15 Desember 2015

Refleksi Minggu Pertama Desember 2015


Maleakhi 3: 1-4 


DIMURNIKAN  



Sebelum melampiaskan hasrat mencari-cari siapa yang salah dalam keluarga. Sebelum kita memuaskan nafsu untuk menunjuk-nunjuk sahabat atau tetangga akan dosa dan keberdosaan mereka. Walaupun dengan alasan lama yang sering kita pakai: “Untuk menegur mereka, sehingga mereka bisa sadar” (baca bertobat). Mari, di perjalanan Minggu-minggu Adven ini, kita lebih dulu menyapa, dan menegur ke dalam hati dan pikiran. Menghardik diri kita sendiri. Dengan mempersilakan Roh Allah menguduskan hati serta pikiran anda dan saya. Memurnikan kita.     

Sebab di sejarah Alkitab dan perjalanan umatNya, Tuhan sudah berkali-kali mengutus para nabi-Nya. Termasuk Maleakhi menegur dosa-dosa umatNya agar mereka bertobat (ayat 1). Namun, umat Tuhan berulang kali juga, sejak permulaan bangsa Israel berdiri sampai saat konteks Maleakhi 3 ini menolak. Karenamya akan ada kedatangan Tuhan menjadi kejutan besar dalam hidup mereka. Menyucikan hati, pikiran dan kehidupan umat yang bobrok oleh dosa. Tidak seorang pun akan luput dari pemurnian itu. Pemurnian akan berlangsung menyakitkan, seperti tukang pemurni emas memurnikan logam-logam seperti emas dan perak dengan panas tinggi, agar segala kotoran yang melekat akan hilang dan lebur. Atau Allah memurnikan seperti penatu menggelontorkan semua noda yang melekat pada kain dengan sabun (ayat 2-3). Sehingga Yehuda dan Yerusalem akan kembali berkenan kepada-Nya (ayat 4).     

Selamat memasuki Bulan Desember Tahun 2015, seraya terus memaknai adven Tuhan. Selain akan memperingati Natal-Nya, ingat dan sadari, Tuhan Yesus Kristus akan datang menghakimi kita dan dunia. Mari, sebelum segala sesuatunya terlambat, saya berdoa untuk kita semua dan kita saling mendoakan untuk benar-benar mempersilakan Tuhan melakukan pemurnian hati serta pikiran kita. Bertobat dalam kasih pemurnianNya. Mari berpikir yang murni, bersikap murni, berkata-kata serta bertingkah laku dengan murni dan terus dimurnikan setiap hari, Lebih lagi mulai hari ini, di Adven ini, dari hati semakin murni sampai Tuhan Yesus datang kembali. Amin.


Tulisan dan Foto: Lusindo Tobing.

24 November 2015

Refleksi Minggu Keempat November 2015


Wahyu 1: 4-8 


MENYERTAI      



Serangan teroris dalam bentuk peledakan bom dan penembakan membabi-buta terjadi di Kota Paris pada Jumat 13 November 2015. Dimulai peledakan bom di sebuah gedung konser musik, lalu di luar stadion olahraga tempat dilaksanakannya pertandingan bola Tim Jerman vs Tim Perancis. Dan seterusnya, berlangsung hampir dalam waktu bersamaan di enam titik kejadian berbeda. Mengakibatkan sekitar 150 orang meninggal dunia dan ratusan orang lainnya terluka.  

Ketakutan tampaknya berhasil ditebar dan tersebar. Setelah peristiwa itu, banyak negara-negara lain meningkatkan kewaspadaannya. Beberapa kunjungan kepala negara dan pejabat pemerintahan dibatalkan, dari dan khususnya menuju Perancis. Termasuk ketakutan yang juga mengakibatkan pembatalan kunjungan beberapa public figure: Olahrgawan, artis film, penyanyi dan selebritis lainnya. Dan ketakutan-ketakutan akan ancaman teror berikutnya di masyarakat secara umum dan meluas.     

Tetapi “We Stand with Paris, We Stand with France.” Suara dan sikap seperti ini harus tetap menjadi sikap kita melawan bahkan mengalahkan teror dan ketakutan. Tentu bukan dengan kekuatan kita sendiri. Tetapi bersama. Bersama seluruh rakyat Indonesia, bahkan bersama seluruh manusia di dunia. Dan yang paling utama: Bersama Kasih karunia dan damai sejahtera Allah (baca dan maknai ulang ayat 4). Kasih KaruniaNya yang selalu menyertai dan menyelamatkan kita, kapanpun, di manapun dan bagaimanapun juga. Amin. 


Tulisan: Lusindo Tobing.
Foto: www.lovethispic.com 

Refleksi Minggu Ketiga November 2015


Daniel 12: 1-13 


PERLINDUNGAN ALLAH     




Sampai kapan Allah akan melindungi kita? Jawabannya adalah: Sampai selama-lamanya, sampai zaman akhir (akhir zaman). Ya, sampai akhir dari semua kehidupan kita, sampai akhir semua kehidupan dunia. Bahkan sampai akhir semesta raya.     

Melalui konteks Kitab Daniel, kita belajar kembali bagaimana Allah memelihara umat-Nya untuk menerima perlindungan dan keselamatan. Siapapun yang hidupnya menunjukkan ketaatan akan bersinar seperti bintang-bintang (ayat 1-3). Ini penglihatan-penglihatan yang sebenarnya mengejutkan Daniel. Namun ia diingatkan supaya merahasiakan (ayat 4). Tidak boleh diceritakan kepada siapapun dan memeteraikan Kitab (firman) itu sampai pada akhir zaman (ayat 9). Agar terbukti kelak bahwa akan ada proses pengujian, penyucian, dan pemurnian. Dan orang-orang yang mampu melewati semua itu akan berbahagia (ayat 12).     

Rencana Allah tidak pernah gagal. Mungkin terkadang kita kecewa dan cenderung putus asa melihat bahkan mengalami kenyataan bahwa kejahatan dan penindasan semakin merajalela. Tetapi ingat dan percayalah jaminan perlindungan Allah (baca dan maknai lagi ayat 13), agar kita tetap memiliki pengharapan dan keteguhan iman. Dalam menghadapi segala penderitaan dan kesesakan sehari-hari. Marilah berjuang jadi setia dan tekun, karena sesungguhnya kita telah mengalami anugerah Allah. Dan mari senantiasa hidup dan terus menjadi saluran berkat bagi sesama manusia serta seluruh kehidupan, dalam perlindungan Allah hingga akhir zaman. Amin. 


Tulisan & Foto: Lusindo Tobing

Refleksi Minggu Kedua November 2015


1 Raja-raja 17: 8-16 


MELALUI ORANG LAIN     




Tuhan Allah kita adalah Tuhan yang selalu datang, bukan pergi. Dia Allah yang selalu menghampiri mengasihi, menuntun, menolong dan menyelamatkan kita. Langsung ataupun tidak langsung. Di perikop kali ini, Nabi Elia diperintah Allah pergi ke kota Sarfat, sebuah kota kecil di tepi Laut Mediterania antara Tirus dan Sidon. Ketika tiba di sana, dia melihat seorang janda yang sedang mempersiapkan makanan terakhir untuk diri janda itu dan putranya. Elia meminta air. mungkin ini sebagai sebuah ujian iman. Karena pada saat janda itu bersiap untuk memenuhi permintaannya, nabi Allah itu juga meminta sepotong roti kepadanya (ayat 8-11).     

Lalu perempuan itu menjawab, "Demi Tuhan, Allahmu Yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun." Jawaban ini menunjukkan dia mengenali Elia sebagai nabi Allah. Lalu Elia berkata kepadanya, "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan." Oleh ketaatannya memberi makan kepada sang nabi, janda itu menukar keadaan yang tidak pasti menjadi keadaan yang pasti, kelaparan menjadi kelimpahan, kematian menjadi kehidupan!     

Mari renungkan, refleksikan dengaan kehidupan kita kini. Janganlah takut, jangan gentar menjalani berbagai tantangan, pergumulan dan kesulitan. Ingat dan imani selalu “tepung dalam tempayan itu tidak akan habis” (baca dan maknai lagi ayat 13-14). Nubuat kepastian yang diucapkan Elia jadikan patokan. Membawa Kasih dari Tuhan Allah, nyata melalui perempuan (janda Sarfat) itu kepada Nabi Elia, juga sebaliknya, melalalui Nabi Elia kepada janda di kota Sarfat. Pemeliharaan Allah melalui kasih yang diberikan orang lain bagi kita. Amin. 


Tulisan & Foto: Lusindo Tobing.

31 Oktober 2015

Refleksi Minggu Pertama November 2015


Mazmur 119: 1-8 


TERWUJUD         




Sesungguhnya Taurat tidaklah identik dengan hukum, apalagi hukuman. Perikop Mazmur 119 ingin menegaskan hal itu, bahwa Allah memberikan Taurat agar semua umatNya (Israel di konteks ini) tertib, patuh bahkan terkesan takut kepada hukum dan hukuman dari Allah. Tetapi tujuanNya adalah lebih dari itu semua, yakni: Supaya segenap keluarga “biji mata” (kesayangan) Allah yang semakin hari mau makin percaya, akan menjalani dan menikmati perjalanan hidup kehidupan yang melimpah berkat dan rahmatNya.     

Jadi Taurat adalah salah satu wujud nyata dari Kasih Allah kepada umat yang mau beriman percaya. Melakukan semua firmanNya dan taat terhadap ketetapan-ketetapan Allah. Dengan menyebut Taurat sebagai peringatan (ayat 2), titah (ayat 4), dan lain-lain, pemazmur mengajak umat Allah menghayati Taurat sebagai pemberian Allah agar umat hidup berbahagia (1-3). 

Taurat membahagiakan karena membukakan kekudusan Allah bagi mereka. Menjadi terang Ilahi yang membuat orang dapat menghadapi hal-hal gelap yang merusak kehidupan. Karena Taurat Tuhan (baca: Firman Tuhan) berisi kekuatan Kasih Allah.     

Mari semakin matang dan dewasa dalam iman. Dengan menghargai dan khususnya melakukan firman Tuhan sebagai anugerah yang membebaskan (baca lagi ayat 6-8). Perlu diingat, hal ini tidaklah ditentukan usia seseorang, tetapi oleh cinta kasih kita kepada Allah. Yang telah dan selalu mengasihi kita. 

Mari berjuanglah sampai pada tahap menjalankan apa yang kita tahu dan mengerti. Serta membagikan KasihNya yang kita terima dan alami, menuangkannya dalam perbuatan mengasihi dan melayani sesama manusia di kehidupan sehari-hari. Amin. 


Tulisan & Foto: Lusindo Tobing.

20 Oktober 2015

Refleksi Minggu Keempat Oktober 2015


Markus 10: 46-52 



 KELUARGA PENOLONG




“Ada seorang buta, duduk minta-minta, ..” cuplikan lagu Sekolah Minggu ini bila diteruskan keterangan agak lengkap dari perikop Firman kali ini, adalah: Seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, miskin, sendiri, benar-benar hidup dari pertolongan dan belas kasihan orang lain. Dalam semua Injil Sinoptik, hanya Markus yang menyebutkan namanya. Dan Bartimeus bukanlah orang malas, ia berkemauan keras untuk terbebas dari penderitaan. Teriakannya "Anak Daud, kasihanilah aku," itulah yang menggerakkan hati Tuhan Yesus.   

Seperti bila kita lanjutan lagu tadi yang berbunyi,”.. Pada suatu hari, Yesus melalui, orang buta itu celik matanya..,” ketika melintasi kota Yerikho (ayat 46), Dia menolongnya. Cemoohan dan hardikan orang banyak bukan penghalang. Dari Bartimeus kita belajar tentang iman kepada kuasa pertolonganNya. Mari refleksikan, Tuhan Yesus mengawali dengan bertanya kepada kita (seperti kepada Bartimeus di ayat 51). Lalu kita (seperti juga Bartimeus) menjawab dengan permohonan yang tulus, “... supaya aku dapat melihat!” Dan dengan iman kita serta keluarga kita pasti ditolongNya.   

Selamat menjalani kehidupan dengan pertolongan Tuhan yang tiada berakhir. Keluarga kita sudah dan akan selalu ditolongNya!(bandingkan dengan ayat 52). Juga, sekali lagi, seperti akhir lagu Sekolah Minggu sebelumnya, “Celik matanya, celik matanya,..” Mari menjadi keluarga dan anggota keluarga yang celik (terbuka) mata hati, pikiran serta perbuatan pelayanan, berfokus menjadi penolong bagi keluarga lain. Ditolong untuk menolong. Amin. 


Tulisan & Foto: Lusindo Tobing.

Refleksi Minggu Ketiga Oktober 2015


Mazmur 91: 9-15 
 

KELUARGA PERJALANAN IMAN 




Allah menugaskan para malaikat mengawasi dengan teliti kepentingan keluarga orang percaya. Pemeliharaan yang diberikan para malaikat kepada orang-orang yang dikasihi Allah adalah: “Mereka akan menatang engkau di atas tangannya,” menunjukkan kemampuan maupun kasih sayang yang besar. Mereka mampu menatang orang-orang yang dikasihi Allah hingga tidak terjangkau oleh bahaya, dan mereka melakukannya dengan penuh kasih.  

Menurut pemazmur, kita pasti memperoleh perlindungan tersebut dari Allah. Jaminan ini berangkat dari iman percaya. Keyakinan yang hanya bisa muncul jika ada kedekatan dan pengenalan akan Allah. Yang telah mengeluarkan Israel dari tanah perbudakan Mesir. Kemudian datang di dalam Kristus, sebagai Juruselamat. Dan sampai hari ini, dengan para malaikatNya terus menjaga semua keluarga dan tiap anggota keluarga kita, rohani dan jasmani sampai selamanya-lamanya.     

Karenanya mari, menjadi keluarga yang berfokus pada perjalanan iman. Mari terus “bermazmur” menyanyikan dengan suara dan khususnya dengan perbuatan nyata sehari-hari, seperti lagu KJ. 370: 2, “ 'Ku mau berjalan dengan Jurus'lamatku di lembah gelap, di badai yang menderu. Aku takkan takut di bahaya apa pun, bila 'ku dibimbing tangan Tuhanku. (Reff) Ikut, ikut, ikut Tuhan Yesus; 'ku tetap mendengar dan mengikutNya. Ikut, ikut, ikut Tuhan Yesus; ya, ke mana juga 'ku mengikutNya!” Amin.     


Tulisan: Lusindo Tobing.
Foto: doc. keluarga.