21 September 2019

Melayani Ibadah Peneguhan Nikah dan Pemberkatan Perkawinan Enggal&Archie.


Melayani Ibadah Peneguhan Nikah dan Pemberkatan Perkawinan Enggal&Archie. “Diberkati & Menjadi Saluran Berkat, Sampai Selama-lamanya.” 💒💑🤗🥰

20 September 2019

Memghadiri Rapat Majelis Pleno GKJ Nehemia

Terpujilah Tuhan untuk semangat, saling evaluasi, sepakat meningkatkan pelayanan dan sukacita bahagia para pelayan-Nya. Semalam menghadiri Rapat Pleno Majelis Lengkap GKJ Nehemia. Hadir di durasi awal: Laporan Panitia Bulan Budaya (2019), dan Presentasi Panitia Natal-Tahun Baru (2020) serta Ulang Tahun Gereja ke-49 GKJ Nehemia. Dan di bagian akhir kami menutupnya dengan Persiapan Perjamuan Kudus untuk Majelis, usai semua bahkan hari belum berganti. Semua karena Kasih dan untuk Kemuliaan-Nya. 💒🤗🕊🙏


😍🤗


😍🤗

19 September 2019

Bersama Indy Barends.


Bersama Indy Barends. Bersyukur dan sangat menikmati Gala Premiere Film “Bebas.” 🎞🤗

Bersama Iwa-K

Bersama IWA-K. Bersyukur dan sangat menikmati Gala Premiere Film “Bebas.” 🎞🤗

Bersyukur dan sangat menikmati Gala Premiere Film “Bebas.”


Bersyukur dan sangat menikmati Gala Premiere Film “Bebas.” 🎞🤗

18 September 2019

Berbagi Harta Milik

Berbagi Harta Milik (Lukas 12: 13-21)
“Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu” (Lukas 12: 15)
Di perikop kita kali ini, secara tidak langsung Tuhan Yesus Kristus mengajarkan bahwa kekayaan kita dapat diinvestasikan untuk nilai-nilai yang abadi. Dengan cara apa? Jawabannya: Berbagi. Sebaliknya, jika tidak mau berbagi karena ketamakan kita, itu akan menimbulkan distribusi tidak merata, ketidakadilan, iri hati, tipu daya dan kejahatan. Sehingga sekalipun kaya secara dunia namun disebut bodoh di hadapan Allah.
Di ayat pertama (ayat 13), kebodohan itu langsung tampak pada seseorang yang meminta Tuhan Yesus menjadi “hakim” tentang berbagi warisan. Tuhan sudah pasti tahu bahwa orang tersebut dan juga kita di jaman kini, memerlukan harta untuk hidup, namun melalui perumpamaan-Nya (baca lagi ayat 16-21), Dia menegaskan bahwa kepenuhan hidup manusia tidak terletak pada kelimpahan harta. Sebab kekayaan tidak memperpanjang umur, Tuhanlah yang menentukannya, kebahagiaan, puas lelas dan damai sejahtera tidak “tergantung” pada kekayaan kita. Mereka yang menyandarkan kebahagiaan serta kepenuhan makna hidupnya pada kekayaan – dan bukan kepada Tuhan – sekali lagi masuk ke dalam kategori orang bodoh (ayat 20), yang memastikan seseorang justru tidak menjadi kaya di hadapan Allah.
Mari jadi kaya yang sesungguhnya dengan cara: mau berbagi. Berbagi harta milik kita untuk kesejahteraan orang lain. Benar-benar nyata mengasihi mulai dari doa-doa kita, yang selanjutnya peduli berbagi demi dan untuk: kesejahteraan keluarga, teman dan tetangga di lingkungan di mana kita menetap dan atau bekerja, juga untuk kota Jakarta (ingat ada otentik ayat -walau dengan konteks berbeda- di Yeremia 29:7, Firman Allah demikian, “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”), dan bahkan untuk kesejahteraan warga negara dan negara kita tercinta, Indonesia. Allah dalam Tuhan Yesus Kristus sesungguhnya tidak tertarik dengan harta milik kita, sebab saemua itu sejatinya berasal dari Dia, tetapi Kristus tertarik isi hati dan pikiranmu. Mari kita kaya di hadapan Allah (ayat 21), bukan sekadar kaya harta dunia.
Mari miliki hati- pikiran yang mengasihi dan menyembah hanya kepada-Nya, bersyukur paling besar-luas yang bisa kita miliki, itu akan memampukan kita untuk siap berbagi untuk kesejahteraan semua orang dan kesejahteraan seluruh kehidupan. Amin.

Oleh: Pdt. Lusindo YL Tobing,

Renungan: Lakukan Tugasmu, Tuhan akan Menyelesaikannya

Lakukan Tugasmu, TUHAN akan Menyelesaikannya! (Mazmur 138: 1-8)
“TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!” (Mazmur 138: 8)
Pemazmur baru saja mendapat jawaban atas doa-doanya meminta tolong. Karena Allah memberikan kekuatan rohani maka dia beribadah dengan segenap hati (refleksi ayat 1-3). Frasa di hadapan para allah telah ditafsirkan secara berbeda-beda. Tetapi kalimat “para allah” merupakan terjemahan paling tepat, sebab berikutnya disebut tentang semua raja di bumi. Di konteks pemazmur, mereka melayani banyak allah, tetapi pada masa yang akan datang mereka akan menyembah Allah sejati. Perhatikan,  menarik sekali bahwa mazmur ini diawali langsung dengan nyanyian syukur, tetapi kemudian menjadi nyanyian kepercayaan. Kendatipun pemazmur sesungguhnya berada dalam kesulitan, dia tidak memulai dengan ratapan, melainkan dengan penuh syukur mengakui rahmat dan karunia-Nya sambil terus melakukan tugas panggilannya bersama keluarga dan bangsa Israel di konteks pemazmur saat itu.
Imajinatif spiritual kita seperti diajak melihat tangan Allah yang satu terulur melawan para musuhnya, demikianlah tangan-Nya yang satu lagi menyelamatkan umat-Nya. Kristus adalah tangan kanan Tuhan yang akan menyelamatkan semua orang yang melayani-Nya (baca ulang dan maknai ayat 8). Kita sering sibuk dan khawatir mengenai banyak hal berkaitan dengan kepentingan kita sendiri, tetapi Allah di dalam Kristus tahu semua hal yang benar-benar kita perlukan (bandingkan Matius 6:32), syaratnya kita mau benar-benar melakukan tugas tanggungjawab yang Tuhan berikan, dan Dia akan menyediakan penyelesaian hingga rampung dengan hasil terbaik.
Mari melakukan-memperjuangkan: pertama, kewajiban kita terhadap Allah, dan yang kedua, kebahagiaan di dalam Allah, supaya yang pertama kita jalankan dengan setia, dan yang kedua terjamin baik selama masih hidup di bumi, sampai akhirnya kita dikumpulkan Allah di Sorga -locus kebahagiaan sempurna dan sejati-. Perhatikan ibu, bapak dan saudara/i: Jika hati kita mendambakan dan memberlakukan dengan taat kedua hal itu lebih dari segalanya, berarti sebuah pekerjaan baik telah dimulai dalam diri kita, dan Dia yang telah memulainya, “akan menyelesaikannya bagiku,” dan menyempurnakan kasih penyelamatan-Nya terus-menerus. Mari mengekspresikan keyakinan yang kuat bahwa Allah (pasti) akan memenuhi janji-Nya menyempurnakan kelepasan dan keselamatan atas kita. Baik secara sangat pribadi (seperti yang dinyatakan oleh pemazmur), namun juga dengan keluarga dan orang yang dekat di hati serta pikiran kita. Lalu keyakinan iman yang penuh ucapan syukur ini akan menyebar melalui kehidupan perkataan dan perbuatan nyata kita setiap hari, kepada tetangga, lingkungan, kebersamaan jemaat di wilayah dan komisi, hingga kota Jakarta sekitarnya bahkan untuk Indonesia. Bagaimanapun dan dimanapun Tuhan menempatkan kita, dengan iman-pengharapan-dan kasih, mari lakukan tugas setiap kita dengan sebaik-baiknya. Pasti akan indah pada akhirnya sebab Tuhan akan menyelesaikannya bagi kita. Amin.
Oleh: Pdt. Lusindo YL Tobing

Renungan: Siapakaj Sesamaku Manusia?

Siapakah Sesamaku Manusia? (Lukas 10: 25-37)
“Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: Dan siapakah sesamaku manusia?”
(Lukas 10: 29)
Seorang pendeta sekaligus teolog di abad 17 bernama Dr. John Lightfoot, menegaskan keadaan konteks bacaan kita kali ini, dengan berkata, “Mereka (pemimpin dan pemuka agama Yahudi) tidak akan menghukum mati seorang Israel yang membunuh orang bukan-Yahudi, sebab dia bukanlah sesama manusia mereka. Mereka memang berkata bahwa mereka tidak boleh membunuh orang bukan-Yahudi yang tidak sedang berperang dengan mereka. Namun, apabila mereka melihat seorang bukan-Yahudi sedang sekarat, mereka tidak merasa berkewajiban untuk menyelamatkan nyawanya.”Orang Yahudi khususnya di konteks Injil Lukas, menganggap hanya orang sebangsanya adalah sesama mereka.
Tuhan Yesus Kristus meluruskan gagasan dan sikap tersebut, dan menunjukkan melalui sebuah perumpamaan, bahwa orang yang darinya kita butuh perbuatan baik mereka dan yang siap membantu kita dengan perbuatan baiknya itu, tidak bisa tidak harus kita anggap sebagai sesama manusia kita. Dan sama halnya juga, kita harus memandang sebagai sesama kita, semua orang yang memerlukan perbuatan baik kita dan yang perlu kita bantu dengan kebaikan hati kita, meskipun mereka bukan sebangsa dan seagama dengan kita.
Bagaimana dengan kita di “jaman now” kini? Siapakah sesamaku manusia? Jawabannya jelas adalah semua orang, semua manusia. Tetapi Tuhan Yesus tentu hendak mengingatkan (dalam bentuk perumpamaan dan pertanyaan) kepada si ahli Taurat, sekaligus kini mengajarkan kepada kita semua bahwa orang-orang Samaria dalam hatinya bukan orang “kafir”, melainkan jauh lebih luhur dari para ahli taurat, imam dan pemuka Yahudi lainnya di konteks itu. Inti perumpamaan tersebut adalah: Tiap-tiap orang yang melihat orang lain dalam kesusahan, harus merasa dirinya sebagai “sesama-manusianya” dan wajib menolong dia, bahkan walaupun ia dipandang sebagai musuh. Konfirmasi kebenaran firman ini, kita tarik dari jawaban si ahli Taurat sendiri (di ayat 37), “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Mari mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita manusia (baca dan maknai lagi Matius 22: 37-40). Siapakah sesamaku manusia itu? Sekarang pasti kita sudah bisa lebih mantap menjawab dan melakukannya nyata. Amin.
Oleh: Pdt. Lusindo YL Tobing

Renungan: Diutus Dalam Karya Pendamaian Kritus

Diutus Dalam Karya Pendamaian Kristus (Kolose 1: 15-23)
“…dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus” (Kolose 1: 20)
Rasul Paulus menegaskan tujuan kedatangan Tuhan Yesus Kristus adalah memulihkan keretakan hubungan akibat dosa antara Allah dan manusia. Dengan pengorbanan darah dan tubuh Kristus yang disalibkan. Di satu sisi memberi kita rasa aman, memastikan bahwa kita bukan lagi musuh Allah. Refleksi yang lebih kuat adalah pengorbanan Tuhan Yesus Kristus di kayu salib bukan saja ditawarkan kepada semua manusia, melainkan juga kepada seluruh ciptaan (baca dan maknai lagi ayat 20). Tetapi di sisi lain memunculkan tantangan: Bagaimana dengan respons kita? Paulus mengingatkan bahwa dunia tidak jahat. Dunia adalah milik Allah (termasuk kita di dalamnya) yang seharusnya ikut ambil bagian di dalam misi pendamaian seluruh alam semesta.
Selamat memasuki Sakramen Perjamuan ibu, bapak dan saudara/i semua. Dalam pendamaian yang telah diawali oleh Tuhan Yesus Kristus, mari kita siap diutus. Bukan diutus untuk disalib secara harfiah. Namun kita bersedia “menyalibkan” berbagai kebiasaan buruk, kesombongan, iri dengki, hawa nafsu, kemarahan, kebencian, permusuhan dan berbagai perbuatan yang meretakkan hubungan kita dengan Allah, dan dengan manusia, serta semua ciptaan. Mari diutus untuk lebih mengasihi, memaafkan, peduli, berbagi dan menolong siapa saja sebagai wujud memulihkan kehidupan bersama. Hal ini juga ditekankan Paulus, salah satunya sebagai “serangan balik” kepada kaum Gnostik yang mengajar-memandang dunia sebagai sesuatu yang jahat dan tidak bisa lagi diperbaiki.
Kehidupan bisa diperbaiki, dipulihkan dan diselamatkan. Itikad Allah mendamaikan manusia dengan diri-Nya sendiri dalam Tuhan Yesus Kristus, membuktikan bahwa kasih-Nya tiada terbatas, selalu ada, tidak pernah terlambat dan bahwa pendamaian itu berlaku untuk seluruh alam semesta. Pendamaian Kristus. Pendamaian yang sempurna. Amin.
Oleh: Pdt. Lusindo YL Tobing

Renungan: Jadilah Murid Kristus yang Mewujudkan Contoh / Teladan

Jadilah Murid KRISTUS yang Mewujudkan Contoh/Teladan (I Timotius 1: 12-17)
“Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal.” (I Timotius 1: 16)
Paulus dulu bernama Saulus. Sebelum menjadi Rasul-Nya, saat masih sebagai Saulus ia jahat mengejar para pengikut Kristus untuk dianiaya bahkan membunuh mereka. Kemurahan Kasih Allah kepada Saulus menjadi Paulus memberikan kita teladan kasih dan semangat untuk memberitakan Injil kepada semua orang. Teladan dari Allah yang memberikan kemurahan dan panjang sabar serta kesempatan kepadanya untuk bertobat, menjadi murid dan bahkan pelayan Kristus yang luar biasa.
Kini dalam di suratnya (yang menjadi konteks bacaan serta perenungan kita bersama), Rasul Paulus tidak perlu menguraikan doktrin-doktrin secara terinci bagi Timotius, tetapi Paulus kemudian menguatkan iman dan mendorong semangat pelayanan Timotius dengan suatu keteladanan yang hebat: Paulus menyajikan kontras yang dramatis di antara ketidaklayakannya dengan kemurahan Kristus, dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya (baca ulang dan maknai Nats ayat 16). 

Semua itu diteruskan Paulus melalui keteladanannya sebagai murid Kristus, berwujud pelayanannya ke banyak tempat dan banyak tulisan suratnya yang mengisi Alkitab. Paulus seperti ingin mengatakan kepada Timotius juga semua murid dan pelayan-pelayan Kristus (termasuk kita sekaran kini) bahwa, “Jika Tuhan menyelamatkan aku, orang yang pernah lebih buruk daripada yang lain, maka tidak ada yang perlu putus asa; dan kamu bisa yakin bahwa Tuhanku bisa memampukan kamu juga.”
Mari kita setia menjadi umat, menjadi murid dan sekaligus menjadi pelayan-pelayan Kristus dengan memberikan contoh dan teladan kepada orang lain, khususnya bagi “Timotius-Timotius jaman now”kepada generasi berikutnya. 
Seperti Rasul Paulus melakukan pengaderan melalui keteladanan, marilah kita setia berjuang mewujudkan keteladanan atau layak menjadi contoh melalui perkataan, tulisan, komunikasi kita di sosial-media, khususnya melalui sikap melayani dan tingkah laku perbuatan penuh kasih nyata, setiap waktu. Amin.

Oleh: Pdt. Lusindo YL Tobing

Renungan: Jadilah Murid Kristus yang Tidak Layu Iman

Jadilah Murid KRISTUS yang Tidak Layu Iman (Mazmur 1: 1-6)
“Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1: 3)
Pergaulan yang sembarangan, mulai mengikuti ajakan orang untuk berdosa, akan dengan cepat merusak kebiasaan baik, iman menjadi layu, pengharapan tidak bertumbuh , lalu kasih menjadi mati, dan bahkan bisa berujung pada ikut mengajak orang lain untuk berdosa! Apa yang mungkin dituai oleh orang yang hidup dalam keberdosaan? Tidak ada yang bernilai kekal yang bisa ditabung untuk masa depan (baca ulang ayat 4). Bahkan kebinasaan menjadi akhir tragis bagi mereka (maknai ayat 6). Kebahagiaan apa yang bisa dinikmati orang yang bergaul dengan Tuhan? Kepuasan sejati karena tahu hidupnya berhasil di mata Tuhan, yaitu seperti pohon yang tumbuh subur menghasilkan buah yang baik dan lebat. Siapakah yang disenangkan kalau bukan pemiliknya sendiri?
Ayat 3 menegaskan Hasil untuk mereka yang dengan setia mencari Allah dan Firman-Nya, sehingga imannya hidup di dalam Roh. Karena air sering kali melambangkan Roh Allah, maka mereka yang diajar oleh Allah (di konteks Perjanjian Lama) dan menjadi pengikut atau murid Kristus (di konteks Perjanjian Baru) tinggal di dalam Firman-Nya, akan menerima sumber hidup yang tidak habis-habisnya dari Roh. Frasa, “apa saja yang diperbuatnya berhasil” tidak berarti bahwa tidak pernah akan terjadi masalah atau kegagalan, tetapi bahwa orang benar akan mengetahui kehendak dan hidup dilimpahi berkatNya.
Dengan demikian, setiap orang, jika mau jujur pada dirinya sendiri, ketika dapat melihat cerminan wajahnya sendiri sebagai umat Allah sekaligus murid Kristus, maka iman bahkan pengharapan serta kasihnya terus bertumbuh dan berbuah lebat. 
Oleh karena itu, mari jangan layu, tetapi bertumbuhlah dalam iman. 
Mari Jangan mati karena kebiasaan perbuatan buruk dan dosa, namun hiduplah dengan berbuah-buah. 
Mari berhasil (refleksi kata terakhir di Nats kita kali ini, di ayat 3) setelah selalu setia berjuang mengatakan yang benar, berbuat banyak hal yang baik, dan membagikan dari sesuatu yang kelihatannya kecil hingga besar, hal-hal yang berguna hanya seturut Firman-Nya. Amin.
Oleh: Pdt. Lusindo YL Tobing

Renungan: Jadilah Murid Kristus yang Tendah Hati

Jadilah Murid KRISTUS yang Rendah Hati (Lukas 14: 7-11)
“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Lukas 14: 11)
Tuhan Yesus Kristus di konteks bacaan kita kali ini merujuk Amsal Salomo (baca lagi ayat 11 dan bandingkan dengan Amsal 25:6-7), menegaskan bahwa rendah hati (dalam teks tertulis “merendahkan diri”) adalah kuncinya! Rendah hati adalah kemampuan mengenali diri sendiri dan posisinya secara tepat, baik di mata Allah, maupun di hadapan orang lain.
Oleh sebab itu jangan pernah merasa layak mendapatkan suatu tempat kehormatan, atau memburu penghargaan demi gengsi, harga diri dan atau untuk menaikkan status sosial (ayat 8). Menggunakan gambaran lakon sebagai tamu, Tuhan Yesus mengingatkan itu semua bisa  mempermalukan diri kita sendiri, terlebih bila kita berhadapan dengan orang yang memang benar-benar pantas mendapatkannya. Jika memang layak untuk memperoleh penghargaan, kita pasti akan mendapatkannya (ayat 9&10).
Maka dalam hal ini, perlu ada sikap rendah hati. Rendah hati bukan karena kurang penghargaan terhadap diri sendiri, tetapi justru bagaimana menjadi murid atau pengikut-Nya yang tahu menempatkan diri.
Seseorang yang meninggikan diri dan hatinya dalam kehidupan ini akan dipermalukan di dalam Kerajaan Sorga yang akan datang. Tempat kehormatan kita di hadapan Allah jauh lebih penting daripada kehormatan kita di bumi. Kehormatan semacam itu tidak dapat diperoleh dengan menonjolkan diri, sebab hal itu hanya datang melalui kerendahan hati.
Begitu juga dalam kehidupan saat kita menjadi tuan rumah dalam suatu perjamuan. Menurut Tuhan Yesus yang perlu kita undang bukanlah hanya orang kaya dan terkenal atau kerabat kita sendiri (baca juga ayat 12). Mengundang mereka memang menyenangkan dan menguntungkan. Tetapi undanglah orang-orang yang tidak bisa membalas pemberian kita, mereka yang layak menerima belas kasih kita.
Selamat memasuki Bulan September, rahmat berkat dan kesempatan yang Tuhan Allah anugerahkan. 
Selamat semakin setia menjadi murid-murid Tuhan Yesus Kristus di bulan yang baru ini. Mari semakin tahu menempatkan diri, bahwa semuanya hanya kasih karunia-Nya. Selamat semakin rendah hati, semakin mengasihi Tuhan dan dengan semakin ahli juga berani mengasihi sesama manusia. Amin.
Oleh: Pdt. Lusindo YL Tobing

Beberapa tema pengajaran Katekisasi Baptis Dewasa - GKJ Nehemia

“dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu..” (Matius 28:20). Beberapa tema pengajaran Katekisasi Baptis Dewasa - GKJ Nehemia. 🕊💒🤗💡

Di RS. Graha Permata Ibu - Depok

Setelah memberi Pembimbingan Khotbah kepada Ibu Abanita Kaban - calon pendeta jemaat GKJ Yeremia. Membesuk Mbak Mega (putri Pdt. Eddyson SWN) yang sedang dirawat di RS. Graha Permata Ibu, dan bertemu dengan para Adiyuswa juga beberapa umat GKJ Yeremia. 😊💒


Ngobrol-sharing dengan perwakilan Panitia Seminar HKBP Rawalumbu



Menyediakan waktu utk ngobrol-sharing dengan perwakilan Panitia Seminar Membentuk Jiwa Pelayanan dan Komunikasi Orangtua dengan Remaja - HKBP Maranatha Rawalumbu. 💡🙏

16 September 2019

Menyajikan khotbah di Ibadah pagi LP Cipinang.

Menyajikan khotbah di Ibadah pagi LP Cipinang. “Mengasihi manusia, Mengasihi Allah.” 😍🤗


15 September 2019

@Goethe Institut. Hadir dan menikmati penampilan Natasya Caca Tobing dkk

@Goethe Institut. Hadir dan menikmati penampilan Natasya Caca Tobing dkk, mengisi 1 lagu dalam konser yang menampilkan lagu-lagu anak daerah Indonesia. Performa utama oleh Kak Alex dan Kak Sukma, feat Kak Giceila, Jakarta String Corner Orchestra dan Estudio Youth Choir. “Dolanan Project.” 🎼🇮🇩😃

Beberapa Materi khotbahku

Beberapa materi khotbah yang kusajikan di Ibadah Minggu sore (jam 17:00) di GKJ Nehemia. “Jadilah Murid Kristus yang Mewujudkan Contoh/Teladan.” 💡🕊💒🤗

 

Menghadiri persiapan/GR untuk Peneguhan Nikah dan Pemberkataan Perkawinan Enggal&Archie


Menghadiri persiapan/GR untuk Peneguhan Nikah dan Pemberkataan Perkawinan Enggal&Archie (GKJ Nehemia Wil. Ciputat & Tebet). 💑🕊

Ketika mendampingi PA Wilayah Permata Hijau - GKJ Nehemia.


Ketika mendampingi PA Wilayah Permata Hijau - GKJ Nehemia. “Murid Kristus yang Mengampuni.” 💒🕊💡🙏

Ketika selesai menyajikan khotbah di Ibadah Minggu pagi (jam 08:00) GKJ Tangerang Pephantan Serpong

Ketika selesai menyajikan khotbah di Ibadah Minggu pagi (jam 08:00) GKJ Tangerang Pephantan Serpong. “Merayakan Pengampunan Ilahi dalam Persekutuan.” 🕊🤗