara maju?), sehingga setelah berpuluh-puluh tahun tampaknya masih ketinggalan dan tertinggal dekat atau jauh dari bangsa-bangsa tetangga. Apalagi Negara dan bangsa lainnya yang sudah lebih dulu maju! Hal-hal sewarna dengan itu tentu juga melanda kedaulatan, kekuatan berdiplomasi, kepastian keamanan rakyat Indonesia di dalam negeri apalagi yang di di luar negeri, intoleransi antar pemeluk agama dan kepercayaan, pertikaian antar kampung dan kelompok-kelompok, maraknya berbagai kebohongan, tipu daya dan penipuan, dengan bentuk kejahatan dan kriminalitas bentuk baru yang menambah berbagai kriminalitas yang masih terus ada sejak lama, kekurangan tersedianya atau makin mahalnya bahan bakar, sembako (sembilan bahan pokok), makin derasnya impor bahan baku, barang-barang dibandingkan ekspor, dan  dimensi-dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara lainnya.

Mari jadikan kenyataan real (nyata) bangsa kita sekarang menjadi tautan refleksi yang kuat untuk tiap hati juga pribadi kita dibentuk setiap hari oleh Tuhan. Mungkin dimulai tiap pagi kita. Karena boleh jadi, mazmur ini digunakan para imam saat mempersiapkan korban pagi hari atau oleh perseorangan saat mempersiapkan diri untuk beribadah. Seperti doa yang kerap dilakukan di pagi hari. Doa saat memulai hari-hari pemberian Tuhan.

Jika kita telusuri lebih jauh dan mendalam, maka terasa ada suasana perselisihan antara yang baik dan jahat, antara orang benar dengan orang fasik, sebagaimana sering kali dijumpai di dalam kitab ini. Situasinya mirip dengan pasal 3 dan pasal 4 karena di dalam keduanya ada musuh-musuh yang berbahaya mengelilingi. Bahkan dalam ayat-ayatnya sangat terasa kontras ganda; sikap orang benar dan orang fasik terhadap dosa dan penyembahan dikontraskan, demikian juga tanggapan berbeda Allah terhadap kedua kelompok itu. Pemazmur sadar bahwa Allah tidak mungkin membiarkan dosa dan tinggal bersama dengan orang jahat. Dan Allah tidak akan membiarkan pembual untuk berdiri di hadirat-Nya. Allah memandang jijik kepada orang yang melakukan kejahatan. Akhir dari hidup orang yang berkata bohong adalah pemusnahan menyeluruh, sedangkan para penumpah darah dan penipu merupakan kekejian yang dibenci Allah. Pada saat orang-orang fasik ini penuh pengkhianatan, pemazmur tersungkur di hadapan Allah memohon tuntunan ilahi.


Ajakan pemazmur menjadi kian jelas, bukan untuk menghakimi dan saling menuduh mencari siapa yang bias dipersalahkan. Tetapi pemazmur meneladankan. Ya, meneladankan untuk mau sujud malu dating ke hadapan Allah (setiap pagi) untuk bertobat. Memohon ampun dan berharap pemulihan yang dari Tuhan. Karena keyakinannya akan murka Allah pasti berlaku untuk siapapun yang memelihara kebiasaan hidup yang bohong dan jahat dan bergelimang dengan dosa.  “Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, TUHAN jijik melihat penumpah darah dan penipu” (ayat 6). Sebab kejahatan bukan hal yang abstrak.  Bukan (hanya) pembunuh, tetapi (juga) penindas, pemeras, penganiaya, orang fasik, penipu, pemecahbelah persatuan bangsa, pengkhianat bangsa dan sebagainya .Allah bukan hanya membenci dosa, tetapi sampai batas tertentu Ia juga membenci mereka yang melakukan kejahatan. Pada pihak lain, Alkitab juga menyatakan Allah sebagai Yang mengasihi orang berdosa, menjangkau mereka dalam belas kasihan dan kemurahan-Nya, dan berusaha untuk menebus mereka dari dosa melalui salib Kristus (Yoh 3:16).

Sedangkan di ayat 7, jelas ditegaskan pemazmur dengan menggunakan Kata Ibrani (hesed) yang diterjemahkan dengan "kasih setia" mengungkapkan kesetiakawanan yang berdasarkan hubungan alamiah dan wajar, keluarga, famili, suku. Kemudian kata itu dipakai untuk mengungkapkan kesetiakawanan antara umat Israel dan Allah berdasarkan perjanjian. Umat Israel dianggap sebagai isteri dan anak Tuhan. Akhirnya kata itu mengungkapkan kesetiakawanan antara Allah dan masing-masing orang. Di pihak Allah "kasih setia" mengandung kesetiaan pada janji, kasih dan rahmat, dan di pihak manusia "hesed" berarti  kesetiaan dan ketaatan untuk percaya, Iman.

Mari menjawab ajaran dan ajakan ini. Ajaran dan ajakan untuk melakukan pertobatan tiap kita. Juga pertobatan sebagai rakyat dan bangsa Indonesia. Sehingga kita akan menjadi benar-benar “merah” (berani karena benar, terlebih di dalam KebenaranNya) dan benar-benar “putih” (dibersihkan, ditahirkan dan dilayakkan untuk terus berharap perbaikan-perbaikanNya nyata melalui kita dan bangsa kita!). Pemazmur mengajak kita juga supaya memohon kepada Allah untuk memperhatikan keadilanNya dengan "menuntun" pendoa, artinya mengatur hidupnya dan bangsanya sehingga keadilan Tuhan menjadi nyata. Dan dalam dilindungiNya, maka orang-orang benar dimampukan “melawan bahkan mengalahkan” orang fasik yang melawan pendoa. Melawan dan mengalahkan kebiasaan buruk/dosa, di setiap hari kita. Itulah jalan yang "diratakan" Allah. (baca lagi ayat 8)

Sehingga makin jelas di ayat 10, ketika permohonan-permohonan itu perlu ditempatkan pada latar belakang keyakinan orang Israel di zaman Perjanjian Lama yang belum kenal akan hidup kekal (kebangkitan). Di konteks mazmur ini, Allah akan mengganjar dan membalas manusia selama hidupnya di dunia. Kalau ditinjau demikian maka permohonan-permohonan itu mengungkapkan kerinduan wajar hati manusia akan keadilan yang dijamin Allah yang adil. Akibat pengalaman hidup yang kerap kali mengecewakan dan berkat perkembangan wahyu ilahi, paham tsb. ternyata tidak tahan uji, tetapi semakin diperhalus dan dimurnikan. Akhirnya dimengerti bahwa cara Allah mempertahankan keadilan tetap merupakan suatu rahasia yang tidak tertembus (bdk kitab Ayub). Tetapi Perjanjian Baru, Mat 5:43-48 mengajak supaya orang dalam kasih melupakan dirinya sendiri. Setelah dibersihkan demikian dan perasaan dongkol pribadi diambil dari padanya, maka Mazmur-mazmur itu bagi tiap kita yang percaya, tetap mengungkapkan kerinduan dan hasrat akan kuasa dan keadilanNya yang sama dalam dunia secara universal. Khususnya juga di negeri dan bangsa kita, tempat kuasa-kuasa jahat masih saja merajalela.

Namun yang tetap berpengharapan. Walau seburuk apapun dan bagaimanapun, harus mampu berkata “semua keadaan ini sesungguhnya baik dan pasti akan jadi lebih baik lagi” untuk semua. Semua golongan, kelompok, bahkan untuk semua agama, suku dan tiap pribadi rakyat bangsa Indonesia. Asal tetap ada orang-orang yang mengandalkan Allah. Manusia-manusia Indonesia yang mau takut dan takluk kepada Allah. Mau lebih bersyukur karena anugerahNya yang besar kepada Indonesia yang memang sesungguh-sungguhnya sangat kaya! Dengan setia saling berbagi, bergotong-royong/saling bantu, membawa kelegaan, damai, sukacita dari hal paling sederhana sekalipun di keseharian. Dimulai di rumah kita masing-masing, dengan tetangga lingkungan, di jalanan, di pasar atau pusat perbelanjaan, di sekolah, kampus, atau juga di tempat kita bekerja tiap hari, terus-menerus tidak ada habisnya. Maka akan membuat Indonesia boleh menjadi tanah air juga bangsa yang lebih berpengharapan. Menjadi lebih layak, bahkan jauh lebih baik dan indah untuk jadi tempat hidup bersama. Amin.


tulisan & foto: Lusindo Tobing.

30 Juli 2012

Terpuji dan terima kasih Tuhan Yesus Kristus..

Kini Blog aku (Lusindo Tobing) ini akan berlanjut kembali!  
Setelah kurang-lebih 6 bulan berkonsentrasi menyiapkan menyusun 2 Buku aku yang baru:
1. Blog to Book (kumpulan renungan-refleksi di Blog Lusindo Tobing ini)
2. Chocolate for The Soul (kumpulan status di Halaman facebook aku)

Dan hanya dengan berkat-Nya, catett.. direncanakan akan terbit 12 Februari 2013 (Ulangtahun ku ke-40).

dan inilah sedikit "bocoran" Draft Cover dan Isi Buku tsb..:









06 Maret 2012

refleksi minggu ketiga desember 2011







KUJAWAB YA

Lukas 1: 26-38
                
              Tuhan selalu berkata, menyapa bahkan memanggil kita. Tiap hari, tiap waktu. Untuk lebih dekat dan kita bisa lebih akrab denganNya. Dengan berbagai cara dan pemaknaan, agar kita terus hidup di dalam Kasih Karunia.
                 
             Yang kemudian juga sangat penting adalah apa jawab kita. Respon jawab kita terhadap sapaan bahkan panggilan Allah tersebut.  Dari sapaan konfirmasi akan penyertaanNya, bahwa Dia selalu ada untuk kita di manapun dan dalam kondisi situasi bagaimanapun. Sampai kepada panggilan untuk diutus. Untuk dipakai oleh Allah menjadi salah satu alatNya dalam proses penyelamatan dunia?! Apa jawab kita?
                
 Mari belajar kembali dari sosok Maria, perawan suci, ibu dari Yesus.  Saat belum hamil, bahkan belum bersuami, Allah menyapa dan memanggil dia. Untuk sebuah misi. Tugas menjadi perantara Logos (Firman) menjadi daging. Allah yang menjadi manusia. Yang secara natural, tentulah melalui rahim seorang perempuan. Dan sekali lagi, perempuan itu adalah Maria. Yang kelanjutan dari panggilan sekaligus pengutusan tersebut, prosesnya pasti sudah kita mengerti. Terlebih Maria mengerti. Minimal seperti darimana benih anak itu, lalu harus mengandung selama 9 (Sembilan) bukan, mengalamai berbagai kesakitan, perubahan di tiap pertambahan waktu kehamilan, makanannya, minumannya, gerak tubuh saat berjalan akan berbeda, penampilan secara menyeluruh, hingga saat tidurpun akan tentu berbeda, dan seterusnya. Hingga apalagi saat-saat persalinan!

Dan yang lebih hebat lagi adalah, tanggungjawab sosial berhubungan kehamilannya. Maria saat itu belum bersuami. Yusuf adalah tunangannya. Belum suaminya. Tuntutan masyarakat yang pasti meminta penjelasan. Dengan kecenderungan yang lebih besar adalah langsung curiga kepada dia dan Yusuf. Hingga tuduhan-tuduhan menghakimi dan ujungnya kita bisa bayangkan yang terburuk. Hukuman masyarakat Israel kepada perempuan yang kedapatan berzinah atau kedpatan hamil di luar nikah? Paling sadis adalah direjam dengan batu oleh banyak orang, hingga mati!

Maria tahu itu.  Sehingga saat malaikat Tuhan menyapanya dengan salam (ayat 28) dan memberikan tugas misi kudus mulia itu, “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi..” (ulangi baca lengkap ayat 31-33) Tampak ia sempat bertanya, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (ayat 34)  Tetapi akhirnya ia jelas menjawab “ya”.                

Apalagi setelah Malaikat itu memberi penjelasan yang sebetulnya sangat suprarasional “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Maha Tinggiakan menaungi engkau..”  yang akhirannya ditutup dengan penjelasan bahkan penegasan, “.. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” (ayat 35-37). Maria menjawab ya dengan rendah hati dan kalimatnya yang sangat indah di ayat 38, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Mari menjawab “ya” kepada Tuhan. Kepada sapaan bahkan panggilanNya. 

Karena dalam Dia tidak ada yang mustahil.. Mari kita sadar, waspada dan selalu setia berjuang menjawab “ya”. Menjawab jawab hanya “ya” untukNya.  Amin.



tulisan & foto: Lusindo Tobing.


refleksi minggu kedua Desember 2011



PERBUATAN BESAR

Lukas 1: 46-56

Sesungguhnya perbuatan demi perbuatan kita manusia, mungkin tetaplah perbuatan kecil. Karena tangan kita memang kecil, kekuatan dan kemampuan kitapun kecil. Tetapi, tidak semua dan tidak akan selalu demikian. Mengapa? Karena dalam kekuatan TanganNya Yang Besar, semua yang dihasilkan bisa menjadi sesuatu yang besar. Dan Tuhan kerap memakai tangan-tangan yang kecil, di dalam tangan dan kekuatanNya yang besar. Untuk akhirnya melakukan bahkan menghasilkan perbuatan yang besar. Karena hasilnyapun besar. Makna dan dampaknya juga besar. Sehingga kebahagiaan benar-benar tercipta dan kita nikmati. Maria mengalaminya.

Ya, Maria –ibu Yesus- menikmati bahagia! “Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,” demikian sorak Maria di ayat 48 saat ia mengunjungi Elisabet sanak saudaranya. Karena apa ia berbahagia? Coba kita teruskan di ayat 49, “Karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatanbesar kepadaku dan namaNya adalah kudus.” Wow.. indah sekali nyanyian pujian Maria. Sekaligus sebuah pengakuan bahwa Allah telah memberlakukan perbuatanNya. Melalui dirinya, sehingga ia dimampukan melakukan perbuatan yang bagi dunia adalah tidak mungkin.

Tidak sekadar soal kehamilannya karena urapan Roh Allah Yang Maha Kudus tadi. Tetapi sesungguhnya perbuatan besar berlaku dalam diri janin yang sedang dikandungnya. Bahkan perbuatan-perbuatan besar yang akan dilakukan bayi itu. Yakni membebaskan mereka yang tertawan dosa, menolong semua yang letih lesu berbeban dan melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar (baca dan maknai ulang 51-54). Bayi dalam kandungan Maria itu tidak lain adalah Sang Juruselamat Dunia. Yang memang sudah lama dijanjikan sejak lama sekali. Bahkan sejak konteks Abraham, bapa semua orang yang beriman.

Perbuatan-perbuatan kita yang kecil, namun di dalam Tuhan, bisa menjadi perbuatan-perbuatan yang besar. Walau bagi dunia tampaknya apapun itu akan tetap kecil. Tetapi tidaklah dengan kaca mata iman. Dengan percaya, takut takluk menyembah Allah. Kita akan bisa melihat bahkan mengalami perbuatanNya yang besar. Bahkan luar biasa besar! Ayat 50 perikop ini menegaskan: RahmatNya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.

Dan hidup kitapun akan seperti pujian sorak Maria, akan sungguh berbahagia! Bahagia yang besar! Amin.



tulisan & foto: Lusindo Tobing.

12 Desember 2011

refleksi minggu pertama Desember 2011


BERDAMAI MENYONGSONG RAJA DAMAI

Yesaya 40: 1-11


Mari siap berdamai. Mari berdamai..

Ajakan ini terbentuk dari tafsiran sekaligus reflektif kuat dari apa yang dikatakan Allah di akhir-akhir masa hidup abdiNya yang luar biasa itu, Nabi Yesaya. Di masa-masa sangat sulit bangsa Israel yang telah sekitar 150 tahun di pembuangan babel, Allah memberikan penghiburan dan sekaligus pengharapan bagi umatNya itu. Sebuah nubuatan. Nubuatan tentang Mesias, Sang Penyelamat. Tentang kedatangan kehadiran Raja pembawa Damai. Raja Damai.

Sudahkah kita berdamai? Ya, berdamai dengan diminta maupun tidak diminta, dikondisikan maupun sangat tidak terkondisi. Siap berdamai sekarang? Mau berdamai sekarang? Berdamai dengan orang-orang yang pernah, sedang bahkan akan menyakiti hati kita. Memaafkan, dengan melupakan hal-hal yang pahit, bangun dari keterpurukan benci dendam dan berhasil tersenyum kepada godaan marah hingga semua kuasa buruk jahat jadi malu. Malu karena kedamaian hati juga diri kita. Kedamaian yang dapat kita miliki hanya dari Sang Raja Damai. Damai dari Tuhan Yesus Kristus.

Dan berdamai tentu adalah tindakan dan proses. Pertama kali, mari berdamai dengan Tuhan. Jujur, jernih dan tulus mengakui kelemahan kita, menyembah Dia Allah Yang Maha Kudus. Memohon “perbaikan” jalinan yang terputus antara kita denganNya, melalui Keselamatan Kristus. Ada proses sekaligus berdamai dengan diri kita sendiri. Mensyukuri diri sendiri sebagai berkat dan karunia anugerah besar dari tuhan. Dengan modal tersebut kita akan dimampukan mewujudkan tingkah laku yang sungguh mau berdamai dengan sesama. Ya, ini berikutnya, berdamai dengan sesama. Bahkan berdamai dengan musuh (lihat dan bandingkan Matius 5: 43-44 & Lukas 6: 27-35).

Bahkan kita bisa lebih ahli dan lebih berani untuk menyapa dan melayani mengasihi mereka yang sering tidak masuk hitungan. "Hiburkanlah, hiburkanlah umatKu, demikian firman Allahmu" (ayat1, juga baca hingga ayat 5) Kepada yang sakit, terkena bencana, yang miskin, yang terbelakang dan terpinggirkan. Tulisan dan perenungan janganlah hanya sebuah ungkapan manis saja. Mari berdasarkan Firman melalui Nabi besar Yesaya, kita sungguh-sungguh mengimani dan kuat percaya memberlakukannya ketika menghadapi berbagai agin taufan pergumulan dan ombak tinggi tantangan zaman yang kian egois individulisme ini!

Hadapi bahkan lawan dan kalahkanlah kebencian. Tentu bukan dengan kebencian lagi, tetapi harus dengan Kasih. Gelap kejahatan hanya pasti hanya takluk oleh Kasih Damai yang dari Tuhan. Hanya dengan damai kita baru benar-benar siap dan layak menyambutNya. Mari bawa kabar baik (ayat 9). Mari berdamai saudaraku-saudariku..

Selamat berdamai dalam menyongsong Sang Raja Damai! Amin.




tulisan & foto: Lusindo Tobing.

refleksi minggu keempat November 2011


MENANTI


1 Korintus 1: 4-9


Mari baca dan katakan kalimat ini,” Hati Bersyukur Melayani”. Sekali lagi, “Hati Bersyukur Melayani.” Ya, mungkin seperti satu kesatuan kalimat, tetapi seperti penulisannya kalimat tersebut terdiri dari tiga kata. Tepatnya tiga hal kristalisasi dari refleksi perikop kali ini.

Mari menanti Natal- Kelahiran Tuhan Yesus Kristus- atau peringatan perayaan kedatanganNya yang pertama, tetapi juga mari menanti kedatanganNya untuk kedua kali, bukan dengan sekadar jasmani apalagi cuma dimensi materi. Juga jangan hanya dengan pikiran, rasioa dan pengetahuan belaka. Tetapi marilah kita menanti kedatangan bahkan kehadiranNya dengan hati!

Persolannya hati yang bagaimana. Seperti hal kedua dari kalimat ungkapan di awal tadi, tentu dengan hati yang sungguh bersyukur! Rasul Paulus yang dahulu bernama Saulus mengalami perubahan dari dalam hatinya dengan juga seluruh akal budi dan karakter juag segenap sikap tubuh jasmaninya. Hingga indah ketia Paulus dipakai oleh Tuhan menyuarakan kebahagiaan menanti di dalam Tuhan. Kerinduan dan keinginan bertemu melalui surat yang ditulis sendiri oleh Paulus diawali dengan menarik. Paulus menyapa semua jemaat di Korintus dengan hati yang bersyukur. “Aku senantiasa mengucap syukur kepada allahku karena kamu atas karunia Allah yang dianugerahkanNya kepada kamu dalam Kristus Yesus.” (ayat 4).

Mari menanti Tuhan dengan hati yang bersyukur. Setia menghitung berkat-berkatNya, di kurang-lebih satu tahun ini, bahkan di sepanjang hidup kehidupan kita. Syukuri semua “kekayaan” yang dari Tuhan (baca lagi 5-8) dengan jalan mempertanggungjawabkan semua berkat Tuhan itu.

Dengan cara apa? Deangan cara benar-benar bersedia untuk diutus dipakai menjadi saluran berkat-berkat tersebut. Bagi keluarga, jemaat hingga bagi sesama yang sunguh membutuhkan. Membawa kebahagiaan Kasih bagi orang-orang yang letih lesu berbeban berat. Mengkondisikan bahkan mewujudkan kebaikan yang bertambah di kondisi dan situasi yang bagaimanapun. Dengan menggunakan hati, pengetahuan, perkataan bahkan segala potensi dan karunia-karunia yang dianugerahkan Tuhan , di manapun kita berada bagi lingkungan dan sesama.

Inilah semua yang mungkin bisa kita sebut sebagai penantian atau menanti dengan setia (ayat 9) dan aktif! Jangan menanti dengan lalai dan pasif, tetapi harus dengan aktif. Menanti dengan Hati yang selalu mau Bersyukur dan benar-benar nyata Melayani. Bersyukur mendoakan lebih banyak orang lain, melawat mengunjungi yang sakit dan bergumul. Membantu yang butuh bantuan, menolong yang sangat memerlukan pertolongan. Bahkan kita mau hadir dan menjumpai mereka dengan Kasih yang dari Tuhan Yesus Kristus, melayani. Menanti dengan hati bersyukur melayani. Amin.




tulisan & foto: Lusindo Tobing.