21 September 2017

Bahan PA Matius 13: 18-23

Bahan PA

Matius 13: 18-23



Pendidik Praksis


Sebagai awal, mari seluruh umat peserta PA kali ini, membicarakan

sejenak arti dan makna dari ungkapan seorang pendidik Indonesia:

Hasil gambar untuk ing sung tulodo tut wuri handayani

(semua peserta PA diberi waktu berbagi, mengemukakan pendapat, dan respons)
Matius 13: 18-23 berisi teks dan konteks saat Tuhan Yesus Kristus sedang meng-praksiskan pengajaran-Nya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata praksis berarti: praktik (untuk bidang kehidupan dan kegiatan praktis manusia). tentang penabur, benih dan tanah. Pengajaran praksis ditujukan-Nya bagi orang yang mendengar Firman Allah khususnya tentang Kerajaan Surga. Tuhan Yesus menyebutkan rincian seperti di pinggir jalan, tanah yang berbatu, dan bersemak duri. Penulis Injil Matius memakai penggunaan bentuk "present tense" bahasa Yunani untuk menunjuk kepada orang (siapapun orangnya), yang mau mendengar, menerima dan khususnya: melakukan Firman Allah.
Tentang pengajaran yang praksis ini, menarik karena Matius justru memperkenalkan kata hati yaitu, "Datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu." (13:19). Firman Allah menjangkau hati pendengar, tetapi sebelum Firman itu bisa mempengaruhinya, si jahat (dalam versi Injil Matius), atau si setan (dalam versi Injil Markus), atau si Iblis (dalam versi Injil Lukas) datang merampasnya. Kita mengenal ungkapan misalnya, "Masuk telinga kanan, ke luar telinga kiri," atau, "Seperti itik yang meninggalkan bekas jejaknya di air." Beberapa orang mendengarkan Firman dengan “santun”, tetapi hanya sebagai pendengar! Firman Allah itu tidak lagi berharga bagi mereka, karena hati mereka sudah keras, mereka alpa melakukan perintah-Nya.
Tiga penjelasan tentang bentuk tanah sebelumnya (tanah pinggir jalan, tanah yang berbatu-batu, tanah dengan semak duri), tidak membuat petani/sang penabur benih jadi berkecil hati. Demikian juga kita orang yang memiliki iman, pengharapan dan kasih, seharusnya tidak mengecilkan arti percaya yang sungguh-sungguh. Iman percaya yang diberlakukan dan dilakukan sungguh-sungguh berguna bagi sesama dan membangun kehidupan bersama. Benih yang ditanam di tanah yang baik akan menghasilkan panen yang berkelimpahan, hasil yang melimpah ruah. Orang yang dengan iman praksis merespons Injil tanpa perhitungan, akan berbuah berlipat-lipat tidak terhingga. "Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat" (Matius 13:23). Penulis Injil Markus memberikan urutan yang meningkat tentang berbuah yaitu "tiga puluh, enam puluh, atau bahkan seratus kali lipat." Sedangkan Injil Lukas hanya mendaftar "seratus kali lipat" di dalam perumpamaan, tetapi dalam penafsirannya dia menulis, "Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan" (Lukas 8:15).
Di pinggir jalan melambangkan hati orang yang tidak mengerti firman yang dikabarkan dan datanglah si jahat (iblis) yang merampas firman tersebut dari hatinya. Di tanah yang berbatu-batu melambangkan hati orang yang mendengar firman tersebut dan menerimanya, namun ia tidak tahan pencobaan, dan apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad. Di tengah semak duri melambangkan hati orang yang mendengar firman tersebut tetapi terbuai oleh hal-hal duniawi (kekuatiran dunia ini, tipu daya kekayaan, kenikmatan hidup) menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.
Sedangkan di tanah yang baik melambangkan hati orang yang mendengar firman tersebut dan mengerti (Injil Matius) atau menyambut (Injil Markus) firman tersebut dan menyimpannya dalam hati (Injil Lukas), dan mengeluarkan buah. Buah dalam perupamaan-perumpamaan Yesus melambangkan hasil praksis yang nyata dari kematangan dan kedewasaan spiritual. Tanah yang baik adalah tanah yang tidak keras seperti jalan setapak atau tidak dangkal seperti lapisan tanah yang berbatu-batu subur dan menyimpan udara yang lembab.
Siapakah orang yang memiliki hati yang baik dan mulia itu? Penulis Injil Matius memberikan jawabannya, bahwa Dia mengatakan, "orang yang mendengar firman itu dan mengerti." Ajaran praksis ini, tentu saja Matius mengingat lagi kutipan Kitab Yesaya, bahwa orang-orang yang memiliki hati sempurna dan mulia adalah orang yang melakukan kehendak Allah dan menjawab panggilan Allah "Siapa yang harus Aku utus?" jawablah dengan yakin, "Ini aku, utuslah aku, Tuhan." Dia adalah pendengar dan pelaku Firman. Dia mengerti karena hatinya mau menerima kebenaran Allah. Keberadaannya seluruhnya - kemauan, intelektual, dan emosinya - disentuh oleh Firman itu. Orang percaya yang praksis mengalami pertumbuhan rohani, dan menghasilkan buah; memengaruhi (baca: mengajar/mendidik) orang lain untuk beresedia melakukan kehendak Allah.
Beberapa ahli menyebut perumpamaan penabur sebagai perumpamaan dari perumpamaan-perumpamaan. Bukan berarti bahwa perumpamaan ini perumpamaan yang paling terkenal di dalam Injil Sinoptik, tetapi karena berisi empat perumpamaan yang dijadikan satu. Keempat perumpamaan ini hanyalah aspek dari satu kebenaran khusus: Firman Allah diberitakan dan memberikan tugas kepada pendengamya; umat Allah menerima Firman, mengertinya, dan dengan taat melakukan-membagikan Firman (Injil Keselamatan). Pemberitaan Injil yang penuh iman tidak akan pernah gagal menghasilkan buah karena, "menghasilkan panen, tiga puluh, enam puluh, atau bahkan seratus kali lipat dari yang ditabur."
Perumpamaan-perumpamaan Kristus selalu diambil dari kejadian-kejadian biasa di keseharian, bukan dari gagasan atau dugaan-dugaan filsafat, atau peristiwa alam yang luar biasa, walaupun semuanya itu dapat diterapkan; sebaliknya, perumpamaan-Nya berasal dari hal-hal yang jelas-jelas bisa dilihat, yang bisa diamati dalam hidup sehari-hari, dapat dimengerti dan memengaruhi orang-orang dengan pengetahuan alkitabiah yang sangat kurang sekalipun. Banyak dari antara perumpamaan-perumpamaan itu diambil dari kehidupan petani, seperti perumpamaan tentang seorang penabur kali ini.
Benih yang ditaburkan adalah firman Allah, yang di sini disebut dengan firman tentang Kerajaan Sorga (ay. 19). Penabur yang menebarkan benih adalah Yesus Kristus Tuhan kita, dan Ia melakukan-Nya sendiri atau melalui hamba-hamba-Nya (baca ayat 37). Orang-orang-Nya adalah para petani yang bekerja di ladang Allah, begitulah yang dikatakan, dan hamba-hamba Tuhan adalah kawan sekerja Allah (1Kor. 3:9). Berkhotbah kepada orang banyak adalah menabur benih. Namun “khotbah yang terbaik” adalah perbuatan praksis di setiap hari, sikap dan keteladanan mengasihi semua orang di sekitar kita tiap hari, sebab kita tidak tahu di mana benih itu akan jatuh, hanya saja, pastikan dan berikanlah benih yang berdasarkan Firman-Nya
Nah, hal yang membedakan tanah yang baik ini dengan jenis tanah lainnya hanyalah satu kata, yaitu berbuah. Praktik hidup yang nyata, berdasar iman setia dalam Tuhan Yesus Kristus  setiap hari menjadi “garam dan terang dunia.” Dalam hal inilah orang-orang Kristen dibedakan dari orang-orang munafik, bahwa secara praksis mereka berbuah banyak dan layak masuk kategori disebut “dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku” (Yoh. 15:8). Ia tidak berkata bahwa tanah yang baik ini tidak berbatu-batu, atau tidak berduri, melainkan bahwa tidak ada satu hal apa pun yang dapat menghambat tanah ini untuk berbuah.
Tuhan Yesus sendiri yang menjelaskan tentang perumpamaan ini kepada murid-muridNya. Penabur yang menaburkan benih adalah semua orang yang menaburkan Firman Tuhan. Termasuk Anda dan saya, diutus Tuhan untuk menabur, mendidik dan mengajar orang lain dengan perbuatan dan tingkah laku nyata sebagai buah dari iman kekristenan kita, agar benih yang jatuh ke tanah adalah "firman tentang Kerajaan Sorga" bisa masuk ke hati manusia.
Firman Allah dapat ditaburkan kepada bermacam-macam orang. Kita diperintahkan Tuhan Yesus untuk bersedia mengajarkan, mendidik orang lain, dengan setia mewartakan Firman keselamatan sejati. Namun, hasilnya akan berbeda tergantung pada kualitas hati orang-orang yang mendengarkan dan khususnya melakukan Firman itu. Ada orang yang menolaknya, ada juga orang yang menerimanya namun segera murtad begitu terjadi penindasan. Ada orang yang menerimanya namun menempatkan Firman itu pada posisi terakhir dalam hatinya serta menggantikannya dengan hal-hal lain (kekhawatiran, kekayaan, dan keinginan lain), dan ada orang-orang yang menyimpan Firman itu di dalam hati yang baik dan menghasilkan banyak buah.
Mari menjadi praksis dan berpraktik lewat perbuatan-perbuatan nyata kepada orang lain. Setiap hari, mari lebih banyak “sung tuladha,” menebar keteladanan iman, pengharapan dan kasih yang dari Tuhan Yesus Kristus, kepada keluarga, tetangga dan semua orang. Mari mau dididik Tuhan, mendidik diri sendiri, agar siap untuk menjadi pendidik praksis: yang mengajar sesama manusia bukan hanya dengan kata-kalimat, tetapi khususnya dengan perbuatan nyata setia melakukan, benar-benar praksis mewartakan ajaran Kasih-Nya, yang membahagiakan banyak orang lain dan membangun kehidupan bersama yang lebih baik dan benar. Berbuah-buah nyata!


Kegiatan, Pertanyaan dan Sharing
1.      Setiap peserta PA dipersilakan masuk ke dalam kelompok-kelompok kecil yang berisi 3 orang, mohon setiap orang menjawab pertanyaan ini: Sudahkan aku menjadi pendidik praksis (mengajar dengan sikap dan perbuatan nyata berdasarkan Kasih dalam Tuhan Yesus Kristus) untuk orang-orang di sekitarku? Mohon jelaskan.
2.      Lalu setiap peserta PA dipersilakan bergabung ke dalam kelompk-kelompok lebih besar (maksimal 8-10 orang), untuk merespons dan berbagai /sharing ajakan menjadi pendidik praksis ini: Bagaimana cara agar kita menjadi dan semakin menjadi pendidik praksis iman, pengharapan dan kasih kepada keluarga, tetangga, dan semua orang?
3.      Umat berkomitmen menjadi pendidik praksis, berbuah nyata, dengan mempelajari dan menyanyikan bersama Pelengkap Kidung Jemaat no. 226 bait 4:
Hasil gambar untuk pelengkap kidung jemaat 226: 4




Pdt. Lusindo Tobing

14 September 2017

Refleksi Minggu keempat September 2017


Filipi 1: 21-30



Menghasilkan Buah-buah Penyelamatan




Rasul Paulus tidak menguatirkan mengenai keselamatannya. Dia 

percaya bahwa kesudahan semua penderitaan dan penjara itu 

adalah keselamatan bagi dirinya. Baik keselamatan dalam arti ia dibebaskan dari pemenjaraan fisik maupun keselamatan surgawi (baca dan maknai ulang ayat 19).

Diri dan jiwa kita adalah milik Kristus, untuk Dia saja -- hidup atau 
mati -- kita mengabdikan diri. Dalam perikop kita kali ini, yang dikuatirkan Rasul Paulus adalah bagaimana hidupnya tetap dapat mempermuliakan Tuhan baik ketika ia ada di dalam penjara, maupun pada masa mendatang entah dalam keadaan apapun dia, bahkan sampai pada saat kematiannya (ayat 20). Bagi Paulus persoalannya bukan mati atau hidup, asalkan kedua-duanya memuliakan Tuhan.

Mari belajar meneladani Rasul Paulus, agar kita semakin melihat 


kebutuhan dan sekaligus panggilan Tuhan untuk tetap berkarya di

dalam dunia yang kian egois dan keras. Mari semakin berkomitmen

taat pada kehendak Allah yaitu tinggal di dalam dunia ini untuk 

hidup menghasilkan buah (ayat 22, 24-25). Kematian bukan 

pelarian. Selama kita hidup, kita harus memberi buah: menjadi 

berkat bagi orang-orang yang kepadanya Tuhan pertemukan. Kalau 

tiba waktunya kematian menjemput, seperti Paulus dan kitapun 

tahu, bahwa kita akan ke sorga abadi dan mulia. Namun, sekarang 

selagi kita hidup, mari semakin bekerja dan melayani Tuhan. Mari 

semakin menyenangkan hati-Nya dengan semakin menghasilkan 

buah-buah kebaikan bagi semua orang. Amin.




Pdt. Lusindo Tobing

Refleksi Minggu ketiga September 2017


Kejadian 50: 15-21


Ibadah yang Mendorong Pengampunan




Dengan penuh belas kasihan Yusuf menegaskan pengampunan dan kasihnya kepada saudara-saudaranya. Lalu menangislah Yusuf, air matanya adalah air mata kepedihan sebab kecurigaan mereka kepadanya, dan juga air mata rasa haru bisa bertemu.

Merespons saudara-saudaranya, Yusuf meminta mereka memandang hanya kepada Allah untuk pertobatan mereka (baca lagi ayat 19): "Aku inikah pengganti Allah?" Dalam kerendahan hatinya yang besar, ia menganggap mereka menunjukkan rasa hormat yang berlebihan, seolah-olah semua kebahagiaan mereka tergantung pada kebaikannya. Jadi ia merasa perlu berkata kepada mereka, seperti Petrus berkata kepada Kornelius, “Bangunlah, aku hanya manusia saja. Damaikan dirimu dengan Allah terlebih dahulu, maka kamu akan melihat betapa mudahnya berdamai dengan diriku.” Dengan pengampunan kehidupan pribadi dipulihkan, bahkan sebuah keluarga, komunitas umat, masyarakat, kota, dan bahkan negara serta dunia benar-benar dipulihkan jika ada saling mengampuni dengan kasih Tuhan.

Ketika kita mengampuni, atau lebih khusus lagi jika sebaliknya: ketika kita memohon pengampunan dari orang-orang yang telah kita sakiti, kita harus berhati-hati supaya tidak menempatkan diri kita atau mereka sebagai allah: “Aku inikah pengganti Allah, yang hanya di dalam tangan-Nya ada hak pembalasan itu? Tidak, aku akan menyerahkan kamu ke dalam belas kasihan-Nya.” Semua ini menjadi pengingatan, jika kita terus memelihara marah, dendam dan atau pembalasan sendiri, sesungguhnya kita telah merampas kedudukan dan hak Allah (maknai Rm. 12:19). Mari teladani Yusuf, dan belajar untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Yusuf mengampuni dan menghibur, menghentikan semua ketakutan saudara-saudaranya, Yusuf menenangkan hati mereka dengan perkataannya. Kepada orang-orang yang kita ampuni, mari bukan hanya kita tenangkan dengan perkataan, tetapi khususnya dengan respons perbuatan-perbuatan baik kita kepada mereka. Amin.


Pdt. Lusindo Tobing

Refleksi Minggu kedua September 2017


Matius 18: 15-20


Terbuka terhadap Teguran Allah 



Ibadah yang kita lakukan, sejatinya adalah proses untuk membuat 

kita semakin terbuka. Tepatnya dibukakan hati pikiran karena 

mengalami pencerahan dalam kasih Allah. Bermuara pada 

kesediaan kita terbuka dan membukakan hati-pikiran orang lain 

juga. Khususnya terhadap kebiasaan buruk, kesalahan dan dosa-

dosa. Dalam perikop kali ini ada petunjuk dari Tuhan Yesus 

Kristus untuk kita mampu menegur, menasihati dan membimbing orang lain dengan kasih. Teguran dan nasihat itu harus dilakukan bertahap. Pertama, hendaklah dilakukan dalam pembicaraan pribadi antara Anda dan dia (ayat 15). Jika tahap teguran dan nasihat itu tidak ditanggapi, perlu menghadirkan saksi bukan untuk menghakimi, melainkan sebagai upaya menyadarkan (ayat 16) dan seterusnya. Intinya kita mau dipakai menyalurkan teguran Allah kepada diri sendiri dan kepada semua orang.


Sebab sesungguhnya, terbuka terhadap teguran Tuhan akan 

memampukan kita semakin terbuka mengasihi dan melakukan

kebaikan-kebaikan. "Apabila saudaramu berbuat dosa, 

tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan 

nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.” (ayat 15). Mendengar teguran Allah adalah ibadah kita. Ibadah di Hari Minggu, namun juga ibadah hari demi hari. Sehingga Dia selalu hadir dalam kehidupan kita bersama keluarga, umat Tuhan (gereja), bahkan masyarakat luas.

“Dan lagi Aku berkata kepadamu:  

Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (ayat 19-20). Mari beribadah dan mempraktikkan ibadah GKJ Nehemia yang lebih terbuka. Urutan liturgi bisa tetap sama, namun isi ibadah seharusnya hati dan sikap kita yang lebih terbuka, lebih mampu saling menerima dan memberi ruang antar umat, lalu di keseharian dengan tetangga, bahkan menrima orang lain yang berbeda sangat tajam dengan kita. Dalam percakapan, dialog, pelayanan gereja, hidup lingkungan masyarakat, kerjasama studi dan kerja kita, mari lebih banyak “menegur” dengan perbuatan nyata, dengan penuh kasih. Amin.



Pdt. Lusindo Tobing


30 Agustus 2017

Refleksi Minggu pertama September 2017


Matius 16: 21-28




Beribadah dengan Memikirkan Apa yang

 Dipikirkan Allah




Pikiran Simon Petrus menentang pikiran Guru dan Tuhannya: Yesus Kristus. Jelas Petrus hanya menggunakan hikmat dunia, bukan hikmat Allah dalam Tuhan Yesus Kristus. Petrus tidak dapat menerima bahwa Mesias, Anak Allah yang hidup, akan mati. Kristus mengungkapkan pemikiran lain yang berbeda kepada Petrus dan para murid-Nya, dengan memberitahukan perihal salib dan penderitaan. Petrus masih sulit berpikir bahwa kematian, bagi Tuhan bukan berarti kekalahan dan atau kegagalan. Kematian-Nya justru mengalahkan maut dan dosa. Tidak sepatutnya Petrus membantah apalagi menasihati-Nya dengan nada memerintah: "Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau" (ayat 22), padahal Kristus telah berkata, "Hal ini harus terjadi" (ayat 21). 

Ketika kita ditipu (seperti kasus First Travel), atau ketika musibah bencana alam menghantam (seperti hujan badai dan banjir yang menerjang Texas, Amerika), mari tetap bahkan semakin berpikir seperti Allah berpikir. Bukan pola pikir iblis, Petrus ditegur Tuhan Yesus, “Enyahlah iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia (ayat 23). Hal-hal yang dipikirkan Allah memang seringkali berbenturan dan bersilangan dengan hal-hal yang dipikirkan manusia, seperti kenikmatan daging, kesenangan pribadi, dan nama baik kita saja.

Mari berjuang mewujudkan pikiran-Nya yakni mengasihi, memberkati dan menyelamatkan semua orang. Jika hal-hal ini yang kita pikirkan, maka kedagingan kita sangkal, bahaya bisa kita hadapi, dan kesukaran dapat dijalani serta diselesaikan. Kita semakin bersedia memikirkan keadaan orang lain, bukan hanya diri sendiri dan siap membantu sesama manusia dengan Kasih Allah. Dasar semua itu sekali lagi adalah: selalu memikirkan apa yang dipikirkan Allah. Sehingga kita tidak hanya beribadah di Hari Minggu tok, tetapi di keseharian kita menyembah dan memuliakan (beribadah) kepada Tuhan Allah. Setiap hari, kita mewujudnyatakan pikiran Allah dengan menjalani kehidupan yang menghidupkan! Amin.



Pdt. Lusindo Tobing

sampul buku terbaru





Terpujilah Tuhan... ini sampul buku aku (terbaru) yang akan terbit, sedang antre cetak di BPK Gunung Mulia 


25 Agustus 2017

Refleksi Minggu keempat Agustus 2017



Yesaya 51: 1-6 

Peka Mendengar Suara Tuhan

 

Sejak remaja, saya sudah menyukai seni khususnya music dan lagu tradisional. Anda pasti setuju bahwa ada keindahan illahi dalam nada yang dimainkan, ada terapi pemulihan dana atau pemberi semangat dalam suara music serta suara, dan kebijaksanaan di tiap kata kalimat syair juga harmoni yang kita dendangkan dan nikmati. Seperti keindahan perikop kita kali ini: Suara Allah yang menghibur Israel. Juga kita yang membacanya di konteks kekinian.

Israel masih menjalani penderitaan di tanah pembuangan akibat
dosa mereka. Keadaan tersebut membuat mereka sulit merasakan
penyertaan Allah. Namun Tuhan mengingatkan bahwa berkat
Abraham tetap berlaku. Allah mengajak umat-Nya mengenang
kembali perbuatan-Nya dahulu saat Ia memberkati keturunan
Abraham dan Sara sehingga mereka menjadi bangsa yang besar.
Kini Ia akan melakukan perbuatan yang sama yaitu membangun
kembali kesatuan umat Israel (ayat 2-3). Bahkan lebih lagi,
keselamatan juga akan datang kepada bangsa-bangsa lain (ayat
4-6). Mari peka dan mau semakin mendengar suara-Nya, agar masa
depan cerah berada di pihak kita, tetapi bila tidak, penghukuman
Tuhan menjadi bagian kita. Kata-kata penghiburan yang
disampaikan untuk orang yang menderita bagaikan air sejuk bagi
yang kehausan. Kalau Allah yang menghibur, kesejukannya
memancar dari hati dan mengalir ke seluruh tubuh.

Peka untuk mendengar dan mengeal Suara-Nya, melalui fenomena kehidupan sehari-hari khususnya melalui seni-budaya kita, tidak boleh berakhir. Budaya adalah warna dan cermin kehidupan, yang harus bisa kita gunakan menjadi saluran suara Tuhan yang menghibur, menuntun dan menguatkan, menjadi saluran pewartaan Keselamatan-Nya kepada semua orang. Amin.


Pdt. Lusindo Tobing