10 Januari 2013

refleksi minggu kedua Januari 2013


Yesaya 43: 1-7



ENGKAU BERHARGA DI MATA-KU

Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu. (Yesaya 43: 4)




Mahkamah Konstitusi membatalkan status sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Lalu muncullah keributan, pro dan kontra. Saya bukan mau meremehkan isu, tetapi bukankah yang terpenting apakah anak-anak kita atau para murid sekolah di Indonesia benar-benar dipandang berharga? Sehingga bukan "label" sekolahnya, tetapi benar- benar dilayankan sebuah pendidikan yang berkwalitas sebagai manusia Indonesia dan dunia.

Refleksi berikutnya yang lebih mendalam, apakah kita pernah menyadari bahwa kita ini sangat berharga di mata Tuhan?  Tuhan tidak pernah memandang rupa, jabatan, atau kekayaan yang kita miliki.  Sesungguhnya,  "Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,.." (ayat 4). Seburuk apa pun kita di mata dunia ini, bahkan mungkin kita telah dihina, dicaci, dan direndahkan, tetapi kita tetap berharga di mataNya.  Kalau kita begitu bangga dipuji dan dihormati oleh orang, lain, alangkah lebihnya bila kita dipandang sangat berharga dan mulia di hadapan Tuhan, bahkan disebutNya kita sebagai biji mataNya sendiri! Dan Alkitab menyatakan,  "...siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya-"  (Zakharia 2:8b).

Sudah sepatutnya hati kita berlimpah dengan syukur dan berhentilah untuk mengeluh, ribut dan bersungut-sungut dengan kondisi yang mungkin menurut kita tidak sebanding dengan orang-orang lain. Sebab dengan ucapan syukur kepada Tuhan, akan semakin kuat iman kita di dalam Dia dan itulah awal dari karyaNya dalam hidup kita. Sehingga lebih lagi mengasihi Allah dan sesama. Dan dalam ucapan syukur ada kuasa yang turun dari tempat mahatinggi, sebab di dalamnya kita selalu percaya bahwa Tuhan sanggup memberlakukan yang terbaik atas pergumulan dan perjuangan hidup kita. 

Bagaimanapun dan keadaan apa pun yang kita alami-jalani saat ini. Ingat, kita semua berharga di mata Tuhan! Amin.



tulisan & foto: Lusindo Tobing.

07 Januari 2013

refleksi minggu pertama Januari 2013



Efesus 3: 1-12



KASIH KARUNIA BAGI SEMUA

Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu  (Efesus 3: 8)





Apakah Allah mengasihi hanya orang Kristen saja? Apakah kasih karunia adalah hanya untuk orang Kristen saja? Jawaban untuk keduanya adalah tentu tidak. Allah mengasihi dan Kasih karunia Allah adalah untuk semua orang. Dalam perikop kita kali ini, hal itu ditekankan ulang lebih kuat lagi. Kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepada Paulus bukan terutama untuk dinikmatinya sendiri, tetapi agar dapat disalurkannya kepada orang lain. “..untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu.” (ayat 8).

Orang-orang Yahudi melalui penyataan Allah dan pengalaman hidup nenek moyang mereka bersama Allah, merasa bahwa mereka dikhususkan Allah. Begitu pula dengan orang-orang non Yahudi -- orang-orang Yunani para pengikut agama misteri—melalui pengalaman spiritual, mereka beranggapan bahwa hanya mereka yang memiliki hikmat ilahi. Kedua anggapan ini sungguh keliru, karenanya Paulus mengungkapkan suatu kebenaran, yaitu rahasia Allah.

Orang-orang non Yahudi yang sudah percaya telah dipersatukan dengan orang-orang Yahudi yang percaya dalam satu tubuh, yaitu jemaat. Paulus mengatakan bahwa rahasia Allah ini telah memberikan pengaruh yang dahsyat terhadap diri dan pelayanannya. Olehnya Paulus didorong untuk mewartakan Injil kepada semua orang.  Tugas kita, orang-orang yang percaya kepada Kristus yang kini diberi kesempatan memasuki tahun 2013, sebagaimana yang dilakukan oleh jemaat pada masa lampau (ayat 10) adalah lebih memberitakan dan menawarkan rahasia Allah itu kepada semua orang untuk mereka alami.  Yang adalah kasih Allah pada semua orang yang menarik kita untuk menerima (percaya) dan membagikan kasih karuniaNya yang kekal di dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Oleh karenanya, mari dengan tingkah laku dan pelayanan nyata di tiap hari, tiap kita menjadi pemberita kasih karunia Allah. Bagi semua orang. Bagi semua kehidupan.  Amin.




tulisan & foto: Lusindo Tobing.