22 Juli 2015

Misi Pewartaan Dan Kesaksian Sebagai Sebuah Model Berteologi Dan Bergereja Kontekstual Di Indonesia Saat Ini





Misi Pewartaan Dan Kesaksian Sebagai Sebuah Model Berteologi Dan Bergereja Kontekstual Di Indonesia Saat Ini
Oleh: Lusindo Yosep Tobing

 

Konteks Berteologi Dan Bergereja Kini.
Berteologi dan bergeraja tidaklah boleh, bahkan sesungguhnya tidaklah bisa lepas dari konteks lokal di mana Tuhan menempatkan kita: Umat, para pelayan dan gereja-Nya berada. Mewartakan dan memberikan kesaksian tentang Iman, Pengharapan dan Kasih ke dalam bentuk bahasa dan gaya hidup sesuai kekinian. Sehingga ada proses spiritual, kognitif  bahkan pemulihan sikap tingkah laku, masuk dalam proses penyelamatan Allah bagi manusia dunia yang terus berlangsung, serta bagi seluruh ciptaan yang tiada henti.  
Dan inilah misi gereja sebenaranya, dilaksanakan pada lingkungan konkret di satu konteks tertentu, namun juga dalam kesetiaan kepada Injil (Kabar Baik – Kabar Keselamatan). Serta tradisi teologi, praktik liturgi dan kehidupan kristiani di lingkungan Indonesia yang kaya budaya tiap lokal, sejarah, sosial, sangat beragam identitas masyarakatnya dan bersamaan dengan itu semua: Semakin maju.
Ya, kalau boleh dikatakan saat ini, manusia Indonesia (rakyat dan bangsa Indonesia), tidak terlepas Gereja dan jemaat, bersepakat untuk menerima kemajuan teknologi dan media. Dengan menggunakannya di tidak lagi “hampir di semua”, tetapi sudah di semua aspek kehidupan Indonesia kita. Termasuk khususnya Gereja-gereja di Indonesia. Di banyak pelosok desa dan tentu hingga kota-kota. Pergaulan dengan dunia luar memang tidak terbantahkan lagi. Satu sisi sangat menggoda rayu, sehingga beberapa pihak memandang sangat negatif dengan konteks keterbukaan informasi serta komunikasi saat ini.
Namun di sisi lain, seperti di setiap fase dan langkah durasi kehidupan manusia adanya, terbukti Indonesia juga mampu mempengaruhi keadaan. Bahkan mengundang dunia untuk datang ke konteks Indonesia. Bersamaan serta –dengan semangat misiologia- Gereja dan jemaat dari hal paling sederhana kesehariannya mampu memberi sumbangsih. Dalam pelestarian nilai-nilai luhur tiap lokal Indonesia, dengan diisi terang Sabda pewartaan dan kesaksian bagi kehidupan.
Dipengaruhi juga untuk mempengaruhi, mendengar banyak untuk akhirnya dimampukan Tuhan mewartakan lebih banyak bahkan lebih baik. Di dan ke konteks di dalam Indonesia di mana kita masing-masing berteologi dan bergereja, bahkan dari Indonesia kepada dunia luar, luas tak terbatas melalui media yang kian pesat maju. 
Inti yang konstan, yang harus ada dan paling penting adalah Pemerintahan Allah (mencuplik istilah dari Stephen Bevans dan Roger Scrhoeder, di buku mereka Constans in context: A theology of mission for today). Yakni mewartakan, melayani dan bersaksi  mengenai  Injil tentang dan dari Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita. Komitmen Gereja untuk mewartakan, melayani dan bersaksi tentang Pemerintahan Allah inilah yang memastikan Gereja menerima dan melestarikan jati dirinya. Hidup bergereja dan berteologi di konteks Indonesia, bergumul serta berjuang dalam penantian eskatologis sampai kedatangan Tuhan kembali. Dengan misi pewartaan dan kesaksian yang terus-menerus menawarkan penyembuhan dan keutuhan kepada semua manusia juga seluruh ciptaan.
Termasuk (contoh) misalnya dalam berkhotbah dan mewartakan melalui berbagai bentuk pengajaran dan tuntunan. Sepanjang durasi sekitar 14 tahun penulis melayani sebagai pendeta (juga pengkhotbah), konteks dan perkembangan menuntut Ilmu berkhotbah (homiletika) yang lebih baru. Dan ini sangat berhubungan dengan berbagai unsur berteologi, bergereja, bahkan hidup nyata menjadi “garam dan terang dunia” berbangsa-bernegara dan bermasyarakat kita. Sekali lagi bentukan baru pewartaan dalam penyampaian Firman Allah, terlebih melalui khotbah atau pewartaan lainnya dengan menggunakan multi media (media tulisan, gambar, suara dan bentukan lainnya).
Misi pewartaan dan kesaksian yang lebih baru, yang muncul dari proses memahami perubahan masyarakat Indonesia serta jemaat yang kian modern. Khususnya soal teknologi dan kaitannya dengan gaya berkomunikasi. Ini menjadi salah satu model berteologi dan bergerja saat ini, mengkomunikasikan benih-benih Kebenaran serta mengajarkan (Pemerintahan) Kerajaan Allah kepada “pemerintahan dunia, keluarga bahkan tiap pribadi manusia”. Sebab Gereja menjadi benar-benar Gereja jika mengarahkan pewartaan kesaksiannya hanya tentang Kerajaan Allah, selalu mengewajantahkan pelayanan Yesus Kristus sebagai wajah Roh Kudus. Kepada jemaat dan umat Tuhan di era ini, yang memang lahir dalam dunia multi media serta teknologi. Hidup dalam konteks media kreatif, komunikatif serta penuh interaktif yang tampaknya sudah makin menyatu dalam diri manusia juga jemaat Indonesia.    

Melakukan Pewartaan Baru Dan Kesaksian Baru
Para teolog primer (Stephen Bevans dan Roger Schroeder, Peter C. Phan dan Bryan P. Stone) tentulah sama-sama sepakat bahwa Gereja pada hakikatnya bersifat misioner. Dan jemaat seluruhnya adalah misioner, oleh karena diutus Tuhan ke dalam dunia. Dan secara autentik mengambil bagian dalam misi Allah. 
Selalu terjadi dalam satu konteks tertentu. Bahkan konteks kekinian. Di konteks yang akan selalu juga semakin baru. Selalu berjuang mengkomunikasikan Injil dalam bingkai kebudayaan tertentu. Dalam bahasa tertentu. Dan lengkap dengan berbagai keunggulan serta keterbatasan dari satu kurun tertentu. Peter P. Chan misalnya menampilkan perjuangan misi pewartaan dan kesaksian seperti yang dilakukan Alexandre de Rhodes di Asia, khususnya misinya di Vietnam.
Mewartakan teologi misi dalam konteks Vietnam , menerjemahkan Kristus dan kekristenan ke dalam bahasa masyarakat asli yang menerima khotbah-khotbah dan pelayanannya. Disertai banyak sekali tantangan, pergumulan dan perjuangan lainnya. Hingga mungkin pantas jika de Rhodes diproklamirkan sebagai pendiri Kekristenan di Vietnam. 1
Selalu fokus kepada konteks masyarakat Vietnam, bagaimana mereka dalam kebersamaan hidup sehari-hari. Dan aktual dalam pewartaan dan kesaksian, dibandingkan cuma berkutat tentang teks dan tulisan kekristenan, serta teks agama-agama lainnya di sana.2 Ini sangat menarik. Misi kita adalah manusia. Mewartakan Injil kepada manusia. Semua ini dapat berlangsung sejauh kita dan Gereja setia kepada misi Allah, yang peka terhadap konteks demi konteks. Yang baru tiap bagian dan masa. Hingga kita saat ini, sekarang ini, tarik langsung di konteks Indonesia khususnya, misi pewartaan dan kesaksian sebagai sebuah modal haruslah terus diberlakukan, bahkan dikembangkan.

---------------------------------------------------------

1.      1. Peter C. Phan, 2003. In Our Tongues:Perspectives from Asia on Mission and Inculturation. Maryknoll, N.Y.: Orbis Books. (Page/hal. 156 & 161)
2.      2. Ibid. 166-167.




Berteologi dan bergereja yang lebih rendah hati. Berteologi dan bergereja yang semakin maju dan canggih tetapi diawali dan terus lebih semakinlebih lagi untuk mendengar dan “mendengarkan” (dengan hati dan pikiran baru). Memantulkan berbagai nilai, penemuan, prasangka dan impian dari zaman dan situasi di mana pun kita berada. Konteks baru namun dengan isi pewartaan dan pusat kesaksian yang tetap, konstan sama: Pemberitaan Injil Yesus Kristus.
Di corak kontekstual yang radikal sekalipun, di rupa-rupa konteks yang tak tersangkakan, misalnya apakah di konteks Persia kuno, di Cina abad ke-8, taua konteks Italia abad ke-12, Paraguay di abad ke-16 atau di Afrika pada abad ke-19, tetaplah pusat pewartaan dan misi adalah Injil. Pelayanan dan kesaksian tentang Pemerintahan Allah itu adalah senantiasa Yesus Kristus.
Stephen Bevans dan Roger Schroeder bahkan menilik ke belakang serta memaknai kedalaman konteks Kisah Para Rasul misalnya.3  Roh Allah membimbing jemaat bahari ke luar dari berbagai prasangka dan pra-andaiannya agar merangkul sebuah konteks baru, tentu sesudah konteks yang lain. Sebuah praktik religius yang sama sekali tidak pernah terbayangkan. Menjadi jemaat yang diwartakan tetapi juga siap mewartakan dan bersaksi nyata tentang penyelamatan dan pemerintahanNya.
Terlebih lagi dengan tumbangnya kolonialisme, renaisans agama-agama dunia, merosotnya agama Kristen di Eropa, juga perpindahan penduduk Dunia Ketiga ke Dunia Pertama. Walau sejujurnya untuk konteks Indonesia belumlah seluruhnya. Ditambah transportasi yang kian cepat, komunikasi satelit dan dunia maya, komunikasi tembus batas, dan  globalisasi yang dilengkapi dengan meroketnya sistem multi media dunia, maka sesungguhnya era baru misi dimulai! Misi dengan sebuah konteks yang baru lagi!
.


--------------------------------------
3.      3. Bevans, Stephen B. and Roger P. Schroeder. 2004.  Constants in context:  A theology of mission for today.  Maryknoll, N.Y.: Orbis Books.





Teologi misi dalam kuartal terakhir abad ke-20: Misi sebagai partisipasi dalam hidup dan misi Allah Tritunggal; misi sebagai kesinambungan misi Yesus untuk mewartakan, melayani dan bersaksi tentang Pemerintahan Allah yang “sudah” namun sekaligus “belum” terwujud; dan misi sebagai pewartaan tentang Kristus sebagai satu-satunya penyelamat dunia.4 Ketiganya menjadi unsur-unsur dari sebuah sintesis yang melayani dana sekaligus melandasi teologi misi untuk abad ke-21 dan juga milenium ketiga.  Misi sebagai dialog profetis.
Secanggih apapun situasi kondisi. Sentral  tetaplah Yesus Kristus, hakikat misioner Gereja tidaklah berubah, karunia rahmat Allah tetap dicurahkan untuk Gereja, untuk semua manusia dan untuk segenap ciptaan. Namun cara misi itu dilaksanakan mesti berubah.  Terlebih di konteks majemuk namun  sangat cepat meningkat teknologi medianya. Namun tetap dengan misi yang mesti dan pastilah bercorak: Dialogis dan Profetis. Dialog-Profetis (Prophetic Dialogue). Dan inilah inti kekuatan misi pewartaan dan kesaksian itu. 
Dialogis karena partisipasi Gereja atau jemaat dalam hakikat dialogis Allah Tritunggal yang misioner tadi, di berbagai konteks dunia dan kehidupan yang kian berubah. Dan Profetis karena kebenaran harus diungkapkan dan dirumuskan dengan tegas juga jelas!
Yang menurut Bryan P. Stone tentulah sangat membutuhkan waktu, proses panjang dan pengalaman yang perlu dipelajari, diingat dan dijadikan bagian pengembangan misi pewartaan dan kesaksian yang baru. Bahkan terus baru. Yang selalu memungkinkan pemberian tempat yang luas kepada unsur budaya, sejarah, dan berteologi serta bergereja dengan semangat mengabarkan Injil sebagai kabar baik dan kabar keselamatan akan semakin kuat.  



--------------------------
4.      4.Bevans, Stephen B. and Roger P. Schroeder. 2004.  Constants in context:  A theology of mission for today.  Maryknoll, N.Y.: Orbis Books.  (Pages/hal. 351).





Misi pewartaan dan kesaksian dalam praktiknya dialogis dan profetis yang terus-menerus mengikuti perkembangan jaman tentulah tidak sederhana dan tidaklah mudah.5  Namun harus terus kita berlakukan. Di sepanjang kehidupan berteologi dan bergereja, di manapun, terlebih di Indonesia yang sangat plural namun sangat sepakat untuk canggih dalam bermulti media tadi.
Sehingga Gereja, jemaat dan bahkan keluarga hingga tiap pribadi kita punya sebuah model berteologi yang kuat. Relevansinya adalah semakin berpegang dan berisi Injil maka semakin kuat pewartaan dan kesaksian kita bahkan semakin maju. Mengikuti dan mengantisipasi kemajuan kehidupan manusia. Bahkan berhasil memberi jawaban atas berbagai pertanyaan, pergumulan dan “kehausan” insan manusia di dalam Indonesia juga dunia, di dalam Gereja maupun khususnya di luar Gereja. 
Dan diingatkan lagi dengan kuat oleh teolog Stephen Bevans dan Roger Schroeder bahwa kita sebagai umat Tuhan hanyalah insan biasa dan malahan berdosa, tetapi sekaligus adalah “yang dirahmati kehadiran Allah yang tersembunyi”. Allah yang bertindak secara universal. Yang sejak halaman-halaman pertama Alkitab, kita sudah dijabarkan dengan karya serta perbuatanNya terhadap seluruh dunia. Dan kitalah alat dalam proses penyelamatan-Nya bagi dunia tiap waktu.
Teranyam dalam sejarah tentang orang-orang Kristen yang tulus berjuang, bersekutu dan bersama-sama (di tiap bagian masing-masing) selalu memperbarui pewartaan dan kesaksian kepada hidup anggota gereja juga kepada semua kehidupan manusia, untuk tetap setia kepada Roh Allah tatkala Roh itu menyatakan diriNya dalam aneka cara baru.




-------------------------------------------
5.      Bryan P. Stone, 2007 Evangelism after Christendom – The Theology and Practice Christian Witness. BrazosPress, Grand Rapids, Michigan. (Introduction, page/hal. 10).




Kritis-Reflektif Pewartaan Dan Kesaksian
            Dan rupanya, pewartaan serta kesaksian yang unggul adalah Firman dan pelayanan dapat berjalan khususnya berfungsi di dalam kebersamaan persekutuan hidup sehari-hari. Dan untuk itu tidak lain dibutuhkan model berteologi dan bergereja yang baru. Model berteologi dan bergereja yang kontekstual di Indonesia sekarang ini. Dan akan terus maju juga berkembang lagi. Struktur Gereja yang berisikan jemaat Tuhan yang benar-benar misioner tadi sudah seharusnya sesuai dengan struktur lingkungan dan manusia sekitarnya.
            Sehingga pewartaan dan kesaksian kita (sebagai Gereja dan jemaat) tentang Pemerintahan Allah, Kerajaan Allah dan Kesalamatan dalam Yesus Kristus, sebagai Tuhan dan Juruselamat, benar-benar memasuki tempat di mana manusia sekitar kita berada. Bahkan Pewartaan dan kesaksian kita benar-benar memasuki, nge-link, dengan pikiran dan hati lingkungan di mana kita berada. Di sini barulah misi kita akan berhasil.
            Kabar baik dan keselamatan (Injil) harus tetap menjadi inti. Pewartaan dan kesaksian kita bukanlah untuk menyesuaikan Injil  kepada keadaan sekitar. Bukan!  Tetapi agar kita mau dan mampu (lebih tepatnya akhirnya dimampukan Allah) untuk mencari bentuk-bentuk baru yang cocok dengan situasi kondisi tanah dan manusia Indonesia. Sehingga Injil yang sudah teruji berabad-abad lamanya dalam pewartaan dan kesaksian Gereja, akan terus in context (ada dalam konteks). Baik dalam dan dari jemaat desa, maupun jemaat di daerah perkotaan, yang konteks sekarang ini sudah mengalami perubahan kebiasaan dan struktur hidup. Semakin terbuka dan sangat menggunakan berbagai pilihan media.  
Bahkan kesaksian (melalui hidup kita sehari-hari dengan sesama manusia) dan pewartaan (pengajaran kepada umat khususnya melalui khotbah) sekarangpun, di era multi media ini, tetap dijuruskan kepada pewartaan tentang Yesus sebagai satu-satunya penyelematan dunia yang sejati. Pewartaan selalu tentang penerobosan Pemerintahan Allah, yakni pemerintahan penyelamatan yang penuh belas kasih dan keadilan serta perdamaian.


Terlebih misi pewartaan dan kesaksian kita di Indonesia dengan kemajuan media dunia sekarang ini. Misi kita sebaiknya kita upayakan selalu mengakui martabat dan tragedi pribadi manusia. Misalnya (dalam khotbah atau bentuk pengajaran lain) menampilkan gambar atau video pembakaran mesjid dan beberapa rumah di Papua beberapa saat lalu, bukanlah untuk memanaskan hubungan sosial masyarakat dan antar umat beragama di Indonesia. Apalagi dilanjutkan dengan berita pembakaran pintu salah satu gereja di Purworejo, tidaklah untuk menuju perseteruan apalagi saling membenci. Tetapi hal-hal seperti itu, jika berani kita gunakan adalah benar-benar untuk intropeksi Gereja, para pelayan misi-Nya juga seluruh jemaat untuk lebih berani dan rendah hati mewartakan syalom.
Pewartaan dan kesaksian kita yang lebih terbuka selanjutnya akan menjadi indikasi, tetapi juga model yang akan terus kita perbarui. Pewartaan dan kesaksian yang canggih adalah misi menggunakan berbagai kemajuan zaman serta berbagai unsur media yang kian tersedia. Tidak berhenti berinovasi, agar akhirnya berhasil bukan sekadar meninggalkan kekolotan soal-soal material dan lahiriah. Tetapi bisa berhasil menarik perhatian jemaat dan siapapun manusianya, untuk mendengar, membaca, merefleksikan Injil. Bahkan semakin diundang untuk bergabung ke dalam suatu persekutuan iman, pengharapan dan kasih.
Di sinilah akhirnya kita semakin sadar dan tercerahkan pentingnya “mendengar”, mengetahui dan benar-benar ada di konteks. Agar kesaksian dan pewartaan kita sesungguhnya wajib ditunaikan sebagai dialog profetis. Berjuang menuju dan memberlakukan misi pewartaan dan kesaksian sebagai sebuah model berteologi dan bergeraja kontekstual di Indonesia yang semakin multi media, tetap berisi Injil Kebenaran itu, yang diberlakukan dialog profetis yang juga multi media.   
Mari jangan menutup mata terhadap masyarakat sekitar kita di Indonesia (khususnya) dan kehidupan dunia secara global. Terbukalah dan fleksibel terhadap tiap-tiap tempat dan keadaan sekarang ini hidup, bekerja, belajar dan bertumbuh. Mari jadilah Gereja dan atau jemaat yang misioner, dengan bersedia menjadi anggota juga pelayan misi Gereja dan jemaat yang sejati lagi. Tidak sekadar berpangkal pada manusia, tetapi pada Injil. Hanya saja kita menuju kepada keselamatan manusia seluruhnya.


Bahkan seorang teolog tentang Missiologia, Arie de Kuiper berkata sampai pada hal yang konkrit: Misalnya produksi dan penyebaran bacaan Kristen, termasuk penterjemahan, penyebaran dan penerangan Kitab Suci; kehadiran Kristen di dalam mass-media (bidang persurat-kabaran, radio dan TV); tetapi juga perkunjungan rumah tangga; percakapan perorangan maupun mass-meetings.6 Dan berbagai media dan tempat lainnya. Pewartaan dan kesaksian Injil bisa kita jadikan sebuah model berteologi dan bergereja yang kontekstual. Di Indonesia bahkan dunia secara luas, saat ini. 
Akhirnya, hanya dengan mewartakan, melayani, memberi kesaksian tentang Injil dan Pemerintahan Allah dalam dialog profetis yang berani, mau mendengar, penuh kerendahan hati dan selalu baru serta berinovasi hanya dalam tuntunan Roh-Nya. Maka Gereja yang misioner dan kita semua sebagai jemaat, serta pelayan-pelayanan misi-Nya, akan senantiasa konstan dalam memberlakukan misi di konteks kekinian. Khususnya pewartaan dan kesaksian kita di masa Tahun 2015 ini, misi pewartaan dan kesaksian sebagai sebuah model berteologi dan bergereja kontekstual di dunia media era millenium ke-3 juga seterusnya, khususnya di Indonesia yang sudah berada di abad ke-21 kini dan selamanya.











------------------------------------------------
6.      Lih. De Kuiper, Arie, Missiologia Ilmu Pekabaran Injil. (Cet. 23 Jakarta, BPK-GM, 2014),  hal.104-105.

14 Juli 2015

Refleksi Minggu Ketiga Juli 2015


Mazmur 23: 1-6



MEMBIMBING & MENUNTUN





Mazmur 23 sudah sangat dikenal sebagai nyanyian yang mengungkapkan kepercayaan, mazmur ini tidak memiliki bandingan yang sejenis atau seangkatan. Mustahil untuk memperkirakan pengaruhnya terhadap manusia sepanjang abad. 

Pernyataan iman yang kuat ini telah memebimbing iman, menghalau dukacita, kesedihan, dan keraguan. Menuntun kepada damai sejahtera, kepuasan, dan kepercayaan telah menjadi berkat bagi orang-orang yang ikut merasakan keyakinan luhur pemazmur. 

Domba adalah binatang yang tidak dapat hidup lepas dari sang gembala sebab ia tidak dapat mencari makan dan minum sendiri atau pun melindungi dirinya sendiri dari serangan binatang buas. Demikian pula Daud (dari usia muda hingga tuanya) dalam menjalani hidup senantiasa membutuhkan pertolongan Allah. Sebab Allah -Sang Gembala-  yang membimbingnya untuk mendapatkan kasih karunia secara benar dan sehat. 

Tanpa bimbinganNya, hidup dunia justru akan menghancurkan kita, Daud juga menyadari bahwa ia bukan hidup di surga namun di dunia yang telah jatuh ke dalam kuasa dosa. Daud terancam mengalami penindasan dan ketidakadilan yang bisa membawanya kepada kematian. Tetapi ia tidak takut sebab Allah yang menyertainya, berkuasa membimbing, selalu menuntun dan melindunginya (baca ayat 4).

Bimbingan bijaksana dari Sang Gembala inilah yang bisa kita teruskan kepada generasi ke generasi berikutnya. Sehingga kita (yang sekarang muda atau tua) bisa menuju tempat yang tenang dan menyegarkan. Juga anak-anak serta menantu kita dimampukan melewati pergumulan-pergumulan hidup. 

Dan bahkan para cucu dan keturunan seterusnya dimampukan “Gembala kita yang baik” menjalani dan melewati  tempat dan situasi sangat berbahaya sekalipun! “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;  Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” (ayat 2-3). Amin.



Tulisan & Foto: Lusindo Tobing.

10 Juli 2015

Bahan PA Amsal 21: 20-21.


Amsal 21: 20-21



MENGEJAR KEBENARAN DAN KASIH



Seorang kaya mengajak anaknya yang masih kecil menginap beberapa hari di rumah PakDe di desa. Ketika kembali ke kota, ini ungkapan polos si anak, " Luar biasa ...Ayah aku suka sekali di sana", "Ayah harus repot-repot membangun kolam renang dibelakang rumah kita...sedangkan PakDe kolam renangnya panjaaang sekali seru deh Yah aku main dengan teman-teman disana. Terus disamping rumah PakDe halamannya luas sekali sehingga bisa bermain layangan disana...sedangkan halaman rumah kita sempit dan tidak bisa melihat apa-apa karena terhalang tembok. Kita harus antri dan membayar setiap belanja di supermarket sedangkan mereka tinggal memetik dari kebun mereka dan tidak bayar!" Lalu anaknya melanjutkan dengan mata berbinar " Di halaman mereka di malam hari kita bisa memandang lampu dilangit yang banyak sekali sedangkan kita setiap sore harus menyalakan lampu taman, Ayah harus bekerja keras sampai malam ,sedangkan PakDe hanya sampai sore sudah sampai di rumah dan bisa bermain dengan anak-anaknya. Di sana bisa naik hewan-hewan tanpa harus membayar dan harus pergi ke kebun binatang untuk melihat hewan. Aku disana sudah naik kerbau, sapi bahkan kuda Yah bahkan ada banyak hewan yang lain kutemukan disana yang tidak ada di kota kita! Wah sepertinya kita adalah orang miskin, kita kalah kaya dengan mereka Ayah."

Mari refleksikan cara pandang si anak dengan cara pandang kita. Bahkan mari, memiliki cara pandang seperti si anak tersebut. Kepolosan dan ketulusan hati akan membuat kita bisa lebih bijak memaknai kenyataan hidup. Sehingga kita mampu melihat ada kelebihan pada orang lain, tidak hanya melihat kekurangan mereka saja. Dan sebaliknya ada kekurangan kita, tidak hanya melihat kelebihan kita saja.

Seperti pada bahan bacaan PA kali ini (Amsal 21: 20-21), di berbagai pergumulan serta perjuangan di kehidupan nyata, orang-orang yang bijak akan menambah apa yang mereka miliki dan akan hidup secara berkelimpahan. Hikmat mengajar mereka menyeimbangkan pengeluaran dengan pendapatan mereka.

Maka dari itu, ada harta benda untuk diinginkan, dan sebanyak yang perlu, yaitu persediaan segala benda untuk kemudahan hidup, yang dikumpulkan pada musimnya, dan khususnya minyak, salah satu bahan pokok di tanah Kanaan (baca Ulangan 8:8). Harta ini berada di kediaman, atau di gubuk, dari orang bijak. Karena itu, lebih baik mempunyai rumah model kuno namun lengkap perabotannya, daripada rumah modern yang indah namun tidak diurus dengan baik. Allah memberkati usaha-usaha orang bijak, dan kemudian rumah tangga mereka diperlengkapi.

Orang-orang bebal menghabiskan apa yang mereka miliki untuk memuaskan hawa nafsu mereka, dan dengan demikian menghabiskan seluruh persediaan mereka. Orang-orang yang tidak tahu mengurus harta mereka adalah yang tanpa pikir panjang menghabiskan apa yang mereka punya, dan tidak memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan lebih.

Itu berarti mengejar kebenaran dan kasih, tidak berpuas diri dengan perbuatan-perbuatan yang gampangan, tetapi melaksanakan iman-pengaharapan-kasih kita terus-menerus. Dengan tulus dan benar. Orang-orang Yahudi mengejar kebenaran, namun tidak memperolehnya, karena mereka mencari dengan salah (baca & bandingkan Roma 9:31). 

Tetapi kalau kita mencarinya dengan benar, carilah, maka kamu akan mendapat, dan dengan itu pula kamu akan mendapat baik kehidupan maupun kehormatan, kehidupan dan kehormatan kekal: Mahkota Sorgawi.
Marilah kita mengejar kebenaran dan keselamatan dengan iman. Lalu diwujudnyatakan lewat sikap bijak serta perbuatan-perbuatan benar dan mengasihi. “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah  dan kebenarannya , maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6: 33)
Orang berhikmat dan bijaksana akan memperoleh semua kebutuhan hidup, sedangkan orang bebal memboroskan segala milik mereka untuk hal-hal yang mereka tidak perlu hanya demi kesenangan (baca Amsal 21:17). Allah berkenan kepada orang yang dengan bijaksana menerima tingkat kehidupan yang lebih rendah daripada berutang dan hidup melampaui kemampuannya. Orang yang bijak tidak akan menghabiskan hartanya begitu saja (ingat lagi ayat 20).

Berarti mengejar kebenaran dan kasih, tidak berpuas diri dengan perbuatan-perbuatan yang mudah, tetapi melaksanakan kewajiban kita dengan sepenuh hati dan bersusah payah, seperti orang yang terus berusaha maju dan takut jangan sampai tertinggal. Kita harus berlaku benar dan juga setia mengasihi sesama sebagai wujud mengasihi Allah., Dan harus terus melangkah maju serta bertekun di dalamnya. Meskipun kita tidak dapat benar-benar mencapai kesempurnaan, namun akan menjadi penghiburan bagi kita jika kita berusaha mencapainya dan mengejarnya.

Dan jika kita benar-benar mau dan setia menjadi orang-orang yang mengejar kebenaran dan kasih, Allah di dalam tuhan Yesus Kristus dan urapan Roh Kudus-Nya pasti memberikan anugerah untuk kita dimampukanNya berbuat baik. Menikmati kesenangan serta penghiburan dalam melakukannya. Karena orang-orang yang dengan kesadaran hati nurani berlaku benar terhadap orang lain akan mendapatkan kesenangan dan penghiburan dalam memberlakukan.

Orang-orang yang dengan kesadaran tulus hati mengasihi orang lain akan diperlakukan secara baik. Dan kalaupun tidak direspon baik oleh orang lain, kita sudah “menerima upah kita”, diperkenankan oleh Tuhan bahkan sudah menyenangkan HatiNya. Minimal: Kita pasti  menikmati dalam hati ada kebahagiaan yang mengatasi akal pikiran manusia kita, dan yang pasti juga ada kedamaian.. Amin.


Pertanyaan Diskusi & Sharing:
(diawali dengan menikmati cuplikan peran)
1.      –Dalam kelompok-kelompok kecil-
Jika Tuhan datang untuk “menjemput” dan kita akan meninggal dunia. Lalu saudara hanya diberi kesempatan menelpon 1 (satu) orang saja dari orang-orang yang saudara kasihi dan mengasihi saudara. Siapakah orang itu? Mohon jelaskan-sharingkan mengapa, apa alasannya dan apa yang akan anda katakan kepada 1 orang tersebut?
  
2.      –Dalam Pleno (diselingi Reff NKB 197)-
Lalu perbuatan-perbuatan baik & benar apa yang belum (atau belum lebih lagi) saudara lakukan, yang rindu sekali setelah PA ini akan anda lakukan kepada siapapun. Untuk kemuliaan Tuhan Allah, Sang Kebenaran dan Sumber Kasih itu?


Lagu-lagu yang bisa digunakan:
1.      KJ 332  “Kekuatan Serta Penghiburan”
2.      “S’lidiki aku.. Lihat hatiku...”
3.      NKB 197  “Besarlah Untungku.”


Pdt. Lusindo Tobing


08 Juli 2015

Refleksi Minggu Kedua Juli 2015


Efesus 1: 3-14



JAMINAN ROH KUDUS






Mari lebih jeli perhatikan cuplikan ayat 13, ”Di dalam Dia kamu juga --, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.” Rupanya Pemeteraian Roh Kudus tidak terjadi sesudah keselamatan, tetapi terjadi serentak dengan percaya dan selamat. Pelayanan pemeteraian Roh Kudus disebutkan beberapa kali dalam Perjanjian Baru (baca misalnya: 2 Kor. 1:22; Ef. 4:30). Sebuah meterai merupakan tanda kepemilikan. Dan jaminan Roh Kudus sendirilah meterai kita. Kehadiran-Nya menjamin keselamatan kita. 

Maka diminta pertanggungjawaban kita, sebagai anak-anakNya (baca ayat 5) yang telah dipilih, dimilikiNya dan kemudian mendapatkan jaminan. Yakni agar kita berjuang memelihara kekudusan iman (baca juga ayat 4), kuat dalam berpengharapan serta tidak putus-putusnya berdoa serta membagikan Kasih Allah bagi sesama manusia. Karena darah Tuhan Yesus Kristus adalah harga yang telah dibayar untuk membebaskan kita dari perhambaan dosa. (dan baca juga ayat 7). 

Menjamin bahwa segala sesuatu akan diberikan. Penebusan yang menjadikan kita milik Allah. Dengan Tuhan Yesus Kristus telah menebus kita. Dan yang telah hadir sebagai Roh Kudus dalam tiap hati kita. Rentetan reflektif ini menakjubkan! DilanjutkanNya terus hingga Keselamatan Sempurna. Sehingga selalu kita menemukan alasan memuji kemuliaan-Nya. Memuji dengan setia, mengasihiNya, dengan lebih mantap mengasihi siapapun juga. Menjadi formula mengingatkan kita akan Kasih Allah Tritunggal –Bapa, Anak dan Roh Kudus-. Dan dengan Roh Kudus, kita mendapat jaminan kehidupan yang kemarin, sekarang bahkan jaminan akan masa depan: Keselamatan kekal abadi di sorga! Amin.


Tulisan & Foto: Lusindo Tobing.


03 Juli 2015

Refleksi Minggu Pertama Juli 2015



Yehezkiel 2: 1-5


DIUTUS MEMBENTUK GENERASI




            Ada penambahan waktu di hitungan jam kita secara Tahun Kabisat di tanggal 30 Juni 2015 lalu. Penambahan waktu itu sebanyak = 1 (satu) detik!  Atau disebut detik kabisat (leap second). Penambahan dilakukan secara sengaja agar waktu di dunia sama dengan waktu yang dibutuhkan bumi untuk berotasi dan mengelilingi matahari.  Perlu kita ketahui, saat ini perputaran bumi semakin pelan dan cenderung melambat.

            Ada yang berkomentar, “Ah.. cuma satu detik saja.”  Mungkin benar, hanya satu detik dan itu tidak terlalu menggangu berbagai fenomena dan kegiatan umat manusia.  Tetapi mari kita renungkan lebih mendalam. Dengan perputaran yang cenderung melambat tadi, serta semua kenyataan hidup yang kita alami, sesungguhnya 1 detik itu sangatlah penting dan berarti. Apalagi dalam rangka penciptaan serta penempatan kita di dunia, dan pengutusan Nya atas kita untuk membentuk generasi beriman pada Tuhan.

            Inilah refleksi kuat dari ayat 4 perikop kita kali ini, “Kepada keturunan inilah, yang keras kepala dan tegar hati, Aku mengutus engkau dan harus kaukatakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH. “  Ya, konteks pengutusan Nabi Yehezkiel. Dan refleksinya di konteks sekarang, kitalah yang diutus-Nya  menjadi “nabi” (baca lagi ayat 5)  ke tengah-tengah kehidupan yang kian sulit dan bergumul berat. Mari terus memberitakan Firman Allah, lewat teladan sikap berpihak pada Kebenaran, perbuatan-perbuatan kebaikan dan tiap detik kehidupan lebih setia mengasihi semua umat manusia. Amin. 


Tulisan & Foto: Lusindo Tobing.


24 Juni 2015

Refleksi Minggu Keempat Juni 2015


2 Korintus 8: 7-15


MEMBERI & BERBAGI




Iman, pengharapan dan kasih kita dalam Kristus, bukan hanya melalui doa atau ibadah pribadi. Tetapi juga harus tampak dalam kepedulian kita pada orang lain. Kepedulian yang terwujud melalui tindakan memberi dan berbagi. 

Rasul Paulus mendorong jemaat di Korintus untuk mengikuti teladan jemaat-jemaat di Makedonia. Mereka telah menunjukkan kemurahan hati dengan memberikan dukungan dana kepada orang-orang percaya yang miskin di Yerusalem. Kemurahan hati mereka benar-benar terjadi karena anugerah Allah, sebab mereka sendiri sedang menderita berbagai kesulitan (coba baca dan bandingkan Kis. 17:1-9; 1Tes. 2:14). Meski demikian, mereka memberi melebihi kemampuan mereka dan dengan sukacita.

Apa lagi jemaat Korintus telah menikmati berbagai berkat dari Allah (ayat 7). Sebab itu Paulus berharap agar jemaat termotivasi karena melihat teladan Kristus. Dan melihat kesempatan untuk menolong jemaat di Yerusalem, sebagai sebuah anugerah dari Allah. “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” (ayat 9).

Kata-kata Paulus berisi pengajaran yang paling lengkap tentang pemberian dalam PB (Perjanjian Baru). Prinsip-prinsip yang diberikan di sini bisa menjadi pedoman bagi kita, orang percaya dan jemaat sepanjang masa. Dalam KerajaanNya sesungguhnya ada kerelaan memberi dan berbagi. Bukan hanya karena berlebihan dan supaya orang lain mendapat keringanan, namun member dan berbagi agar terjadi keseimbangan (ayat 13). Teladan dari jemaat-jemaat Makedonia tersebut, menyadarkan kita bahwa kemiskinan (atau keterbatasan kita lainnya) bukanlah alasan untuk tidak menolong orang lain. Mari lebih banyak dan lebih sering: Memberi dan berbagi.  Amin.



Tulisan & Foto: Lusindo Tobing. 

17 Juni 2015

Refleksi Minggu Ketiga Juni 2015


Ayub 38: 1-11



DIPELIHARA DENGAN KASIHNYA




Dengan serbuan pertanyaan “siapa?” dan “siapakah?”, sepertinya Allah menantang pengetahuan Ayub (ayat 2-3) atas alam semesta dan seluruh ciptaan-Nya. Sesungguhnya Allah bukan sekadar bertanya-menguji Ayub. Tetapi tujuan Allah adalah agar Ayub menempatkan dirinya secara tepat di hadapan-Nya. Kalau Ayub pernah "menantang" Allah (baca Ayub 31), maka kini Allah menantang Ayub sebagai manusia!  Ayub harus ingat bahwa ia manusia. Ia adalah bagian dari ciptaan Allah yang sangat luas, banyak dan menakjubkan.

Ya, kita juga hanya ciptaan Allah. Tetapi dianugerahi kemampuan nalar dan merefleksikan hidup. Minimal mengetahui, merenungkan serta menyadari bahwa semua kita dipelihara dengan KasihNya. Pertanyaan-pertanyaan retoris Allah dalam perikop kali ini bukan untuk dijawab, melainkan untuk direnungkan!  Untuk berlanjut kepada kesadaran tentang dua hal. Pertama, Tuhan berdaulat penuh atas semua ciptaan-Nya, termasuk manusia. Oleh karena itu, kita perlu belajar tunduk dan taat pada pengaturan-Nya. Kedua, manusia lebih penting daripada ciptaan lainnya. Sehingga kita percaya sepenuhnya bahwa Allah peduli dan mengerti atas kita.

Oleh karenanya, ketika pergumulan bahkan penderitaan “menyapa” anak-anak Tuhan, langkah terbaik adalah mari datang berdoa-berserah menyapa Allah. Untuk selanjutnya lebih melakukan firman-Nya. Maka keagungan Kerajaan Allah melalui karya-Nya, bimbingan-Nya dan keindahan solusi-Nya akan diberlakukan atas kita. Dan meyakinkan kita kembali bahwa Dia tidak pernah meninggalkan. Allah selalu memelihara kita, selalu, memelihara kita semua dengan Cinta KasihNya.  Amin.



Tulisan: Lusindo Tobing.
Foto: Krisna Adiet.