23 Juli 2013

refleksi minggu keempat Juli 2013





Kolose 2: 6-15



BERAKAR BERTUMBUH






Apakah betul jika kita mau “aman” dan bertumbuh sehat jasmani maupun rohani, maka seharusnya kita bebas dari/tidak mengalami  godaan, pergumulan dan ancaman? Ternyata tidak. Karena rupanya, berbagai godaan, pergumulan atau ancaman yang ada di sekitar kita justru sarana pengujian mental dan spiritualitas kita. Untuk terus mengalami pertumbuhan iman! 


Seperti jemaat di Kolose, meskipun hidup dalam ancaman ajaran doktrin palsu, filsafat kosong  dan moral yang sesat (ayat 8), namun tetap bisa dan terus bertumbuh. Apa kuncinya?  Hidup dalam Kristus.  Kristus bukan saja dasar, tetapi sekaligus bangunan dan isi hidup. Dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa (ayat 11). Kita bukan saja menerima keselamatan dengan beriman kepada-Nya, tetapi juga kekudusan dan kekuatan rohani kita. Itu sebabnya kita perlu tinggal tetap dalam Dia.


Mari meneruskan perjalananan penggalan setengah tahun 2013 ke depan. Dan sampai selamanya, mau diutus seperti perintah Tuhan Yesus Kristus melalui Paulus dan Timotius di ayat 7: Teruslah berakar di dalam dan dibangun di atas Dia. Sehingga iman kita bertumbuh kian teguh dan kuat, pikiran juga kehidupan kita semakin menjadi saluran berkat bagi orang lain. Melimpah dengan ucapan syukur! Amin.





tulisan & foto: Lusindo Tobing.




15 Juli 2013

refleksi minggu ketiga Juli 2013



Mazmur 52



KASIH SETIA
 






Jadi teringat beberapa waktu lalu mampir ke tempat cukur rambut. Teringat gunting, sisir dan alat-alat lain, khususnya pisau cukur yang digunakan sang tukang cukur. Satu pisau cukur yang sangat tajam!  

Setajam itulah lidah seorang yang bernama Doeg dan juga kejahatan Raja Saul (baca ayat 1-6). Lalim lagi sombong, yang lidahnya tampaknya merupakan senjatanya. Ketamakan, kelicikan dan dusta mereka, semua bersumber dari lidah yang seperti pisau cukur. 

Di Kitab 1 Samuel 22 bahkan diceritakan atas perintah raja Saul, dalam satu hari ada delapan puluh lima orang imam mati dibunuh. Saul menyuruh Doeg, seorang kafir untuk mengeksekusi orang-orang yang dikasihi Allah itu. Ternyata Raja Saul lebih mencintai kejahatan dan dusta (ayat 5), bahkan bermegah atas kejahatan yang dilakukannya (ayat 3). 


Mazmur ini menggambarkan kehidupan orang yang dikasihi Allah tetapi menderita bahkan hendak dibunuh oleh karena mengatakan kebenaran. Tetapi pemazmur yakin Allah sendiri akan menghukum orang berdosa. Mereka tidak akan tinggal di rumahnya (ayat 7). 

Sementara ia sendiri akan tetap aman berada di dalam kasih Allah. Di akhir hidupnya, Saul jatuh oleh pedang. Sebaliknya Daud naik takhta dan tetap kokoh sebagai bukti kasih setia Allah terhadap janji dan perjanjian-Nya.


Selamat menerima dan hidup terus dalam Kasih setia yang tak berkesudahan (ingat Ratapan 3: 22-23). Dan mari terus meneladani keyakinan pemazmur. Diutus untuk senantiasa percaya pada kasih setia Allah (ayat 10). Menjadi seperti pohon zaitun yang menghijau, hidup aman tentram dan terus bersyukur di dalam rumah (kasih setia) Allah. Amin.



tulisan & foto: Lusindo Tobing.

08 Juli 2013

refleksi minggu kedua Juli 2013




Lukas 10: 25-37


BELAS KASIH







"Dan siapakah sesamaku manusia?", pertanyaan seorang ahli Taurat inilah awalnya (ayat 29). 

Begitu penting pertanyaan tersebut, hingga Tuhan Yesus sendiri sampai menggunakan metode perumpamaan untuk menjawab (tepatnya memancing jawaban dari si ahli Taurat). “Adalah seorang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun merampoknya habis-habisan, .. ada seorang imam tetapi melewatinya dari seberang jalan.  Juga seorang Lewi, melewatinya. Lalu datang seorang Samaria, ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya.. dan merawatnya.”  

Ringkasan ayat 30-36 ini ditutup Yesus dengan pertanyaan balik, “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"

Jika kita adalah seperti si-ahli Taurat, yang gemar mencari pembenaran diri bahkan kadang akhirnya jatuh pada penyombongan diri juga rohani. Sesungguhnya kini kita mendapat jawabannya. Bahkan kita sendirilah yang (sudah dan harus lagi) menjawab:  "Orang yang telah menunjukkan belas kasih.." (seperti di ayat 37).

Ya, belas kasih. Kita ada karena, di dalam dan untuk belas kasihNya. Mari bersedia diutus mewujudkan belas kasih bagi sesama. Menjadi sesama manusia bagi sesama manusia.  Khususnya bagi mereka yang hidupnya habis-habisan dirampok kekejaman dunia. Sebab pengutusan Tuhan Yesus Kristus kepada kita, singkat namun sangat luas makna: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" Amin.



tulisan & foto: Lusindo Tobing.

04 Juli 2013

refleksi minggu pertama Juli 2013









TIDAK JEMU BERBUAT BAIK






“Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” (ayat 7). Ungkapan yang sudah sangat terkenal ini rupanya Firman Tuhan. Tepatnya Firman kepada jemaat di Galatia.  

Tuhan mengingatkan sekaligus memerintahkan tegas bahwa sebagai pengikut bahkan sebagai anak-anak Allah, kita diciptakan untuk menolong orang lain. Untuk akhirnya dimampukan Tuhan untuk bertolong-tolongan.  “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (ayat 2)


Paulus tidak ingin ada orang yang bermegah atas kejatuhan orang lain. Justru orang yang tidak jatuh, karena rohaninya kuat, harus mampu menunjukkan sikap kristiani yang penuh kasih terhadap mereka yang jatuh. Sikap kristiani itu adalah wujud kualitas kekristenan sejati.  Dan “janganlah kita jemu-jemu berbuat baik,..” (ayat 9)


Selagi masih ada kesempatan. Selagi Tuhan memberi kesempatan. Mari kita terus menjadi saluran berkat dan kasih anugerahNya kepada sesama.  Seperti ayat terakhir (ayat 10) menandaskan, “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”  Diutus untuk tidak jemu-jemu berbuat baik. Amin.




tulisan & foto: Lusindo Tobing.

26 Juni 2013

refleksi minggu kelima Juni 2013




Lukas 9: 51-62


RAMAH DAN PENUH KASIH







“Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka” (ayat 55). Ya, Tuhan Yesus menegor 2 (dua) muridNya: Yakobus dan Yohanes, karena mereka berniat melakukan tindak kekerasan bahkan jahat untuk sebuah desa. Tepatnya desa orang-orang Samaria, yang sebelumnya menolakNya saat menuju Yerusalem.

Inilah teladan memegang iman dan hidup mengikuti Tuhan Yesus Kristus. Bersedia ramah dan penuh Kasih kepada siapapun, bahkan di lingkungan penuh perbedaan. “Ikutlah Aku!” itu ajakan sekaligus perintah di ayat 59. Mari menjawabNya dengan menjadi murid Kristus. Yang selalu siap menerima ketidakramahan dan kekejaman dunia tanpa membalas. Sungguh menyadari bahwa dunia bukanlah tempat tinggal kita selamanya. 

Mari menempatkan perintahNya di atas tugas pribadi dan tradisi agamawi. Lebih khusus lagi sebagai seorang murid kepada sesama manusia lainnya, tidak memandang golongan atau kedaerahan. Kepada ras, suku, bangsa bahkan agama apapun harus disampaikan berita dan ajaran: Keselamatan Tuhan Yesus Kristus. Dengan ramah dan penuh kasih. Amin


tulisan: Lusindo Tobing.

21 Juni 2013




Selamat Ulang Tahun ke-486 Jakarta baru, Jakarta kita!
Tuhan memberkati Jakarta. :)



  
     foto oleh: Lusindo Yosep Tobing.