18 Januari 2013

refleksi minggu ketiga Januari 2013




Yohanes 2: 1-11



DALAM YESUS ADA KEHIDUPAN

Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya. (Yohanes 2: 11)








Jakarta darurat banjir! Ya, ibukota negara Indonesia yang kita cintai, benar-benar dilanda bencana banjir. Sebut saja rumah-rumah, perkantoran hingga rumah sakit dan jalan-jalan besar utama di Bundaran HI (Hotel Indonesia), Sarinah, Jl. Jenderal Sudirman, Bendungan Hilir, Gorogol-Kepa Duri, Pluit, Tanjung Priok, juga tidak luput daerah Menteng hingga Kampung Melayu, semuanya “lumpuh” tertutup banjir. Bencana banjir yang baru beberapa hari saja telah merugikan puluhan milyar rupiah, merusak berbagai bangunan, hingga memakan korban sakit dan meninggal dunia. Yang terbesar adalah rusaknya tata sosial, pelayanan masyarakat, kerja kinerja dan tata hidup kehidupan Jakarta sekitarnya.

Tetapi dari peristiwa perkawinan di Kana dalam perikop kali ini. Kita diperlihatkan bagaimana memiliki keyakinan pertolonganNya atas berbagai bencana apapun di hidup kehidupan. Bahkan kepastian akan Hidup Sejati. Kita harus memulai dan melanjutkan Tahun 2013 ini dengan lebih mengundang Yesus, tentu bukan sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai pemilik kehidupan kita.  

Tuhan bisa memakai apapun juga sebagai alat-Nya. Apa yang tidak terlalu berguna, bisa diubahkan menjadi sesuatu yang sangat berharga. Dibutuhkan ketaatan akan cara Tuhan bekerja. Namun dalam kisah ini yang diminta Tuhan adalah, kita meminta tolong kepada-Nya secara spesifik, dan membiarkan Tuhan bekerja dalam waktu dan cara-Nya. (ayat 7). Dan perubahan yang Tuhan kerjakan dan ketaatan kita sebagai tanggapan kepada-Nya, perlu dirasakan oleh orang disekitar kita. (ayat 8-9)

Allah peduli atas kehidupan manusia berdosa yang sarat bencana dan tragedi. Dan Tuhan Yesus Kristus hadir bukan untuk membangkitkan diskusi-diskusi teologis mengenai siapa diri-Nya atau untuk kemegahan liturgi ibadah di gereja. Dia hadir untuk memberikan anggur baru kehidupan dalam hubungan-hubungan agar diperbarui. Mari lebih peduli, lebih mau berbagi. Wujudkan iman bukan dengan sekadar menyapa sesama kita "syalom," tetapi mari menjadi syalom Allah bagi Jakarta sekitarnya yang terkena bencana banjir, dan syalom untuk semua kehidupan. Amin.



tulisan & foto: Lusindo Tobing.


14 Januari 2013

PEMBUATAN & PENYAMPAIAN KHOTBAH




PEMBUATAN & PENYAMPAIAN KHOTBAH

oleh: Pdt. Lusindo Tobing






Khotbah adalah penyampaian Firman Tuhan (terutama dari Alkitab dan juga kehidupan sehari-hari) yang tekhnik penyampaiannya secara mendasar dan mayoritas menggunakan kata juga kalimat lisan dan sedikit pendukung lain. Sehingga yang mendengarkannya (jemaat dan siapapun juga) bertambah pengetahuan, pemahaman, refleksi akan ajaran Firman Tuhan, bertumbuh dalam imannya dan sungguh lebih rindu melakukan Kasih nyata di keseharian. Untuk sesama dan kehidupan yang lebih baik.
Pemahaman ini mungkin sedikit melengkapi dari definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia yang menyatakan bahwa Khotbah adalah Pidato (terutama yg menguraikan ajaran agama).



Pembuatan Khotbah

1.     Berdoa.
Karena khotbah adalah penyampaian Firman Tuhan. Maka berdoalah! Minta sungguh kepada Allah, si pemberi Firman itu. Bahkan Dia-lah Firman yang hidup. Datanglah dengan kerendahan hati, sebagai hamba atau pelayananNya, minta Tuhan memberi pengajaranNya terlebih dulu kepada kita sebagai mediator penyampai Firman (pengkhotbah). Berdoalah dengan cara Anda. Bisa tidak terlalu lama, atau berdoa dengan membutuhkan waktu yang cukup lama. Yang lebih baik adalah lengkapilah dengan meditasi atau merenung dengan saat teduh dan jernih di urapan Roh Allah Yang Kudus. Bersedia dibimbing, mau diajar Allah dan terus-menerus mendengar serta tidak berhenti memaknai ulang setiap materi khotbah yang akan kita susun dan bersemangat bahwa nanti akan benar-benar jadi berkat saat dan setelah penyampaiannya kepada jemaat dan pendengar khotbah kita. Belajarlah, berharaplah, lakukanlah dalam dan dengan berdoa. Berdoalah.

2.     Tentukan Tema Khotbah.
Sebetulnya kita akan sangat terbantu jika Tema Khotbah sudah ditentukan oleh pihak yang akan menjadi tujuan (gereja, pengurus atau panitia) tempat kita akan menyampaikan khotbah. Namun jika tidak, maka tentukanlah sendiri Tema Khotbah. Bukan sekadar dengan bahan atau Tema yang sudah ada apalagi yang sudah sering kita sampaikan, Tetapi sungguh-sungguh karena Tema tersebut sangat cocok untuk kenyataan yang terjadi di konteks jemaat dan kehidupan banyak orang saat itu. Tema yang sangat menyegarkan, menegur juga harus menguatkan iman setiap yang mendengar khotbah FirmanNya.

3.     Tentukan Ayat Alkitab.
Begitu pula dengan Ayat atau ayat-ayat Alkitab. Siapkanlah sendiri Ayat Alkitab tersebut, dengan atau tanpa penentuan dari pihak yang mengundang kita. Ayat-ayat Alkitab bisa dipilih tentu dari Alkitab dengan meruntut dan berpegang kepada Tema yang sudah ada. Namun pemilihan tersebut juga bisa terbalik, maksudnya lebih dulu pemilihan ayat atau ayat-ayat Alkitab. Lalu barulah ditemukan atau ditentukan Tema Khotbah.

4.     Pelajari Dengan Mendalam.
Lakukan pendalaman tafsiran atau eksegesis (pemahaman mendalam, komentar atau penafsiran teks Alkitab untuk menguraikan hal-hal yang tidak jelas dan mencari detail suatu kata atau teks dengan tujuan mendapatkan dan menentukan maknanya yang pasti) yang bisa kita dapat dari berbagai buku, internet dan sumber bacaan teologis lainnya. Juga berusahalah memkanai ulang terus-menerus bagian per bagian ayat dan tema khotbah. Temukan hal-hal yang menarik, unik, baru, kuat dan kaya sebagai pengajaran bagi iman. Juga mulailah rancang akan seperti apa nanti jadinya khotbah tersebut, dengan mendalami bahan, dan jangan lupa menghubungkan dengan keadaan jemaat yang akan menerima khotbah. Pelajari mendalam teks Firman Allah dan pelajari mendalam kebutuhan pendengar khotbah.

5.     Buatlah Isi: 3-5 point “singkatpadatjelas”.
Buatlah point-point yang singkat, padat dan jelas. Bahkan gunakan urutan angka untuk tiap point. Saya sangat menyarankan 3-5 point. Agar tidak terlalu sedikit,  tetapi juga jangan sampai terlalu banyak. Buatlah tiap point ada kesinambungannya bahkan sifat dan hakikinya menuju klimaks dan lengkap kuat! Lalu susunlah isi khotbah lengkap dengan memberi isi serta menguraikan tiap-tiap point tersebut. Cara ini juga bisa dilakukan sebaliknya: menyusun lengkap isi khotbah, kemudian barulah kita memilah atau menentukan bagian mana yang masuk menjadi point  1, 2, 3 atau (maksimal) hingga point 5.
 
6.     Tambahkan Illustrasi dan Lagu Pendukung.
Memang istilah yang kita gunakan adalah tambahan (tambahkan), tetapi sesungguhnya langkah ini harus dilakukan atau diwujudkan. Karena kemajuan jaman menuntut sebuah khotbah yang bisa didukung secara audio dan visual sebaik mungkin. Kuncinya cari dan tetapkanlah pendukung yang benar-benar mendukung Tema, Ayat Alkitab dan Isi Khotbah secara menyeluruh. Bisa berbentuk illustrasi gambar atau foto (berbentuk slide atau dengan program computer tertentu), video atau cuplikan film tertentu, hasil survey, cerita dengan gambar atau seni lainnya, hingga persiapkan beberapa lagu (yang nanti nyanyikan sendiri, bahkan ajak jemaat melantunkan lagu sembah pujian tersebut) yang sekali lagi harus sangat berhubungan dan menambah kuat serta melengkapi isi khotbah.

7.     Penyempurnaan.
Sebut saja ini bagian finishing. Mempertajam isi khotbah. Dan lebih memastikan Pembukaan dan Penutup dari khotbah kita. Lalu ulangi dan ulangi terus, sempurnakan di beberapa titik dan dimensi. Tetapi yang jauh lebih penting adalah terus sederhanakan, sederhanakan khotbah tetapi harus lebih kaya “nutrisi untuk iman” dan kuat untuk disampaikan sebagai pewartaan kabar baik dari Tuhan kepada manusia. Ingat: Jika khotbah yang kita buat bisa menyentuh relung hati dan iman kita sendiri, maka kemungkinan besar itu akan bisa menyentuh hati juga iman pendengar atau jemaat yang nanti mendengarkannya. Kemudian, (hapal) simpanlah dalam otak, ingat alur khotbah tersebut, dan sekali lagi ulangi dengan melatihnya. Bayangkan sudah sama seperti sesungguhnya disampaikan.  Jika sudah cukup lengkap atau rampung, tutp sempurnakan lagi dengan doa dan lebih banyaklah berdiam. Memohon Tuhan saja yang berbicara melalui kita untuk jemaat (pendengar) dengan khotbah yang terbaik, menjadi saluran berkatNya!




Penyampaian Khotbah

1.     Kuasai Materi Khotbah
Kini untuk menuju penyampaian khotbah, kuasai betul Isi Khotbah (sekali lagi lihat dan ingat bagian sebelumnya, Pembuatan Khotbah). Lalu persiapkan lagi semua materi dan kelengkapannya. Naskah khotbah, point-point dan illustrasi khotbah di kertas atau dalam usb (saat ini, penulis biasanya menggunakan program Keynote pada ipad - juga Microsoft Office Power Point pada laptop/komputer ), cd atau bentukan file lainnya. Dan tentu jangan pernah terlupa: Awali dan akhiri khotbah dengan doa (bersama jemaat atau –khususnya- secara pribadi).

2.     Penampilan Bersih Rapih
Setelah Naskah atau Isi Khotbah yang sudah dipersiapkan dengan baik. Maka hal penting berikutnya yang tidak kalah penting adalah tentu penampilan. Bukan penampilan “wah”, harus mahal atau silau. Justru berpenampilanlah dengan sederhana tetapi harus benar-benar bersih dan rapih. Dari ujung kepala, rambut, wajah, tangan, kuku tangan yang bersih, hingga baju dan celana dipersiapkan dengan baik, dan sepatu yang bersih (disemir) tentu.

3.     Berdiri Tegap
Seperti layaknya orang hendak menyampaikan kata sambutan atau bahkan pidato, maka lebih lagi saat menyampaikan khotbah. Sebuah khotbah yang sudah dipersiapkan dengan baik dan matang, disertai dengan penampilan yang bersih dan rapih. Harus disampaikan dengan posisi tubuh yang berdiri tegap. Jangan membungkuk, boleh bersandar sesekali pada mimbar atau bagian mimbar tertentu. Dan baik jika memang memungkinkan untuk bergerak, atau bahkan berjalan, sekali lagi ingat jangan terlalu sering dan membuat konsentrasi jemaat sebagai pendengar akan terganggu.  Tetapi awali, sampaikan khotbah dan akhiri dengan berdiri tegap mantap!

4.     Kontak Mata (Eye Contac)
Bagian atau hal ini sering kali terlupa. Lakukanlah selalu eye contac atau kontak mata dengan jemaat atau pendengar khotbah kita, selalu. Jika masih kesulitan untuk menatap mereka langsung, apalagi di keadaan berkhotbah di ratusan apalagi ribuan orang, tataplah mereka, minimal dahi mereka, lalu upayakan mata mereka. Ajak mata mereka mendengar, mengerti dan juga menelan keindahan Firman Tuhan melalui kohatbah kita. Jangan lalai, jangan lupa, kasihi jemaat dan semua mereka yang mendengar khotbah kita dengan tatapan mata dari hati kita yang tulus dan sungguh rindu menyampaikan kebenaran Firman dan hanya Ajaran Tuhan yang memulihkan bahkan menyelamatkan. “Dari mata dan melalui khotbah turun ke hati” tetapi kali ini benar-benar untuk kemuliaan Tuhan dengan SabdaNya.

5.     Suara Lantang Jelas
Yang saya maksudkan benar-benarlah berkhotbah dengan suara yang jelas (terdengar jelas dan “sampai” ke telinga jemaat/pendengar). Baik dengan atau tanpa mic-speaker, berkhotbahlah dengan suara lantang dan jelas. Khotbah yang jelas dan lantang. Bukan berteriak-teriak, tidak! Bukan berteriak, khususnya saat mengawali khotbah. Dan selanjutnya isi dengan cara menyampaikan khotbah secara intonasi (kadang keras, lemah, dipercepat atau ada penekanan pada bagian penting tertentu dengan memperlambat pengucapannya). Namun sampai akhir khotbah tetaplah berbicara menyampaikan dengan suara lantang dan kata kalimat yang jelas.
 
6.     Bergerak Komunikatif Dialogis
Gerakkan tangan (kiri dan kanan) sesuai dengan isi dan penekanan khotbah.  Juga bergeraklah, berjalanlah jika memungkinkan, sesuai dengan hati dan pikiran yang fokus penuh menyampaikan berita Kebenaran. Tetapi sekali lagi ingat, jangan membuat pusing pendengar (jemaat) yang mendengar khotbah kita. Jangan membuat gerakan yang malah mengganggu konsentrasi mereka. Persiapkan dan bahkan dengan otomatis bergeraklah sehingga mendukung bahkan “menarik” perhatian juga hati semua yang mendengar khotbah. Sehingga mereka bisa menyerap betul isi khotbah yang kita sampaikan.

7.     Penutup Yang Tidak Bertele-tele.
Jika sebelumnya sudah “lepas landas dan terbang” dengan baik, jangan lupa bersiap untuk “landing”. Maksud saya, jika sudah mempersiapkan lalu menyampaikan khotbah dengan baik, maka jangan lupa untuk menutupnya. Baik sesuai dengan alur dan urutan isi khotbah. Tetapi juga ciptakan dan milikilah juga akhir yang manis. Yang tidak bertele-tele. Boleh menyimpulkan atau kristalisasi keseluruhan isi khotbah yang telah disampaikan. Tetapi harus tegas, segera, jelas, klimaks dan singkat kuat!

 
Dan selanjutnya, benar-benar seperti mengakhiri setiap khotbah, saya rindu menutup uraian pelajaran singkat mengenai “Pembuatan & Penyampaian Khotbah” ini dengan: Tuhan memberkati saudara semua. Amin.


                


                                                                                                          Akhir2012. :)                                                                                                                                                                                                                                            LT.

10 Januari 2013

refleksi minggu kedua Januari 2013


Yesaya 43: 1-7



ENGKAU BERHARGA DI MATA-KU

Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu. (Yesaya 43: 4)




Mahkamah Konstitusi membatalkan status sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Lalu muncullah keributan, pro dan kontra. Saya bukan mau meremehkan isu, tetapi bukankah yang terpenting apakah anak-anak kita atau para murid sekolah di Indonesia benar-benar dipandang berharga? Sehingga bukan "label" sekolahnya, tetapi benar- benar dilayankan sebuah pendidikan yang berkwalitas sebagai manusia Indonesia dan dunia.

Refleksi berikutnya yang lebih mendalam, apakah kita pernah menyadari bahwa kita ini sangat berharga di mata Tuhan?  Tuhan tidak pernah memandang rupa, jabatan, atau kekayaan yang kita miliki.  Sesungguhnya,  "Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,.." (ayat 4). Seburuk apa pun kita di mata dunia ini, bahkan mungkin kita telah dihina, dicaci, dan direndahkan, tetapi kita tetap berharga di mataNya.  Kalau kita begitu bangga dipuji dan dihormati oleh orang, lain, alangkah lebihnya bila kita dipandang sangat berharga dan mulia di hadapan Tuhan, bahkan disebutNya kita sebagai biji mataNya sendiri! Dan Alkitab menyatakan,  "...siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya-"  (Zakharia 2:8b).

Sudah sepatutnya hati kita berlimpah dengan syukur dan berhentilah untuk mengeluh, ribut dan bersungut-sungut dengan kondisi yang mungkin menurut kita tidak sebanding dengan orang-orang lain. Sebab dengan ucapan syukur kepada Tuhan, akan semakin kuat iman kita di dalam Dia dan itulah awal dari karyaNya dalam hidup kita. Sehingga lebih lagi mengasihi Allah dan sesama. Dan dalam ucapan syukur ada kuasa yang turun dari tempat mahatinggi, sebab di dalamnya kita selalu percaya bahwa Tuhan sanggup memberlakukan yang terbaik atas pergumulan dan perjuangan hidup kita. 

Bagaimanapun dan keadaan apa pun yang kita alami-jalani saat ini. Ingat, kita semua berharga di mata Tuhan! Amin.



tulisan & foto: Lusindo Tobing.

07 Januari 2013

refleksi minggu pertama Januari 2013



Efesus 3: 1-12



KASIH KARUNIA BAGI SEMUA

Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu  (Efesus 3: 8)





Apakah Allah mengasihi hanya orang Kristen saja? Apakah kasih karunia adalah hanya untuk orang Kristen saja? Jawaban untuk keduanya adalah tentu tidak. Allah mengasihi dan Kasih karunia Allah adalah untuk semua orang. Dalam perikop kita kali ini, hal itu ditekankan ulang lebih kuat lagi. Kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepada Paulus bukan terutama untuk dinikmatinya sendiri, tetapi agar dapat disalurkannya kepada orang lain. “..untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu.” (ayat 8).

Orang-orang Yahudi melalui penyataan Allah dan pengalaman hidup nenek moyang mereka bersama Allah, merasa bahwa mereka dikhususkan Allah. Begitu pula dengan orang-orang non Yahudi -- orang-orang Yunani para pengikut agama misteri—melalui pengalaman spiritual, mereka beranggapan bahwa hanya mereka yang memiliki hikmat ilahi. Kedua anggapan ini sungguh keliru, karenanya Paulus mengungkapkan suatu kebenaran, yaitu rahasia Allah.

Orang-orang non Yahudi yang sudah percaya telah dipersatukan dengan orang-orang Yahudi yang percaya dalam satu tubuh, yaitu jemaat. Paulus mengatakan bahwa rahasia Allah ini telah memberikan pengaruh yang dahsyat terhadap diri dan pelayanannya. Olehnya Paulus didorong untuk mewartakan Injil kepada semua orang.  Tugas kita, orang-orang yang percaya kepada Kristus yang kini diberi kesempatan memasuki tahun 2013, sebagaimana yang dilakukan oleh jemaat pada masa lampau (ayat 10) adalah lebih memberitakan dan menawarkan rahasia Allah itu kepada semua orang untuk mereka alami.  Yang adalah kasih Allah pada semua orang yang menarik kita untuk menerima (percaya) dan membagikan kasih karuniaNya yang kekal di dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Oleh karenanya, mari dengan tingkah laku dan pelayanan nyata di tiap hari, tiap kita menjadi pemberita kasih karunia Allah. Bagi semua orang. Bagi semua kehidupan.  Amin.




tulisan & foto: Lusindo Tobing.

17 November 2012

2 Buku Baru Saya (Lusindo Tobing)

Puji Tuhan...!

Telah terbit 2 buku baru saya, bahkan jauh lebih cepat dari yang direncanakan.

Buku pertama adalah "Chocolate for The Soul" berisi kumpulan status Halaman facebook Lusindo Tobing. Yang pasti membuat hati dan hidup Anda pembaca disegarkan, sungguh menikmati kehidupan dalam Tuhan, bertambah indah dan manis.

Buku kedua adalah "Blog to Book" berisi kumpulan renungan refleksi dan kont...

emplasi di Blog Lusindo Tobing. Sungguh mendukung dan bisa melengkapkan pertumbuhan iman, pengharapan dan kasih kita. Kepada Tuhan dan sesama.

---

Segeralah membeli dengan menghubungi Ibu Dian 0878-78539887 / Pin BB 27D2A732. Bisa jadi pilihan terbaik sebagai bacaan rohani dan kado cinta kasih menyambut Natal 2012 & Tahun Baru 2013. Tuhan memberkati :)

-Gratis ongkos kirim untuk JABODETABEK-




----

Chocolate for The Soul
(126 hal. / Harga Rp. 40.000,- saja)


KATA PENGANTAR

Sejak fb (baca: facebook) mulai dikenal mendunia kemudian masuk ke Indonesia, penulis sudah melihat ada “peluang” yang sangat besar untuk bisa menyuarakan kabar sukacita Tuhan dalam bentuk pembuatan dan penyebaran status-status fb yang membawa damai, semangat juga refleksi yang menggugah. Apalagi jika bisa membawa pemulihan hati para pembaca dan bahkan sikap perbuatan menjadi lebih baik.

Terlebih lagi ketika banyak suara-suara minor yang melihat media dunia maya (blog, fb, twitter, dan lain-lain) hanyalah wadah yang isinya melulu negatif, kotor, merusak dan harus dihindari. Padahal, dari hari ke hari kenyataan mengatakan berbeda. Bahkan semakin banyak survey yang sangat bisa dipertanggungjawabkan bahwa manusia sekarang yang kian modern dan canggih, semakin lebih cepat dan lebih banyak membuka, melihat, membaca, bahkan lebih “percaya” kepada apa yang ada di dalam media dunia maya tersebut. Ketimbang melihat media-media konvensional seperti televisi, buku cetak, majalah dan koran. Hal-hal seperti ini menambah kerinduan penulis untuk memberi sumbangan tulisan rohani yang positif, bersih, murni dan menyelamatkan. Yang menginspirasi pikiran, menggugah hati, memberi semangat, menguatkan iman dan menggiring pembaca (siapapun, bangsa suku ras apapun bahkan agama apapun) dan kehidupan bisa sedikit jadi lebih dekat dengan Tuhan, Sumber Kasih, Berkat dan Damai Sejahtera. Memaknai ulang hidup kehidupan bersama dengan lebih baik. Bahkan terpacu lebih menjadi saluran berkat dan cinta kasih yang manis bagi sesama.

Ya, manis bagai cokelat. Cokelat itu selalu kecil tetapi nikmat, enak, sekaligus melegakan, menenangkan dan menyukakan hati pikiran. Membuat hati dan hari jadi tambah bahagia. Bahkan dengan takaran cukup akan sangat menyehatkan. Tidak seberat makanan pokok. Tetapi bisa jadi asupan sehari-hari yang melengkapi kebutuhan jasmani juga khususnya suasana hati, rohani.

Itulah mengapa buku ini saya beri judul: Chocolate for The Soul.

Puji sembah syukur kepada Tuhan atas hikmat refleksi di tiap status demi status fb yang saya buat: http://www.facebook.com/lusindotobing. Semua berkat kasih karuniaNya. Terima kasih untuk Tim Buku. Dan kepada semua pihak, setiap orang, juga kejadian, fenomena, peristiwa dalam dimensi nyata kehidupan saya sehari-hari, yang kerap mendatangkan inspirasi sederhana, namun menjadi refleksi yang kuat indah.

Dan manis seperti cokelat. :)





---


Blog to Book
(274 hal. / Harga Rp. 50.000,- saja)


KATA PENGANTAR

Sesungguhnya buku ini adalah lanjutan. Dari buku pertama saya yang berjudul “Diam”, atau sebut saja Buku Diam 1. Jika dulu, buku yang pertama bentuknya kecil dan tipis. Sungguh bersyukur bahwa Buku diam 2 (Blog to Book) ini sedikit lebih besar formatnya dan tentu lebih tebal halaman isinya.

Sesungguhnya buku ini adalah kumpulan tulisan (dan juga beberapa foto) hasil karya sendiri. Hasil perenungan, kontemplasi dan rentetan refleksi. Yang saya awali saat menulis untuk renungan tiap Minggu di Warta Jemaat GKJ Nehemia –Jemaat di mana saya melayani-. Kemudian terus berlanjut menulis di dunia maya: http://lusindotobing.blogspot.com/

Sesungguhnya buku ini bisa terwujud tentu hanya karena berkat dan kasih karunia Tuhan. Dan terima kash kepada Tim Buku,juga semua pihak, setiap orang, juga kejadian, fenomena, peristiwa dalam dimensi nyata kehidupan saya sehari-hari, yang kerap mendatangkan inspirasi sederhana, namun menjadi refleksi yang kuat indah.

Dan..

Sesungguhnya buku ini jika sudah ada di tangan Anda (para pembaca terkasih), maka.. selamat membaca, selamat merenungkan merefleksikannya, selamat mencerna secara iman dan spiritualitas Anda masing-masing. Khususnya, selamat memberlakukan nyata di kehidupan yang lebih benar, lebih baik dan lebih indah. Untuk sesama, dan bagi kemuliaanNya.

Tuhan Yesus Kristus memberkati. :)