26 September 2012

refleksi minggu kelima September 2012




KELUARGA





Ayah, ibu dan anak(-anak) atau Keluarga disebut juga sebagai representasi persekutuan kasih, bagaimana hidup saling mengisi dan melengkapi. Keluarga harus mampu melukiskan dan menggambarkan bagaimana Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus hidup dalam kesatuan dan kasih yang indah. Sehingga suami istri dan anak-anak mampu mengisi satu nuansa persekutuan yang bisa menimbulkan satu kekuatan bahtera yang mampu mengatasi masalah apa pun, karena cinta kasih Allah saja. 

Apakah keluarga kita sudah menjadi saksi? Sudahkah kita saling mengasihi dan mendidik dalam melayani satu dengan lainnya. Kalau keluarga tidak menyadari tanggung jawab ini,, lalai dalam pembinaan anak-anak, maka keluarga sesungguhnya sedang menyiapkan “bom waktu”. Yang akan merusak ayah, ibu dan khususnya anak-anak juga orang lain (sesama). Misalnya suami gelisah pada istri, istri mencurigai suami, atau orang tua kehabisan akal menghadapi tingkah anak-anak, begitu pula anak-anak merasa tidak mendapat perhatian dan perlindungan dari orang tua. 

Seribu satu kasus bisa ada dalam keluarga, tetapi satu kalimat yang perlu kita pegang: Apa pun masalah, mari jadilah pemenang dengan KasihNya. Untuk membawa keluarga sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan bagi Allah khususnya. Juga bagi kehidupan masyarakat. Jangan pernah meremehkan pernikahan dan keluarga. Sebaliknya, jangan memandangkeluarga sebagai beban yang sangat terlalu amat berat dan bahkan menjadi momok. Ingat Tuhan Yesus Kristus berjanji bahwa bebanNya ringan dan kukNya enak (lihat Matius 11:30). 

Ia tidak memanggil kita untuk menunjukkan pengabdiannya bagi dunia atau gereja dengan mengorbankan cinta kasih sayang kepada keluarga. Ternyata, hubungan dan pelayanan kasih dalam dan dengan keluarga adalah sebuah seni. Sekaligus ujian bagi kelayakan kita ada dalam Kasih itu sendiri. Sehingga menuju Keluarga Kristen yang harmonis, berhasil melewati berbagai tantangan dan perjuangan pergumulan zaman.  Sebuah komunitas keselamatan. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarga lain dan untuk keselamatan dunia. 

Komunitas keselamatan berarti Kristus hadir di dalam kehidupan keluarga di tiap waktu berjalan. Dan tekun melanjutkan memberlakukan misi penyelamatanNya.  Keluarga juga menjadi gereja rumah tangga, gereja rumah tangga setiap hari. Semua anggota keluarga, baik ayah, ibu dan anak-anak menjadi pewarta iman, pengharapan dan kasih. Melalui perkataan dan perbuatan/keteladanan bagi keluarga lain dan sesame khususnya mereka yang letih lesu dan berbeban berat. Keluarga sebagai evangelisasi, pemberita karya dan kabar baik bagi sekitarnya melalui praktek nyata, sikap dan tingkah laku kehidupan keluarga. 

Keluarga yang setia dan taat menjadi garam dan terang dunia. Amin.



tulisan & foto: Lusindo Tobing. 

refleksi minggu keempat September 2012



ANAK





Anak (jamak: anak-anak) adalah seorang lelaki atau perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas. Anak juga merupakan keturunan kedua, di mana kata "anak" merujuk pada orang tua adalah anak dari orang tua mereka, meskipun mereka telah dewasa. Dan periode pekembangan anak merentang dari masa bayi hingga usia lima atau enam tahun, periode ini biasanya disebut dengan periode prasekolah, kemudian berkembang setara dengan tahun tahun sekolah dasar. 

Begitu istilah ini juga sering merujuk pada perkembangan iman seseorang. Anak sebagai orang yang mempunyai pikiran, perasaan, sikap dan minat berbeda dengan orang dewasa dengan segala keterbatasannya. Anak merupakan mahluk yang membutuhkan pemeliharaan, kasih Tuhan dan tempat bertumbuh bagi perkembangan spiritualnya. Anak merupakan bagian dari keluarga, dan keluarga haruslah memberi kesempatan bagi anak untuk terus belajar tingkah laku yang penting, baik dan benar sesuai FirmanNya. 

Untuk perkembangan yang cukup baik dalam kehidupan bersama keluarga juga dengan tetangga dan sesama secara meluas. Harus tersedia pemeliharaan, kasih sayang dan tempat bagi perkembangan menuju kea rah Kristus. Anak juga mempunyai perasaan, pikiran, kehendak tersendiri yang kesemuanya itu merupakan totalitas dan sifat-sifat serta struktur yang berlainan pada tiap-tiap fase kehidupannya. Perkembangan pada suatu fase merupakan dasar bagi fase selanjutnya. 

Karenanya, anak-anak sangat membutuhkan didikan Tuhan. Melalui kita semua, khususnya kita orangtuanya. Didasari sistem dan cara yang diajarkan banyak oleh Tuhan  kepada kita. Sepanjang perjalanan hidup kita, hingga diperkenankannya kita menjadi orangtua bagi anak-anak. Mendidik mereka sesuai dengan Firman Tuhan dengan tekun bersama memberlakukannya setiap hari, setiap waktu. 

Di konteks Perjanjian Lama, kita tentu akan kembali kepada Ulangan 6:6-9, “apa yang Kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun...” Orangtua dan lingkungan di sekitar anak-anak (khususnya keluarga inti) haruslah berusaha dan memberlakukan setiap hari apa yang dikatakan dan diajarkan oleh Allah sendiri. Melalui kita kepada anak-anak kita. 

Selanjutnya begitu pula di konteks Perjanjian Baru, misalnya Rasul Paulus mendorong orangtua membesarkan mendidik anak-anak dalam “Ajaran dan Nasihat Tuhan” (Efesus 6: 4). Sehingga menyiapkan mereka dan membentuk seorang anak untuk siap mengahadapi berbagai tantangan kehidupannya. Terus membawa karakter Tuhan Yesus Kristus di dalam hati, pikiran dan memancar di tiap tingkah laku kesehariannya. Kuat, Tidak mudah diombang-ambing oleh pengaruh dan ajaran yang jahat dan menyesatkan. Namun selalu bertumbuh di dalam dan ke arah Kristus. Siap menjadi saluran cinta kasih Allah sampai mereka menanjak remaja dan dewasa. 

Bahkan hingga nanti ketika Tuhan memberkatinya dengan keluarga dan anak. Amin.





             
             tulisan & foto: Lusindo Tobing.

refleksi minggu ketiga September 2012.




IBU





Semua manusia di atas muka bumi ini, berasal dari rahim seorang ibu. Cinta kasih sayang Allah pertama kali dikecap oleh seorang manusia adalah dari seorang ibu. Menjadi ibu adalah peranan yang sangat penting yang Tuhan berikan kepada banyak perempuan. Titus 2:4-5 berbunyi, “Dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang” para ibu diciptakan Allah secara natural hakikinya adalah mencintai anak-anak mereka.

Dalam Yesaya 49:15a Alkitab mengatakan, “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya?” Kapankah fungsi keibuan dimulai? Anak adalah hadiah – Anugerah  dari Tuhan (Mazmur 127:3-5). Dalam Titus 2:4 muncul kata Bahasa Yunani “phileoteknos.” Kata ini mewakili jenis khusus dari “kasih-ibu.” Ide yang mengalir keluar dari kata ini adalah “lebih menyukai” anak-anak kita, “memperhatikan” mereka, “membesarkan” mereka, “memeluk mereka dengan kasih sayang,” “mencukupi kebutuhan mereka,” “berteman dengan lemah lembut.” Setiap anak adalah pribadi yang unik yang berasal dari tangan Tuhan. Diadakan dan dirawat, dididik melalui kasih Ibu. Yang merupakan Kasih dari Allah yang tersedia – pagi, siang dan malam (Ulangan 6:6-7). Tidak pernah lelah mengajar – Alkitab, pandangan dunia yang Alkitabiah (Mazmur 78:5-6, Ulangan 4:10, Efesus 6:4).

Dengan setia dan tekun mendidik anak-anaknya, seraya sabar  menolong suaminya mengembangkan keterampilan dan menemukan kekuatan dan hakikat diri mereka masing-masing.  Pengambil keputusan, itulah peranan terbesar yang dilakukan perempuan ketika dia memasuki tahapan sebagai ibu. Baik ibu yang bekerja atau ibu rumah tangga. Pada saat memasuki tahapan sebagai ibu, para perempuan memiliki orientasi yang penuh kepada keluarga. Keluarga adalah yang paling utama. Untuk menjalankan perannya dengan optimal, para para ibu sangat haus akan informasi. Bahkan sebagai cara untuk memuaskan kebutuhan akan rasa aman untuk ia dan keluarganya, para ibu akan mencari informasi mengenai berbagai hal yang baik untuk keluarganya.

Dan tak hanya kebutuhan akan rasa aman, para ibu juga akan memastikan dirinya serta keluarganya tetap sehat. Seraya selalu mendisiplinkan – mengajarkan takut akan Tuhan, menentukan batas secara konsisten, penuh kasih dan ketegasan yang benar juga baik. Menyiapkan generasi keluarganya, mendidik dan membesarkan – menyediakan lingkungan kasih Allah di mana terdapat dukungan secara pelayanan, perawatan dan pemulihan yang konstan, bisa  gagal tetapi tidak menyerah dan bangkit lagi dengan semangat baru, penerimaan, kemesraan, cinta kasih sayang yang tanpa syarat (Titus 2:4, 2 Timotius 1:7, Efesus 4:29-32, 5:1-2, Galatia 5:22, 1 Petrus 3:8-9).  Yang akan menangis bila anak dan suaminya menangis, bahkan kerap tangisannya tak berbunyi dan disampaikan langsung kepada Allah.

Selalu menyebutkan nama suami dan khususnya anak-anaknya di dalam setiap doa-doannya.
Amin.


tulisan & foto: Lusindo Tobing.

refleksi minggu kedua September 2012




BAPAK





Pemimpin bagi keluarganya. Seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya (1 Timotius 3:4). Dan karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Maka dasar kepemimpinan haruslah Kasih (Efesus 5:22-23). Sayang kepada anak-anaknya, meneladani TUHAN yang sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Menetapkan, mengarahkan, menuntun keluarga dengan berakar pada kehendak Allah. 

Dan dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, membawa isteri dan anak-anaknya (keluarganya) bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah kepala dari semua keluarga kita. Mengawasi, menjaga dan melindungi keluarga sehingga ada kenyamanan yang selalu berwujud di tengah pergolakan juga pergumulan dan perjuangan hidup kehidupan keluarga sehari demi sehari. Memenuhi dan memelihara kebutuhan hidup keluarga dengan bekerja sungguh, jujur dan memuliakan namaNya. 

Juga dengan hikmat Allah, seorang bapak mampu mengenali karunia yang dimiliki setiap anggota keluarga, mengarahkan dan berupaya memfasilitasi guna pemberdayaannya untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Selalu bersemangat untuk mempersatukan keluarga, keluarga inti utamanya juga keluarga besarnya dan keluarga juga komunitas di mana ia beserta keluarganya ditempatkan. Seperti Allah yang selalu mengasihi dalam kerinduan untuk hidup dalam kebersamaanNya. Yesaya 40:11 menyatakan, “seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.” 

Memberi kepercayaan kepada isteri dan anak-anaknya, karena percaya sang bapak kepada Allah Bapa. Sehingga ia mampu menjadi teladan bagi keluarga. Menjadi teladan iman pengharapan dan kasih. Yang terus dilengkapi dengan tanggungjawab kuat  atas seluruh aspek kehidupan keluarga. Setia dan taat melalukan dan mengarahkan, mengajar, mendidik dan membimbing (berjalan bersama) keluarga untuk bertumbuh ke arah Allah dalam nama Tuhan Yesus Kristus. 

Memberlakukan dengan bertekun Ulangan 6:6-9, “apa yang Kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” 

Memastikan bahwa keluarga hidup takut akan Allah.
Amin.


tulisan & foto: Lusindo Tobing.

17 September 2012

refleksi minggu pertama September 2012


BERHIKMAT


1 Raja-raja 3: 1-15




Ingat Raja Salomo? Tentu ingat. Seorang Raja yang dikenal dan terkenal bukan sekadar karena kekuasaan atau kekayaannya. Tetapi karena hikmat kebijaksanaanNya. Putra dari Raja Daud yang tidak pernah menganggap bahwa takhta jabatannya bukanlah cuma diturunkan atau diteruskan dari ayahnya, Daud. Tetapi Salomo sadar betul, semua itu karena kebaikan Kasih anugerah Allah dan kehidupan iman yang dinyatakan ayahnya juga dirinya sendiri.

Hal itulah yang membawa Salomo layak menerima hikmat Allah. Hal apakah tadi itu? Ini, bahwa Hikmat dari Allah itu diberikan adalah karena ada: Iman dan Kasih yang besar kepada Allah. Ya, karena ada percaya yang sungguh kuat. Dan mencintai mengasihi. Dari hati Salomo hanya kepada Allah, Sang Sumber Hikmat Bijaksana itu. Juga kepada manusia. 

Coba baca lagi dan lihat perikop kita kali ini. Betapa hidup kehidupan Salomo meneruskan semua yang baik dan benar yang telah dilakukan ayahnya, juga semua yang diperintahkan Allah. Termasuk khsususnya soal mempersembahkan korban bakaran yang terbaik di mezbah Tuhan. Dan tidak tanggung-tanggung, Alkitab mencatat bahwa ia mempersembahkan 1000 korban bakaran yang harum hanya kepadaNya. "Dan Salomo menunjukkan kasihnya kepada Tuhan dengan hidup menurut ketetapan-ketetapan Daud, ayahnya; hanya, ia masih mempersembahkan korban sembelihan dan ukupan di bukit-bukit pengorbanan." (ayat 3).

Di satu malam, setelah Salomo mempersembahkan korban bakarannya yang selalu terbaik itu. Allah datang kepadanya dalam mimpi. Tetapi ingat, kisah ini bukan cuma mimpi. Hal ini semua benar-benar terjadi, Salomo ditanya Allah, "apa yang mau kau minta kepadaKu, mintalah.. pasti kuberikan."  Wow... coba bayangkan hal tersebut terjadi pada kita. Pastilah untuk menyusun list atau daftar permintaan kepadaNya, kita akan sangat bingung dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Tetapi tidak dengan Salomo.

Salomo tidak membutuhkan waktu yang lama. Juga tidak meminta salah satu dari yang Allah tawarkan kepadanya. Walau Allah bisa memberi semua. Ada tiga hal besar yang secara eksplisit tercatat dan ditawarkanNya apakah meminta: Umur panjang, Kekayaan atau darah musuhmu. Hal pertama dan kedua tadi pastilah mayoritas dari kita secara kedagingan sangat menginginkannya. Terlebih untuk hal yang ketiga, sangat ekstrim, tetapi yang dimaksudkan adalah kepastian penjagaan dan keselamatan dari Allah. Salomo tidak memilih salah satu ataupun ketiganya.

Tetapi ia meminta hikmat. "Maka berikanlah kepada hambaMu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umatMu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umatMu yang sangat besar ini?" (ayat 9). Ya, Salomo memohon hikmat dari Allah. Dan hal tersebut sangatlah menyenangkan dan sangat baik di mataNya. Karenanya mari, kita mohonkan yang baik kepada Allah. Khususnya mari memohon Hikmat. Agar Allah melayakkan hati kita. Bahkan melayakkan seluruh tubuh dan hidup kita. Sehingga kita berkenan di hadapanNya. Baik dan sesuai dengan Sabda perintahNya. Seperti ayat 10 dengan jelas menggambarkan hati dan responNya atas permohonan Salomo yang meminta hikmat, bukan yang lain-lain, "Lalu adalah baik di mata Tuhan bahwa Salomo meminta  hal yang demikian."

Kemudian Allah menganugerahkan hikmat kepada Salomo. Dan memanglah demikian adanya. Hikmat itu adalah anugerahNya. Ilmu bisa dipelajari. Pengetahuan bisa dikejar dan dicari. Tetapi hikmat? Sekali lagi ingat dan pegang ini: Hikmat itu Anugerah langsung dari Allah saja.

Oleh sebab itu, jika memang ada di antara kita yang kekurangan hikmat. Seperti yang tertulis di Yakobus 1: 5.  Mari jangan ragu datang mendekat kepada Allah. Dari dan dalam hati, pikiran juga semua panca indera kita percaya dan sungguh hidup menyatakan kasih sayang Allah bagi sesama di kehidupan ini. "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya."

Dan ketika kita boleh dianugerahi HikmatNya, maka sukses. Ya istilah "kunci sukses" yang sering kita dengar adalah sesungguhnya hikmat ini. Bukan sekadar uang, kekuatan, kekuasaan, jaringan dan apapun juga kemampuan kita. Tetapi lebih lagi hati-hatilah juga, jangan cuma mau dibilang sebagai orang yang punya hikmat. Sebab setiap jaman dan setiap kita ingin bahkan senang sekali jika disebut sebagai orang berhikmat. Tetapi pertanyaan terakhir di perenungan kali ini, apakah kita benar-benar telah dan berjuang memberlakukan hikmat? Dengan nyata melakukan dan membagikan hikmatNya melalui kita kepada sesama di keseharian. Mari sungguh-sungguh, melakukan hikmat.

Kembali, ingat Salomo. Ingat apa yang dilakukannya dengan hikmat Allah padanya. Ingat peristiwa ketika Raja Salomo didatangi oleh dua ibu yang membawa satu bayi dan sama-sama mengaku bahwa tiap mereka adalah ibu kandung anak tersebut. Mereka berdua memperebutkan bayi tersebut. Di tengah semua orang bingung dan galau (seperti kita sekarang, yang kerap di hadapi tantangan pergumulan yang formatnya serupa, namun dalam bentuk berbeda), kita tahu kisahnya, Salomo meminta diambilkan pedang, lalu memerintahkan untuk bayi itu dipotong dibelah menjadi dua. Setengah untuk ibu yang satu dan setengahnya lagi diberikan ke ibu yang lain. Sikap dan keputusan ini tampaknya sangat kejam dan tidak manusiawi bukan? Tetapi kemungkinan besar, Salomo tahu bahwa hanya dengan cara itulah maka akan ada solusi. Dan memang itulah solusinya. Karena akhirnya respon kedua ibu tadi berbeda. Yang satu menerima, namun yang lain menangis dan menolak sembari memohon dengan sangat agar bayi tersebut jangan disakiti apalagi dibunuh. Bahkan ibu terakhir ini rela jika bayi tersebut diberikan saja ke ibu yang lain tadi. Dan lihat.. akhirnya kita tahu baukan siapa ibu kandung sesungguhnya bayi tersebut. Yap, tentu ibu yang menangis dan mengasihi sungguh memohon agar bayinya tidak disakiti sedikitpun. Inilah hikmat. Seperti inilah hikmat. Hikmat Allah. Bukan hikmat dunia atau hikmat-hikmatan. Selamat memohon, hidup dan membagikan hikmat. Hikmat yang membawa solusi. Membawa kehidupan bersama jadi lebih indah, bermakna, tenang, damai dan bersyukur nikmat. Berhikmat hikmatNya.  Amin.



tulisan & foto: Lusindo Tobing.
   

    


05 September 2012

refleksi minggu keempat Agustus 2012



TUHAN TIDAK MENAHAN KEBAIKAN


Mazmur 84





                Kebaikan selalu diinginkan. Semua orang menginginkannya, anda dan saya, kita semua. Tetapi kecenderungannya, kita hanya rindu dan mau menerima kebaikan. Untuk melakukan atau membagikan kebaikan bagi sesama? Sekali lagi, cenderung lebih sedikit daripada mau dan menginginkan kebaikan tersebut. Padahal Tuhan telah memberikan banyak anugerah dan berkatNya kepada kita. Tidak terhitung pendampingan, bimbingan bahkan penyelamatanNya. Namun dunia (baca: saya dan anda, kita) cenderung menahan kebaikan.
                Dunia selalu cenderung lebih sering memberi alasan dan dalih. Sehingga yang seringkali muncul adalah hanya tanda tanya. Baik tanda tanya dari yang sesungguhnya bisa melakukan kebaikan, juga lebih banyak tanda tanya dari mereka yang sangat membutuhkan kebaikan dalam hidupnya. Sehingga mandiri dan kemandirian seringkali menjadi ungkap yang (memang) baik untuk dinyatakan. Tetapi apakah betul kita benar-benar bisa mandiri sebagai manusia yang menjalani hidup kehidupan?  O iya, Tuhan tidak menyukai kita untuk bermalas-malasan dan tidak berusaha-bekerja. Apalagi hanya makan dan hidup sebagai parasit atau bahkan mendapatkannya dari hasil kejahatan. Tetapi coba renungkan sekali lagi dengan dimensi positif, anda dan saya, tiap pribadi lepas pribadi kita, sesungguhnya tetap membutuhkan orang lain. Kita bisa hidup karena ada orang lain. Sesama yang dihadirkan Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan ketika ada orang lain/sesama, maka di situ akan lebih terasa adanya Tuhan dengan segala kebaikan-kebaikanNya.
                Camkanlah ini, cantik dan indahnya dunia hanyalah sementara. Tetapi kebaikan dan Kasih Tuhan Allah tiada habisnya. Selalu tersedia, selalu ada dan selalu dianugerahkan. Abadi kekal.  Abadi kekal Tuhan yang tidak pernah sama sekali menahan-nahan kebaikanNya untuk kita. Coba baca lagi ayat 12 dari Mazmur 84 (perikop kita kali ini), Tuhan bahkan digambarkan sangat menawan kekal indah dengan kebaikan, “Sebab Tuhan Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.”
                Tuhan menahan yang buruk dan jahat berlaku bagi kita. Mungkin bisa kita yakini bahwa Tuhan menahan ketidakbaikan, selalu berusaha menjaga dan melindungi kita dari berbagai hal yang tidak baik. Kita sendirilah yang tergoda dan larut dalam kebiasaan memberlakukan hal-hal yang tidak baik itu. Kepada orang lain, juga kerap kepada diri kita sendiri. Sehingga lambat laun tidak terbiasa untuk merenungkan kebaikanNya. Selanjutnya kita agak lambat dan gagap memikirkan yang baik, menyikapi dengan baik, merespon berbagai hal dengan baik dan kebaikan. Sehingga kadang dan seringkali jadi lemah dan tidak berdaya kepada ketidakbaikan. Dan anehnya, malah jadi risi dengan kebaikan, kebenaran, hal-hal yang baik dan benar untuk diri kita sendiri. Yang akhirnya orang lain akan jarang bahkan mungkin tidak pernah melihat, merasakan dan menerima kebaikan dari kita. Tepatnya, mereka menerima kebaikan Allah melalui kita.
                Tuhan selalu menawarkan kebaikan. Seperti matahari, juga bisa penggambarannya seperti air sungai mengalir, terus-menerus mengalirkan kesegaran dan kehidupan. Dan tidak sekadar menawarkan, Tuhan juga tentu selalu menganugerahkan kebaikan. Kebaikan bagi kita semua, khususnya bagi mereka yang mau percaya dan mengasihiNya. Segala kehidupan dengan berbagai kebutuhan kita di dunia ini, bahkan hingga keselamatan sempurna di sorga abadi. Pasti dianugerahkan.
                Dianugerahkan tentu kepada yang hidup dalamNya. Karenanya mari, mari sungguh-sungguh dan lebih sungguh lagi untuk mengandalkan Tuhan Allah.  Di luar Dia tidak ada harapan, tidak ada kekuatan bahkan bisa dipastikan tidak ada kepastian keselamatan.
                Dan oleh karena itu juga, mari mulai mengandalkannya dalam doa-doa kita. Kita harus rajin dan lebih rajin bekerja berusaha. Tetapi ingat, berdoalah untuk sesama kita dengan kebaikan hati pikiran, lebih sering dan lebih sungguh lagi. Bertanyalah, belajarlah kepada Allah sekaligus mohonkan kekuatan dariNya, “Tuhan, apa yang belum aku persembahkan kepadaMu, lebih lagi, mempersembahkan kepadamu berwujud kebaikan yang bisa kubagikan bagi sesama?” Dan ketika Tuhan menegur sekaligus menuntun kita -responNya dari pertanyaan kita tadi- mari siap sedialah untuk dipakai menjadi alat-alat penyalur kebaikan bagi dunia.
                Mulailah mempersembahkan yang kecil dan sederhana, dengan melakukan kebaikan bagi orang lain. Dengan mau lebih mau mendengar orang-orang di dekat kita. Menulis dan berkomunikasi dengan baik, menggunakan alat komunikasi ataupun saat bertemu muka. Lontarkanlah sungguh tulus dan baik, kalimat-kalimat yang lebih baik. Mengungkapkan ungkapan-ungkapan yang baik dan membangun. Lebih banyak lagi mendoakan sesamamu. Lebih lagi memberi donasi uang, barang atau apapun, dimulai dari yang kecil jumlahnya, bagikan kepada yang berkekurangan. Bahkan siap membantu dan menolong mereka yang berada di dekat kita. Di konteks keadaan, bagaimanapun dan di manapun kita sedang ditempatkan Tuhan. Bahkan rindu dan senang memberlakukan itu, untuk orang-orang yang dekat dengan kita. Baik dekat secara lokasi maupun dekat di pikiran dan hati kami. Hingga sampai yang jauh sekalipun.
Teruslah menyalurkan dengan memberlakukan nyata kebaikan bagi dunia dan kehidupan. Sama-sama rindu dan melakukan kebaikan-kebaikan yang membawa kehidupan jadi sedikit dan banyak tambah ceria sukacita dan bahagia!  Sampai Tuhan Allah -Sang Sumber Kebaikan- akan datang kedua kali nanti.
Dan Dia lebih bersukacita bahagia lagi, karena melihat kita bersama sungguh berjuang dan bertekun, mewujudkan dunia penuh dengan kebaikan-kebaikan. KebaikanNya.



tulisan & foto: Lusindo Tobing.

  

29 Agustus 2012

refleksi minggu ketiga Agustus 2012



MEMPEROLEH HIKMAT DI DALAM KRISTUS








Amsal 9: 6
Mazmur 34: 9-14
Efesus 5: 19-21



                Memperoleh hikmat itu seperti kita mengambil pasir dengan genggaman dan kepalan tangan kita. Ketika mengambil pasir dengan berusaha sekuat mungkin menggenggamnya bahkan memaksa dengan sekuat mungkin mengepalkan pasir tersebut di tangan, maka, hasilnya pastilah sedikit. Tetapi sebaliknya, saat kita mengambil dan mengangkat pasir dengan wajar tenang dan genggam dengan terbuka tidak memaksa maka pasir yang kita dapatkan? Bisa dipastikan jauh lebih banyak dari cara yang sebelumnya tadi.
                
                Pemazmur punya ungkapan “kebodohan” untuk memaksakan diri dalam memperoleh hikmat. Hikmat hanya bisa diperoleh karena diberi, tepatnya dianugerahkan Allah. Tidak bisa dikejar, dicari-cari dengan kekuatan manusia kita. Karena yang muncul kemungkinan hanyalah “hikmat dunia”. Ungkapan, ajaran atau filosofi yang kelihatannya saja baik dan berguna, dan memang mungkin sebentar dan sedikit bisa bermanfaat. Tetapi tidak langgeng, tidak seterusnya apalagi selamanya.  Lalu segera akan memudar, berganti dan bahkan malah jadi sesuatu yang tidak terpakai. Jika terus dipaksakan dipakai, bisa menjadi sesuatu yang buruk.
                
                Kebodohan lain yang lebih mendasar adalah tentu hal-hal yang benar-benar salah, kebiasaan buruk, pemikiran dangkal dan sempit bahkan perilaku yang merugikan diri sendiri pun orang lain. Terlebih berbagai kebusukan dan kejahatan.  “.. buanglah kebodohan, maka kamu akan hidup, dan ikutilah jalan pengertian.” (Amsal 9: 6). Dan mengikuti jalan pengertian, itulah jalan di dalam Kebenaran. JalanNya Tuhan.  JalanNya. Harus dengan cara yang diinginkan hatiNya, barulah kita akan menerima dan memperoleh hikmat. Kemampuan untuk menimbang perkara dan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik.
                
                Jalan atau cara yang diingini bahkan disukai Allah adalah iman dan kasih. Ya, mari beriman sungguh kepadaNya. Percaya penuh, berserah total dan yakin hanya kepada kekuatan dan kekuasaanNya. Lalu benar-benar mengasihi Dia. Menyembah, memuliakan Tuhan tiap saat. Memuji, menyanyi untuknya dan menaikkan syukur dengan bekerja, studi belajar dan memberlakukan pelayanan kita tulus bagi sesama dan kehidupan. Untuk kebesaran namaNya. Dilakukan tiap hari, tiap waktu dengan berbagai kesempatan dan keadaan. Tekun dan setia percaya dan mengasihi Allah saja. Selalu dan selalu berdoa berkomunikasi dengan Tuhan. Di ucap kata, pemikiran, tetapi khususnya lewat sikap dan perbuatan yang mengagungkan kasihNya. Bersamaan dengan itu, hikmat akan datang. Hikmat dari Allah akan mengalir saat jalinan kita denganNya sangat baik, intim. Allah selalu rindu menganugerahkan yang baik kepada kita. Termasuk menganungerahkan hikmat dan kebijaksanaan illahi dariNya. Saat kita terus dan tetap menjlain hubungan dengan Allah, maka itu semua termasuk khususnya hikmat akan menjadi bagian kita. Menjadi berkat yang kita peroleh sebagai sebuah kemestian juga kepastian. Saat kita berjuang nyata memberlakukan nyata percaya dan mengasihi.

                Pemazmur mempunyai istilah untuk hal tersebut, yakni “Takut akan Tuhan”. Coba baca dan renungkan lagi  Mazmur 34: 9-14. Pemazmur bahkan mengajak dan rindu untuk mengajarkannya. Karena ia sendiri memilikinya karena memperolehnya. Memperoleh hikmat yang dari Allah. Hikmat yang memapukannya menjawab berbagai tantangan kehidupan bahkan menghadapi manusia jahat dan kejahatan yang mengintainya sejak muda hingga masa tuanya. Dan pemazmur berhasil untuk menghadapi dan menjalaninya. Menghdapai dan menjalani berbagai tantangan bahkan pergumulan hanya dengan Tuhan. Dengan hikmatNya sajalah, seperti pemazmur, kita akan bisa mengalahkan berbagai masalah bahkan menang dan melewati pergumulan dengan gemilang. Gemilang yang akhirnya kita kembalikan untuk kemuliaan Sang Sumber Hikmat, Allah di dalam nama Tuhan Yesus Kristus dengan urapan Roh Kudus!

                Dan kini, saatnya untuk kita yang yakin akan dan sedang bahkan selalu diberkati dengan hikmat.  Ayo bagikan berkat kepada sesama, dengan memberlakukan hikmat itu di kehidupan sehari lepas sehari. Tiap keadaan masalah pergumulan dan perjuangan memerlukan jawabannya masing-masing. Bahkan tiap situasi, kondisi, tempat, waktu bahkan tiap manusia dengan keberadaannya satu dengan lainnya, membutuhkan sikap dan jawabannya. Untuk itu dibutuhkan hikmat.  

                Karenanya jangan terjebak hanya mau atau bangga ketika dunia menyebut kita berhikmat. Mari lakukan hikmat. Mau berhikmat dengan melakukan membagikan hikmat dari Allah adalah dua hal berbeda. Mau berbeda dengan melakukan, bukan?  Sekarang mari melakukan dan memberlakukan. Merenungkan di hati dengan hikmat dari Tuhan Yesus. Juga rasional kita, mau mengendapkan banyak hal ilmu pengetahuan informasi dan sebagainya dengan hikmatNya. Lalu mulai merespon. Seperti Tuhan Yesus Kristus merespon masalah dan pergumulan. Tidak lari dari masalah tetap menghadapi bahkan mengalahkan masalah. Bukan dengan kekerasan dan pemaksaan seperti refleksi kita di awal tulisan ini. Tetapi sungguh mau seperti Allah di dalam Yesus yang terus-menerus dengan sangat manis meneladankan untuk: mengalahkan kejahatan hanya dengan kebaikan! “.. dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus” (Efesus 5: 19-21).

                Dan akhirnya itu semua sedikit-banyak atau langsung-tidak langsung akan mengajak orang-orang di dekat kita. Tindakan hikmat akan mempengaruhi lingkungan kita untuk jadi lebih tenang. Ada damai di tengah pergulatan bahkan tangisan dan ketakutan. Sehingga yang muncul bukan iri, curiga dan saling menyalahkan. Tetapi kita mau dan bisa dipakai Allah untuk seperti Dia yang rela berkorban bagi kepentingan bersama. Melayani kebersamaan di dalam Kasih yang berkembang. Sehingga kebaikan yang murni akan membias. Mengalahkan pemikiran dan tingkah laku yang egois dan merusak.  

                 Sebaliknya yang muncul adalah kebiasaan saling sapa, mau peduli dan bahkan siap saling menolong dalam semangat kebersamaan. Ada terus perubahan. Perubahan tentu menuju yang baik. Bahkan jadi lebih dan semakin lebih baik. Tidak ada keraguan tertawa, merdeka bersukacita, dalam mengekspresikan segala sesuatu yang baik dan saling menjadi sumber inspirasi yang benar  satu dengan lainnya. Baik dari anak-anak hingga remaja, dewasa bahkan usia lanjut. Dari kehidupan bersama keluarga, melebar meluas penuh hikmat kebaikan kebahagiaan dari dan dalam Kasih untuk lingkungan. Dengan tetangga, sesama bahkan dengan semua orang yang kita jumpai, terus bertekun memberlakukan hikmat. Hikmat dari teladan Kristus. Hikmat Kasih sayang yang pasti dan selalu dibutuhkan semua orang di dunia. Dunia yang lebih berhikmat. Dunia yang lebih sorgawi. Dunia untuk hidup kita bersama, dengan bahagia.



tulisan & foto: Lusindo Tobing.