04 Maret 2015

Belas Kasihan Allah




Yunus 3 : 1 -10




BELAS KASIHAN ALLAH







Salah satu wujud belas kasihan Allah adalah Keselamatan Allah itu dapat dihadirkan juga kepada orang di luar Israel dan juga orang yang di luar penganut agama Yahudi.  Kitab Yunus melukiskan kedaulatan Allah yang mutlak atas seluruh ciptaan. Belas kasihan Allah yang selalu bersedia mengampuni. 


Dalam kisah Niniwe, Allah digambarkan sebagai Allah yang mengasihi lebih suka mengampuni daripada menghancurkan. Hal yang ingin ditekankan juga dalam perikop kita kali ini. Bahwa cinta kasih, rahmat, anugerah  atau belas kasihan Allah tidak terbatas kepada bangsa atau orang-orang tertentu. Kota dan orang-orang asing ini sama-sama dipedulikan Allah seperti Israel dan Yerusalem. 

Doa dan pertobatan mereka sama-sama didengar seperti doa dan pertobatan orang lain. Allah memberlakukan Niniwe dengan kasih belas kasih atau belas kasihanNya yang dalam.

Kita membutuhkan belas kasihan Allah.  Karena manusia lama kita memerlukan waktu untuk berubah. Ada yang memerlukan waktu singkat, ada juga yang memerlukan waktu panjang. Karena itu, jangan menyerah dan berkata, "Saya tidak mungkin berubah!" Itu bisikan Iblis yang harus kita lawan. 

Kejahatan Niniwe sampai di telinga Allah. Tetapi sebelum melaksanakan hukuman, Allah hendak memperingatkan mereka. Untuk itu Yunus diutus kembali. Yunus hanya menyampaikan berita penghukuman yang akan Allah jatuhkan, dan sama sekali tidak menyinggung agar mereka bertobat dari tingkah langkah mereka yang jahat (ayat 4). 

Hal ini menunjukkan bahwa kesediaannya adalah karena terpaksa. Ia memang lebih mengharap bangsa itu dihukum daripada bertobat dan diampuni. Tetapi yang di luar harapan Yunus justru terjadi. Bukan hanya raja dan rakyat yang berkabung tetapi juga binatang peliharaan. 

Ada lagi hal lain yang mengejutkan dan yang kelak akan membuat Yunus protes kepada Allah. Di luar harapan Yunus, ternyata Allah menyesal ketika melihat pertobatan orang Niniwe. Karenanya Ia tidak jadi membinasakan mereka (ayat 10). 

Dilibatkannya binatang peliharaan untuk berkabung dan berpuasa mungkin dapat mengindikasikan bahwa orang Niniwe sendiri tidak yakin bahwa Allah akan sudi mengampuni mereka (ayat 7-8). Itulah sebabnya ada kemungkinan bahwa penyesalan Allah adalah sesuatu yang tidak diduga oleh orang Niniwe. 

Tuhan memberikan kesempatan kedua kepada Yunus. Kali ini Yunus taat. Ketika ia memberitakan peringatan Tuhan, sesuatu yang mengejutkan terjadi, terutama buat Yunus, yaitu bahwa seluruh rakyat Niniwe beserta rajanya menanggapi pemberitaan belas kasihanNya tersebut dan bertobat! 

Sekali lagi kita melihat bagaimana keindahan pertobatan yang terangkai dalam suatu pemberian belas kasihNya. Pertobatan terjadi karena Tuhan berinisiatif; Ialah yang "mengunjungi" Niniwe dan menyampaikan peringatan-Nya; Ialah yang mencari manusia, bukan sebaliknya. Kedua, pertobatan tidak akan terjadi jika manusia tidak mau mendengarkan suara Tuhan. Rakyat Niniwe masih menaruh hormat kepada Tuhan; Ketiga, pertobatan ditunjukkan melalui perubahan nyata. Raja Niniwe meminta rakyatnya untuk "berbalik dari tingkah lakunya yang jahat...". 

Banyak belas kasih atau belaskasihan yang melahirkan penyesalan. Misalnya, penyesalan yang muncul sebagai akibat rasa malu, rasa takut, dan rasa bersalah. Namun, pertobatan tidak harus dilandasi oleh ketiga perasaan ini sebab sudah seyogianyalah pertobatan timbul dari (a) Kesadaran akan kesalahan kita dan kebaikan Tuhan yang tak pernah habis, (b) Keinginan untuk melakukan yang benar di hadapan belas kasihan Tuhan Allah, dan (c) Tindakan nyata untuk berjuang mewujudkannya. 

Sepertinya dalam kisah Yunus  ini banyak berisi hal-hal yang tidak terduga. Di satu sisi Yunus tidak menduga bahwa orang Niniwe akan meresponi pemberitaannya, dan di lain sisi orang Niniwe sendiri tidak menduga bahwa Allah akan merespons perkabungan mereka. 

Benarlah firman Tuhan yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba (Yes. 1:18)."  Belas kasihan akan berbuahkan pertobatan, perubahan jadi baik dan lebih baik. Bahkan semuanya menuju Keselamatan kekal.

Mari bersama kita merespon belas kasihan Tuhan Allah. Karena Allah tidak pernah menolak mereka yang menyesali dosanya. Mau menerima belas kasih atau belas kasihanNya, Sekalipun kita merasa bahwa kita sudah sangat jauh dari Tuhan, tetapi sesungguhnya Ia tidak pernah berlambat-lambat untuk mendengar seruan umat-Nya. Allah pasti datang dengan belas kasihanNya. Sehingga kitapun dapat membagikan belas kasih, berbagi belas kasihan Allah itu kepada orang lain. 

Terlebih orang lain yang pernah menyakiti dan berbuat hal-hal yang tidak baik kepada kita. Sangat sulit untuk proses pemulihan tersebut jika hanya mengandalkan kekuatan dunia apalagi hanya kekuatan diri kita sendiri.

Hanya dengan “kekuatan”  belas kasihan dari Allah kita bisa berbelas kasih atau berbelas kasihan kepada sesama manusia. Yang ditolong sudah seharusnya bersedia untuk menolong. Yang diberkati, mau dipakai jadi alat penyalur berkat khususnya penyalur Keselamatan Alllah. Dan yang sudah dan selalu menerima belas kasihan Allah, mari, kita bersedia setia membagikan kasih yang berbelas kasihan kepada semua orang. Amin. 


Tulisan: Lusindo Tobing.
Foto: Krisna Adiet.

17 Februari 2015

Refleksi Minggu Keempat Februari 2015




Kejadian 9: 8-17



MENAATI PERJANJIAN TUHAN





Memasuki Minggu Pra Paskah 1 (pertama) ini, kita masih diiringi hujan, bahkan banjir. Tetapi janganlah khawatir, dengan iman tetap ingat janji dan perjanjianNya. “..Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.” (ayat 11). 

Mungkin masih akan ada genangan atau banjir. Tetapi dipastikan tidak akan ada Air Bah lagi! Ya, Dialah Allah yang selalu mengingat dan tidak pernah melupakan janji (baca lebih tegas Nats di ayat 16).

Sekarang bagaimanakah respon kita? Apakah kita telah dan selalu menaati perjanjian denganNya? Karena sesungguhnya kita, manusia, diberikan satu lagi kesempatan memulai sesuatu yang baru dari awal. Allah yang telah kita kecewakan, malah melimpahkan semarak berkat-Nya. Juga menitipkan ciptaan baru-Nya (kehidupan setelah Air Bah) kepada kita. Sungguh suatu penghormatan yang luar biasa!

Dan pembuatan perjanjian selalu melibatkan ikatan yang sungguh-sungguh antara kedua belah pihak bukan? Karena itulah, dalam kehidupan yang selalu dipulihkanNya. Mari berjanji, lebih nyata mengumumkan pendamaian, tegas berpihak pada kebenaran, kepedulian kepada yang lemah serta dilemahkan, mewartakan kebahagiaan dan menyalurkan Kasih penyelamatan Allah kepada umat manusia. Melalui diri serta hidup setiap hari.  Berjanjilah melakukannya! Amin.

 
Tulisan & Foto: Lusindo Tobing.

13 Februari 2015

Refleksi Minggu Ketiga Februari 2015




2 Raja-raja 2: 1-12


SAHABAT PERJALANAN IMAN





Banjir dan Begal (penyamun; membegal = merampas di jalan). Dua hal itu kini sedang ramai dibicarakan. Membuat kita harus lebih berhati-hati dalam perjalanan. Dan yang pasti di kedua hal tersebut kita juga membutuhkan orang lain atau teman. Teman dan sahabat saat menjalani melewati banjir (pejalan kaki lain, pengendara motor atau mobil lain, angkutan umum, jasa gerobak atau perahu penyeberang hingga para pihak berwajib satpam, polisi, TNI, SAR, dan sebagainya). 

Begitu pula dengan ancaman pembegalan, selalu disarankan jangan memasuki atau melewati tempat yang sepi. Carilah untuk dilintasi, tempat yang ramai dan ada orang lain (“teman-sahabat”) di sekitar perjalanan kita. 

Mungkin demikian juga refleksi perjalan antara Elia dan Elisa. Dua Nabi Tuhan Allah. Rencana Allah memanggil Elia pulang kepada-Nya tanpa melalui kematian fisik diketahui (ayat 3,5,7). Itu sebabnya Elisa tidak ingin ditinggalkan menjelang detik-detik terakhir hidup Elia, meskipun Elia mencoba membujuknya agar mereka berpisah di Gilgal (baca lagi ayat 2). 

Perjalanan dari Gilgal ke Sungai Yordan membawa dampak besar bagi keduanya. Bagi Elisa, perjalanan itu membuka matanya untuk bergantung kepada kedahsyatan kuasa Tuhan, “teman perjalanan” sesungguhnya, Allah yang dilayaninya (ayat 11). 

Mari, persilakan Tuhan Allah menjadi sahabat perjalanan iman kita yang terutama. Lalu mau dan benar-benar bersedia menjadi teman dan sahabat perjalanan bagi anggota keluarga kita, rekan jemaat atau orang lain di manapun kita ada. 

Khususnya perjalanan Iman, Pengharapan & Kasih, berbuah melakukan lebih banyak hal-hal baik, benar dan berguna. Karena Kasih berarti siap menjadi sahabat dalam perjalanan kehidupan bersama. Amin.


Tulisan & foto: Lusindo Tobing.

06 Februari 2015

Mintalah Kepada Tuhan




Mazmur 2: 1-12

 

MINTALAH KEPADA TUHAN





Salah satu kealpaan kita yang mengaku sebagai pengikutNya, anak-anak Allah dan Umat pilihan-kesayangannya Tuhan Allah, adalah: Meminta. Ya, meminta atau memohon kepada Sang Sumber Berkat & Keselamatan itu. 

Karena yang sering kita kira Allah sudah dan pasti akan selalu memberkati kita, selalu, terus-menerus. Tetapi apa pertanggungjawaban kita? Lalu apa yang sesungguhnya Tuhan inginkan dari kita?  Dan sudahkah kita benar-benar menyembah Tuhan Allah dalam memohon dan meminta kepadaNya?

Pemazmur merasakan keyakinan yang sama saat me-nyaksikan penahbisan raja Israel yang baru. Israel adalah negara kecil dan muda. Ia hadir di tengah-tengah banyak bangsa yang relatif lebih besar dan yang tak sedikit bersikap bermusuhan dan hendak menjajahnya. Bagi pemazmur, sikap bangsa-bangsa musuh yang hendak menjegal raja Israel sama saja dengan memusuhi TUHAN (Yahweh). 

Sungguh nekat! Siapa yang dapat bertahan melawan Sang Pemilik Israel, yang telah meneguhkan takhta Israel pada pundak Daud dan keturunannya? Hanya raja urapan Tuhanlah yang mewarisi ujung bumi (ayat 8). Oleh karena itu, pemazmur mengimbau bangsa-bangsa untuk menerima pengajaran, takluk kepada Tuhan dan menyembah Dia, Allah yang sejati (ayat 10-11). Jangan sampai murka Tuhan menerpa dan kehancuran menimpa (ayat 12).

Konteks bacaan kita kali ini sesungguhnya menggambarkan pelantikan seorang raja dan upacara penobatan raja. Namun tradisi Yahudi dan Kristen mengartikannya sebagai nubuat tentang Raja-Mesias (bandingkan Kis 4:25-28; 13:33; Wah 19:19 & Ibr 1:5; 5:5). 

Allah sendiri yang melantik! Allah memberikan otoritas dan kuasa penuh kepada-Nya atas dunia ini (ayat 8-9). Tidak pernah ada raja dunia yang menerima janji semacam ini; janji ini hanya digenapi dalam Raja Mesias, Tuhan Yesus Kristus!

Di ayat 7 hingga ayat 9 perhatikanlah, bahwa “Yang Diurapi Allah” mendapatkan dua janji yakni: kekuasaan dan kemenangan.  Dua janji itu juga berlaku untuk kita yang mau datang percaya kepadaNya. Bahkan yang lebih tepat: Mau selalu percaya menyembah dan datang memohon kekuatan dan kemenangan atas berbagai pergumulan serta perjuangan hidup kehidupan.

Umat Kristen masa kini pun dapat bersorak dan beribadah dengan sukacita tanpa perlu merasa khawatir karena Tuhan Yesuslah yang telah menggenapi kemenangan istimewa Sang Raja sebagai Anak Allah dan Mesias (Kis. 4:25-26). 

Bapa menundukkan seisi dunia di bawah kaki Mesias. Semua bangsa dan setiap manusia yang tidak mau bertobat akan mendapatkan balasannya. Begitu pula pihak-pihak yang merongrong umat-Nya. Sekali kelak mereka akan dihancurkan dan musnah tak berbekas. 


Di tahun 2015 ini realitas hidup umat Tuhan tidak akan semakin ringan. Namun Dia yang sudah melalui penderitaan dahsyat, kini memerintah sebagai Tuhan dan Raja. Kita bukan hanya bisa bertahan. 

Sesungguhnya bahkan kita akan dimampukan menyuarakan kebenaran tentang Kristus kepada semua orang. Dengan nada kemenangan! "Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan" (Lukas 10: 11). Amin.



Tulisan & foto: Lusindo Tobing.

04 Februari 2015

Refleksi Minggu Kedua Februari 2015




Markus 1: 29-39





MEMBERIKAN PERTOLONGAN







Tuhan Yesus Kristus tidak hanya mengajar banyak orang (ayat 35-39). Tetapi Dia juga menyembuhkan banyak orang, termasuk ibu mertua Simon, yang menderita sakit demam (ayat 30).  

Tidak hanya orang sakit, orang-orang yang kerasukan setan pun dibawa kepada Yesus untuk disembuhkan dan dilepaskan dari cengkeraman setan (ayat 32-34). Menarik untuk dicatat bahwa Yesus tidak memperbolehkan setan-setan berbicara meski mereka mengenal Yesus. 


Ke mana pun, Ia datang untuk berbuat baik. Perhatikanlah betapa sempurna pertolonganNya itu: Tangan yang sama menyembuhkan, juga menguatkan, memampukan sehingga ibu mertua Simon –kini refleksikan juga kita di konteks jaman sekarang ini-  mampu lebih mengasihi, melayani dan memberi pertolongan kepada orang lain.


Mari meneladani kasih Tuhan Yesus Kristus. Dengan kasihNya kita dimampukan mengasihi sesama manusia. Dan tidak perlu mendengar suara godaan setan dan tipu daya iblis, yang selalu coba mempengaruhi kita untuk hidup egois, mementingkan diri sendiri dan akhirnya lambat menolong. 

Mari bersedia segera menolong sesama dan kehidupan. Khususnya memberikan pertolongan nyata kepada yang lemah, terpinggirkan dan sangat membutuhkan bantuan pertolongan. Karena sesungguhnya: Kasih berarti memberikan pertolongan bagi orang lain.  Amin.




Tulisan & Foto: Lusindo Tobing.