29 Juni 2017

Refleksi Minggu pertama Juli 2017


Yeremia 28: 5-9


Pendidik Kebenaran

 

Hoax atau berita palsu rupanya sudah ada di zaman Perjanjian
Lama, khususnya di konteks nabi Yeremia. Berita-“nubuat” dari
Hananya dengan mengatasnamakan Tuhan bahwa kuk Babel akan
patah dalam dua tahun (baca juga ayat 2-4), rupanya adalah nubuat
palsu. Bagaimana respons nabi Yeremia? Sangat bijaksana, nabi
Yeremia membantah pemberitaan Hananya dengan penuh kehati-
hatian (5-6).

Ia meminta semua rakyat Yehuda menganalisa pemberitaan itu
berdasarkan kebenaran yang pernah disampaikan oleh nabi-nabi
sebelumnya (8-9). Ketika Hananya mulai menggunakan
kekerasaan, ia pilih menyingkir. Nabi Yeremia kembali menemui
Hananya setelah Allah memerintahkannya memberitakan kepastian
penghukuman Allah atas Yehuda, dan tentang kematian Hananya
karena menyesatkan bangsa pilihan Allah (12-16). Dua bulan
kemudian Hananya mati (17). Di sinilah kebenaran Firman Allah
melalui Nabi Yeremia teruji dan terbukti!

Mari jangan mudah terpengaruh dengan berita apalagi “nubuat”
yang tampaknya spektakuler, bahkan dari hamba Tuhan terkenal
sekalipun (seperti cara spektakuler yang dilakukan Hananya, coba
baca ayat 10-11). Ujilah setiap berita dan ajaran dalam terang
firman Tuhan. Setialah berpegang pada kebenaran firman Tuhan,
dengan rasional belajarlah dari ajaran, sejarah gereja dan para
pengajar Iman Kristen, dan yang terakhir: mari miliki hati yang
selalu mendengar suara Roh Kudus, Roh Kebenaran. Jangan mudah
terprovokasi, ikut-ikutan menyebarkan hoax dan atau melakukan
perbuatan kekerasan yang merusak kehidupan bersama. Mari jadi
penerima kebenaran, dengan menjadi pelaku-pelaku kebenaran,
mari bersiap sedialah dipakai-Nya menjadi pendidik kebenaran
bagi keluarga dan semua orang, melalui kata-kata yang benar dan
perbuatan-tingkah laku yang benar setiap hari. Amin.

 

Pdt. Lusindo Tobing