23 Desember 2015

Selamat Natal 2015 & Selamat Tahun Baru 2016




"Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata." (Tit. 2:11) 


Selamat Natal 2015 & 
Selamat Tahun Baru 2016. 
dari kami: Pdt. Lusindo Tobing & keluarga. :) 

 
(foto: lt)

Refleksi Minggu Keempat Desember 2015

Kolose 3: 12-17 


ORANG-ORANG PILIHAN 



Buah adalah bukti dari sebuah tanaman yang hidup, bahkan tumbuh subur dan segar. Demikian pula dengan buah pertumbuhan kehidupan orang-orang pilihan Allah. Kasih yang terefleksi dari aplikasi hidup sehari- hari. Bukti dari kehidupan dalam Allah berpusatkan Kristus serta urapan Roh Kudus. Jadi pertumbuhan Kristen adalah secara kualitatif bukan alternatif. Kualitas sebagai orang-orang pilihan. Atau bisa juga dibalik, orang-orang pilihan yang sangat berkualitas! 

Ya, menjadi orang-orang pilihan bukan sekadar pilihan. Tetapi benar-benar pilihan Allah, berdasarkan kualitas hidup orang-orang yang dinyatakan oleh Allah. Di dalam Dia kita dimotivasi dan dimampukan. Untuk hidup berbuah sesuai panggilan hidup kita sebagai orang-orang pilihan yang dikuduskan dan dikasihi-Nya (ayat 12). “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.” (ayat 14-15). 

Kehidupan Kristen yang bertumbuh dan bersama-sama (baca ayat 16) diperbaharui oleh-Nya. Harus dibuktikan, berbuah-buah, dilakukan dengan nyata! Alkitab memberikan prinsip-prinsip umum yang mengizinkan orang percaya yang dipilih oleh RohNya. Juga dimampukan menentukan betulnya atau salahnya hal-hal yang tidak disebut dengan jelas di dalam Firman Allah. Dalam segala sesuatu yang kita katakan, lakukan, pikirkan, atau nikmati, kita harus mengajukan sikap sebagai berikut: 1. Segala hal itu dilakukan untuk kemuliaan Allah, bukan sekadar untuk memuliakan diri sendiri dan manusia ; 2. Nyatakan Doa dan lakukan "dalam nama Tuhan Yesus" (ayat 17) seraya memohon berkat-Nya atas kegiatan dan perbuatan mengasihi sesama manusia; 3. Lakukan perbuatan-perbuatan baik atau perbuatan-perbuatan pilihan, sementara kita dengan sungguh-sungguh mengucap syukur kepada Allah, sang Maha Besar yang telah memilih kita. Amin. 


Tulisan & Foto: Lusindo Tobing.

15 Desember 2015

Refleksi Minggu Ketiga Desember 2015


Lukas 1: 46-55 


MEMULIAKAN  




Setelah Anunsiasi berlanjut ke Visitasi dan memunculkan Magnificat! Setelah Malaikat Gabriel menyampaikan berita dan rancangan Allah atas diri Maria dan ia akan mengandung Sang Juruselamat (peristiwa ini dikenal dengan Anunsiasi). Lalu Maria meresponnya dengan melakukan Visitasi (perkunjungan) kepada saudari sepupunya Elizabet. Dalam Kitab Injil, termasuk latar belakang perikop kita (di konteks Lukas ini), yang terjadi setelah Maria menyalami Elizabet, anak dalam kandungan Elizabet (yang kelak menjadi Yohanes Pembaptis) bergerak. Ketika hal itu diberitahukan kepada Maria, dia menyanyikan Kidung Magnificat.   

Maria memuliakan Allah karena karya Allah bagi dirinya (ayat 46-49). Ia yang rendah telah diperhatikan Allah sehingga segala keturunan akan menyebutnya berbahagia. Maria memuji karya Allah atas orang yang takut akan Dia, sebaliknya Dia akan mempermalukan orang yang menjadi musuh-Nya (ayat 50-53). Allah dipuji karena telah membuat harapan umat-Nya terwujud melalui Putra yang akan dilahirkan Maria (ayat 54-55).   

Kita pun patut memuji Allah karena janji yang dulu hanya diperuntukkan bagi Israel kini ditujukan juga bagi kita. Mari memuliakan Juruselamat yang datang, sebab kita bisa mendapat bagian di dalam Kristus. Saat-saat mendekati Hari Natal sepatutnya kita sebagai pribadi, keluarga dan umatNya semakin bersyukur karena Allah mengingat kesengsaraan umat manusia yang dibelenggu dosa. Dia mengirim Anak-Nya untuk menyatakan kemuliaan dan kuat kuasa-Nya atas dunia, dosa, dan juga atas maut. Selamat semakin dimuliakan Allah, dengan terus “ber-Magnificat” memuji dan membagikan Kasih PenyelamatanNya. Selamat menjelang malam Natal dan Natal Tahun 2015. Amin. 


Tulisan & Foto: Pdt. Lusindo Tobing.

Refleksi Minggu Kedua Desember 2015


Filipi 4: 4-7 

BERSUKACITALAH 



Bersukacitalah! Ya, perikop Minggu Adven ketiga kita diawali sebuah ajakan kuat. “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (ayat 4). Mari semua jemaat Tuhan dan pembaca, bersukacitalah. Mari tiap-tiap kita di tiap-tiap bagian hidup kehidupan, bersama sepakat meruntuhkan-menyelesaikan pergumulan hidup berat hanya bersama Tuhan saja, bersukacitalah. Dan, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!” Bersukacitalah! (ayat 5)   

Rasul Paulus kembali mengingatkan di konteks jemaat Filipi, juga kita kini , di durasi akhir Desember, sekaligus akhir Tahun 2015 bahwa sukacita Kristen dan bersukacita itu berasal dari Tuhan. Paulus meminta agar secara aktif kita semua menyatakan kebaikan hati bagi sesama manusia dan kehidupan. Dan, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (ayat 6)   

Setia memupuk status tersebut dalam doa dan perbuatan nyata, relasi dengan Tuhan menjadi komunikasi yang hidup dan hangat. Sehingga dalam kondisi demikian kekuatiran tak beroleh tempat, sebab damai dan sukacita Allah memenuhi hati kita. Selamat menjelang peringatan Natal dan Tahun Baru yang kian dekat. Juga selamat taat menanti kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang kedua kalinya. “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (ayat 7) Amin. 


Tulisan: Lusindo Tobing
Foto: doc. keluarga LT.

Refleksi Minggu Pertama Desember 2015


Maleakhi 3: 1-4 


DIMURNIKAN  



Sebelum melampiaskan hasrat mencari-cari siapa yang salah dalam keluarga. Sebelum kita memuaskan nafsu untuk menunjuk-nunjuk sahabat atau tetangga akan dosa dan keberdosaan mereka. Walaupun dengan alasan lama yang sering kita pakai: “Untuk menegur mereka, sehingga mereka bisa sadar” (baca bertobat). Mari, di perjalanan Minggu-minggu Adven ini, kita lebih dulu menyapa, dan menegur ke dalam hati dan pikiran. Menghardik diri kita sendiri. Dengan mempersilakan Roh Allah menguduskan hati serta pikiran anda dan saya. Memurnikan kita.     

Sebab di sejarah Alkitab dan perjalanan umatNya, Tuhan sudah berkali-kali mengutus para nabi-Nya. Termasuk Maleakhi menegur dosa-dosa umatNya agar mereka bertobat (ayat 1). Namun, umat Tuhan berulang kali juga, sejak permulaan bangsa Israel berdiri sampai saat konteks Maleakhi 3 ini menolak. Karenamya akan ada kedatangan Tuhan menjadi kejutan besar dalam hidup mereka. Menyucikan hati, pikiran dan kehidupan umat yang bobrok oleh dosa. Tidak seorang pun akan luput dari pemurnian itu. Pemurnian akan berlangsung menyakitkan, seperti tukang pemurni emas memurnikan logam-logam seperti emas dan perak dengan panas tinggi, agar segala kotoran yang melekat akan hilang dan lebur. Atau Allah memurnikan seperti penatu menggelontorkan semua noda yang melekat pada kain dengan sabun (ayat 2-3). Sehingga Yehuda dan Yerusalem akan kembali berkenan kepada-Nya (ayat 4).     

Selamat memasuki Bulan Desember Tahun 2015, seraya terus memaknai adven Tuhan. Selain akan memperingati Natal-Nya, ingat dan sadari, Tuhan Yesus Kristus akan datang menghakimi kita dan dunia. Mari, sebelum segala sesuatunya terlambat, saya berdoa untuk kita semua dan kita saling mendoakan untuk benar-benar mempersilakan Tuhan melakukan pemurnian hati serta pikiran kita. Bertobat dalam kasih pemurnianNya. Mari berpikir yang murni, bersikap murni, berkata-kata serta bertingkah laku dengan murni dan terus dimurnikan setiap hari, Lebih lagi mulai hari ini, di Adven ini, dari hati semakin murni sampai Tuhan Yesus datang kembali. Amin.


Tulisan dan Foto: Lusindo Tobing.

24 November 2015

Refleksi Minggu Keempat November 2015


Wahyu 1: 4-8 


MENYERTAI      



Serangan teroris dalam bentuk peledakan bom dan penembakan membabi-buta terjadi di Kota Paris pada Jumat 13 November 2015. Dimulai peledakan bom di sebuah gedung konser musik, lalu di luar stadion olahraga tempat dilaksanakannya pertandingan bola Tim Jerman vs Tim Perancis. Dan seterusnya, berlangsung hampir dalam waktu bersamaan di enam titik kejadian berbeda. Mengakibatkan sekitar 150 orang meninggal dunia dan ratusan orang lainnya terluka.  

Ketakutan tampaknya berhasil ditebar dan tersebar. Setelah peristiwa itu, banyak negara-negara lain meningkatkan kewaspadaannya. Beberapa kunjungan kepala negara dan pejabat pemerintahan dibatalkan, dari dan khususnya menuju Perancis. Termasuk ketakutan yang juga mengakibatkan pembatalan kunjungan beberapa public figure: Olahrgawan, artis film, penyanyi dan selebritis lainnya. Dan ketakutan-ketakutan akan ancaman teror berikutnya di masyarakat secara umum dan meluas.     

Tetapi “We Stand with Paris, We Stand with France.” Suara dan sikap seperti ini harus tetap menjadi sikap kita melawan bahkan mengalahkan teror dan ketakutan. Tentu bukan dengan kekuatan kita sendiri. Tetapi bersama. Bersama seluruh rakyat Indonesia, bahkan bersama seluruh manusia di dunia. Dan yang paling utama: Bersama Kasih karunia dan damai sejahtera Allah (baca dan maknai ulang ayat 4). Kasih KaruniaNya yang selalu menyertai dan menyelamatkan kita, kapanpun, di manapun dan bagaimanapun juga. Amin. 


Tulisan: Lusindo Tobing.
Foto: www.lovethispic.com 

Refleksi Minggu Ketiga November 2015


Daniel 12: 1-13 


PERLINDUNGAN ALLAH     




Sampai kapan Allah akan melindungi kita? Jawabannya adalah: Sampai selama-lamanya, sampai zaman akhir (akhir zaman). Ya, sampai akhir dari semua kehidupan kita, sampai akhir semua kehidupan dunia. Bahkan sampai akhir semesta raya.     

Melalui konteks Kitab Daniel, kita belajar kembali bagaimana Allah memelihara umat-Nya untuk menerima perlindungan dan keselamatan. Siapapun yang hidupnya menunjukkan ketaatan akan bersinar seperti bintang-bintang (ayat 1-3). Ini penglihatan-penglihatan yang sebenarnya mengejutkan Daniel. Namun ia diingatkan supaya merahasiakan (ayat 4). Tidak boleh diceritakan kepada siapapun dan memeteraikan Kitab (firman) itu sampai pada akhir zaman (ayat 9). Agar terbukti kelak bahwa akan ada proses pengujian, penyucian, dan pemurnian. Dan orang-orang yang mampu melewati semua itu akan berbahagia (ayat 12).     

Rencana Allah tidak pernah gagal. Mungkin terkadang kita kecewa dan cenderung putus asa melihat bahkan mengalami kenyataan bahwa kejahatan dan penindasan semakin merajalela. Tetapi ingat dan percayalah jaminan perlindungan Allah (baca dan maknai lagi ayat 13), agar kita tetap memiliki pengharapan dan keteguhan iman. Dalam menghadapi segala penderitaan dan kesesakan sehari-hari. Marilah berjuang jadi setia dan tekun, karena sesungguhnya kita telah mengalami anugerah Allah. Dan mari senantiasa hidup dan terus menjadi saluran berkat bagi sesama manusia serta seluruh kehidupan, dalam perlindungan Allah hingga akhir zaman. Amin. 


Tulisan & Foto: Lusindo Tobing

Refleksi Minggu Kedua November 2015


1 Raja-raja 17: 8-16 


MELALUI ORANG LAIN     




Tuhan Allah kita adalah Tuhan yang selalu datang, bukan pergi. Dia Allah yang selalu menghampiri mengasihi, menuntun, menolong dan menyelamatkan kita. Langsung ataupun tidak langsung. Di perikop kali ini, Nabi Elia diperintah Allah pergi ke kota Sarfat, sebuah kota kecil di tepi Laut Mediterania antara Tirus dan Sidon. Ketika tiba di sana, dia melihat seorang janda yang sedang mempersiapkan makanan terakhir untuk diri janda itu dan putranya. Elia meminta air. mungkin ini sebagai sebuah ujian iman. Karena pada saat janda itu bersiap untuk memenuhi permintaannya, nabi Allah itu juga meminta sepotong roti kepadanya (ayat 8-11).     

Lalu perempuan itu menjawab, "Demi Tuhan, Allahmu Yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun." Jawaban ini menunjukkan dia mengenali Elia sebagai nabi Allah. Lalu Elia berkata kepadanya, "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan." Oleh ketaatannya memberi makan kepada sang nabi, janda itu menukar keadaan yang tidak pasti menjadi keadaan yang pasti, kelaparan menjadi kelimpahan, kematian menjadi kehidupan!     

Mari renungkan, refleksikan dengaan kehidupan kita kini. Janganlah takut, jangan gentar menjalani berbagai tantangan, pergumulan dan kesulitan. Ingat dan imani selalu “tepung dalam tempayan itu tidak akan habis” (baca dan maknai lagi ayat 13-14). Nubuat kepastian yang diucapkan Elia jadikan patokan. Membawa Kasih dari Tuhan Allah, nyata melalui perempuan (janda Sarfat) itu kepada Nabi Elia, juga sebaliknya, melalalui Nabi Elia kepada janda di kota Sarfat. Pemeliharaan Allah melalui kasih yang diberikan orang lain bagi kita. Amin. 


Tulisan & Foto: Lusindo Tobing.

31 Oktober 2015

Refleksi Minggu Pertama November 2015


Mazmur 119: 1-8 


TERWUJUD         




Sesungguhnya Taurat tidaklah identik dengan hukum, apalagi hukuman. Perikop Mazmur 119 ingin menegaskan hal itu, bahwa Allah memberikan Taurat agar semua umatNya (Israel di konteks ini) tertib, patuh bahkan terkesan takut kepada hukum dan hukuman dari Allah. Tetapi tujuanNya adalah lebih dari itu semua, yakni: Supaya segenap keluarga “biji mata” (kesayangan) Allah yang semakin hari mau makin percaya, akan menjalani dan menikmati perjalanan hidup kehidupan yang melimpah berkat dan rahmatNya.     

Jadi Taurat adalah salah satu wujud nyata dari Kasih Allah kepada umat yang mau beriman percaya. Melakukan semua firmanNya dan taat terhadap ketetapan-ketetapan Allah. Dengan menyebut Taurat sebagai peringatan (ayat 2), titah (ayat 4), dan lain-lain, pemazmur mengajak umat Allah menghayati Taurat sebagai pemberian Allah agar umat hidup berbahagia (1-3). 

Taurat membahagiakan karena membukakan kekudusan Allah bagi mereka. Menjadi terang Ilahi yang membuat orang dapat menghadapi hal-hal gelap yang merusak kehidupan. Karena Taurat Tuhan (baca: Firman Tuhan) berisi kekuatan Kasih Allah.     

Mari semakin matang dan dewasa dalam iman. Dengan menghargai dan khususnya melakukan firman Tuhan sebagai anugerah yang membebaskan (baca lagi ayat 6-8). Perlu diingat, hal ini tidaklah ditentukan usia seseorang, tetapi oleh cinta kasih kita kepada Allah. Yang telah dan selalu mengasihi kita. 

Mari berjuanglah sampai pada tahap menjalankan apa yang kita tahu dan mengerti. Serta membagikan KasihNya yang kita terima dan alami, menuangkannya dalam perbuatan mengasihi dan melayani sesama manusia di kehidupan sehari-hari. Amin. 


Tulisan & Foto: Lusindo Tobing.

20 Oktober 2015

Refleksi Minggu Keempat Oktober 2015


Markus 10: 46-52 



 KELUARGA PENOLONG




“Ada seorang buta, duduk minta-minta, ..” cuplikan lagu Sekolah Minggu ini bila diteruskan keterangan agak lengkap dari perikop Firman kali ini, adalah: Seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, miskin, sendiri, benar-benar hidup dari pertolongan dan belas kasihan orang lain. Dalam semua Injil Sinoptik, hanya Markus yang menyebutkan namanya. Dan Bartimeus bukanlah orang malas, ia berkemauan keras untuk terbebas dari penderitaan. Teriakannya "Anak Daud, kasihanilah aku," itulah yang menggerakkan hati Tuhan Yesus.   

Seperti bila kita lanjutan lagu tadi yang berbunyi,”.. Pada suatu hari, Yesus melalui, orang buta itu celik matanya..,” ketika melintasi kota Yerikho (ayat 46), Dia menolongnya. Cemoohan dan hardikan orang banyak bukan penghalang. Dari Bartimeus kita belajar tentang iman kepada kuasa pertolonganNya. Mari refleksikan, Tuhan Yesus mengawali dengan bertanya kepada kita (seperti kepada Bartimeus di ayat 51). Lalu kita (seperti juga Bartimeus) menjawab dengan permohonan yang tulus, “... supaya aku dapat melihat!” Dan dengan iman kita serta keluarga kita pasti ditolongNya.   

Selamat menjalani kehidupan dengan pertolongan Tuhan yang tiada berakhir. Keluarga kita sudah dan akan selalu ditolongNya!(bandingkan dengan ayat 52). Juga, sekali lagi, seperti akhir lagu Sekolah Minggu sebelumnya, “Celik matanya, celik matanya,..” Mari menjadi keluarga dan anggota keluarga yang celik (terbuka) mata hati, pikiran serta perbuatan pelayanan, berfokus menjadi penolong bagi keluarga lain. Ditolong untuk menolong. Amin. 


Tulisan & Foto: Lusindo Tobing.

Refleksi Minggu Ketiga Oktober 2015


Mazmur 91: 9-15 
 

KELUARGA PERJALANAN IMAN 




Allah menugaskan para malaikat mengawasi dengan teliti kepentingan keluarga orang percaya. Pemeliharaan yang diberikan para malaikat kepada orang-orang yang dikasihi Allah adalah: “Mereka akan menatang engkau di atas tangannya,” menunjukkan kemampuan maupun kasih sayang yang besar. Mereka mampu menatang orang-orang yang dikasihi Allah hingga tidak terjangkau oleh bahaya, dan mereka melakukannya dengan penuh kasih.  

Menurut pemazmur, kita pasti memperoleh perlindungan tersebut dari Allah. Jaminan ini berangkat dari iman percaya. Keyakinan yang hanya bisa muncul jika ada kedekatan dan pengenalan akan Allah. Yang telah mengeluarkan Israel dari tanah perbudakan Mesir. Kemudian datang di dalam Kristus, sebagai Juruselamat. Dan sampai hari ini, dengan para malaikatNya terus menjaga semua keluarga dan tiap anggota keluarga kita, rohani dan jasmani sampai selamanya-lamanya.     

Karenanya mari, menjadi keluarga yang berfokus pada perjalanan iman. Mari terus “bermazmur” menyanyikan dengan suara dan khususnya dengan perbuatan nyata sehari-hari, seperti lagu KJ. 370: 2, “ 'Ku mau berjalan dengan Jurus'lamatku di lembah gelap, di badai yang menderu. Aku takkan takut di bahaya apa pun, bila 'ku dibimbing tangan Tuhanku. (Reff) Ikut, ikut, ikut Tuhan Yesus; 'ku tetap mendengar dan mengikutNya. Ikut, ikut, ikut Tuhan Yesus; ya, ke mana juga 'ku mengikutNya!” Amin.     


Tulisan: Lusindo Tobing.
Foto: doc. keluarga.     

09 Oktober 2015

Refleksi Minggu Kedua Oktober 2015


Amos 5: 14-15 


KELUARGA KEBAIKAN  
    



Jikalau umat Allah sungguh-sungguh membenci kejahatan dan mencintai kebaikan, Allah akan mengasihani kaum sisa itu -“sisa-sisa keturunan” bangsa Israel di konteks ini (ayat 15)- dan juga kita sekarang ini. Yang rindu selamat dari hukuman karena dosa. Dengan mengabdikan hati dan diri kepadaNya: Mencinta semua standar kebenaran Allah dan mengasihi semua cipta karya kebaikan Allah.     

Itulah mengapa Amos menyampaikan kesedihan Tuhan karena dosa-dosa Israel sebelumnya. Dua ayat yang masuk kategori nyanyian ini, mengimbau umat dan siapapun yang mengaku angggota keluarga karena kebaikanNya, benar-benar mau berbalik kepada Allah. Hidup berfokus kepada kebaikan-kebaikan Tuhan Allah. Sehingga dari "sisa-sisa keturunan" itu akan lebih banyak anggota keluarga yang membagikan kebaikan. “Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup; dengan demikian TUHAN, Allah semesta alam, akan menyertai kamu, seperti yang kamu katakan. Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang; ..”     

Mari kita sekarang, setiap keluarga berkomitmen. Bahkan komitmen tiap anggota keluarga untuk (lebih) membenci dan membuang berbagai kejahatan dari dalam hati, pikiran, perkataan juga perbuatan kita. Dan berjuang di tengah maraknya ketidakbaikan dunia, tiap hari dan tiap waktu menjadi keluarga yang semakin mencintai kebaikan. Mensyukuri semua kebaikanNya, dengan hidup membagikan kebaikanNya kepada sesamanya manusia. Kebaikan karena kebaikan dengan menjadi keluarga kebaikan. Amin. 
  

Tulisan & Foto: Lusindo Tobing.

29 September 2015

Refleksi Minggu Pertama Oktober 2015


Markus 10: 1-12 



KELUARGA KEUTUHAN





Belakangan kembali ramai berita tentang perceraian. Apalagi menyangkut seorang artis wanita Indonesia, dengan pria yang selama ini sangat terkenal sebagai (artis) penyanyi rohani Kristen di Indonesia. Lewat media sosial, mereka berdua menyampaikan sudah bercerai dengan pasangan (sebelumnya) masing-masing. Kini kedua artis tersebut siap untuk menikah. Berita ini langsung menuai banyak dan beragam reaksi. Tetapi bagaimana sesungguhnya ajaran mendasar tentang perceraian? Kita memang mungkin perlu diingatkan lagi, apa yang Tuhan Allah katakan tentang perceraian. 
  
Seperti dalam perikop kali ini. Jelas ditegaskan perceraian adalah hal yang sangat dilarang Allah. “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (ayat 9). Karena Allah-lah yang membentuk pernikahan, kesatuan antara seorang pria dan seorang wanita. Pernikahan ini menghasilkan hubungan yang unik, yaitu hubungan "satu daging". Lebih erat daripada hubungan orangtua-anak (band. Kej 2: 24). Pernikahan bukan sebuah kontrak sementara waktu dan bukan keutuhan yang dapat dibubarkan begitu saja. Adalah salah, bila manusia memisahkan suatu keutuhan. Dalam pandangan Allah, tidak ada perceraian.   

Mari jangan pernah melihat perceraian sebagai suatu (apalagi satu-satunya) solusi, meski situasinya sangat buruk. Dan mari, kita bersama-sama dalam kehidupan tiap keluarga dan berkeluarga kita, tidak “tegar hati”/”keras hati” (baca dan renungkan kembali ayat 5). Mari kembali pada Dia yang mempersatukan, menolong terjadinya pemulihan, hingga kembali kepada keutuhan. Mari menjadi keluarga yang fokus kepada keutuhan. Keutuhan yang hanya ada dalam Cinta Kasih Allah. Hidup berjuang saling sayang, mengasihi, saling mengampuni, melayani dan meng-utuhkan dalam keluarga kita, sebagai Gereja kecil sehari-hari. Amin.


Tulisan: Lusindo Tobing
Foto: dok. keluarga.

22 September 2015

Refleksi Minggu Keempat September 2015


Mazmur 19: 8-15 


HIKMAT YANG BERTUMBUH  
   



Terik panasnya sinar matahari yang menjamah muka bumi (khususnya hampir sebagian Indonesia) saat ini menjadi bukti: Tak terbantahkannya keberadaan Tuhan Allah. Begitu pula hujan yang (telah dan akan) diberikanNya. Dan setiap bagian musim yang ada di negara dan bumi belahan manapun juga.     

Mari “menyanyikan” mazmur ini, dari pikiran serta hati kita yang tergugah keagungan Hikmat dan Kasih Allah. Semakin ditarik mendekat kepadaNya. Setia beribadah hanya kepada Tuhan Allah. Seraya kita disadarkan betapa jahatnya dosa-dosa dan bodohnya kita karenanya. Sehingga perlu di tiap ibadah kita (Ibadah Minggu dan di tiap ibadah dalam aktivitas kita sehari-hari) memohon dan kita boleh lebih menerima Hikmat.     

Bertumbuh dan terus bertumbuhlah melalui ibadah, hati-pikiran bertumbuh dengan dan dalam keindahan Hikmat Allah. Renungkan bagaimana pemazmur dengan indah memaparkan tujuh (menunjukkan angka sempurna) karakter Taurat-TitahNya-Ibadah yang takut hanya kepada Allah: 1.Sempurna; 2.Teguh; 3.Tepat; 4.Murni; 5.Suci; 6.Benar; dan 7.Adil (mohon baca lagi dengan tenang ayat 8-9). Sehingga kita semakin menuju “lebih indah daripada emas dan lebih manis daripada madu (ayat 11). Terhindar banyak hal negatif termasuk kesesatan, pelanggaran, dan tipuan orang jahat (ayat 12-14). 

Dan semakin berbagi, bersaksi yang berhikmat. Hikmat tidak boleh dipendam. Bersaksi yang berhikmat melalui ucapan mulut (ayat 15), serta khususnya tingkah laku kita kepada sesama manusia serta seluruh kehidupan. Hikmat yang setia dilakukan dengan tepat. Hikmat yang terus membagikan berkat. Hikmat yang tiada tamat. Amin. 



Tulisan: Lusindo Tobing.
Foto: Doc. Komisi Wanita GKJ Nehemia.

Refleksi Minggu Ketiga September 2015

Markus 9: 33-37 



KERENDAHAN HATI 




Ketika Tuhan Yesus Kristus mengambil seorang anak kecil, menempatkannya di tengah-tengah para murid (ayat 35-36), kemudian Ia memeluk anak itu dan mulai mengajarkan cara bagaimana para murid (dan kita juga sebagai jemaatNya di masa kini) menyambutNya dalam kerendahan hati.     

Ini terjadi ketika Ia kembali ke Kapernaum, lalu menuju ke rumah Petrus, yang merupakan markas kegiatanNya dan para murid di Galilea. Dengan pertanyaannya yang kata kerja “bertanya”, kemungkinan ini menunjukkan Tuhan Yesus terus menanyai para murid, mengenai pembicaraan mereka waktu di jalan sebelumnya. Namun bukannya menjawab pertanyaan Guru (Rabbuni), “mereka diam” (baca ayat 33-34). Menunjukkan kemungkinan para murid malu mengungkapkan pembahasan tidak layak itu. Karena saat dan baru saja menjelaskan tentang kematian-Nya yang sudah dekat, pikiran mereka rupanya malah dipenuhi hasrat tentang kesombongan pribadi dan di pertanyaan siapa yang terbesar di antara mereka?     

Tuhan menghardik para murid. Dan sesungguhnya Tuhan juga sedang menghardik kita sekarang! (baca dan renungkan kembali ayat 37). Mari menyambutNya dengan kerendahan hati. Tindakan rendah hati dalam Kasih Kristus, merupakan tindakan sangat mulia. Kerelaan untuk mengambil kedudukan yang rendah sebagai hambaNya, bahkan mengasihi-melayani anak kecil (bahkan perluasan permaknaannya berwujud: Melayani yang “kecil”, miskin, lapar-haus dan korban berbagai kejahatan serta bencana) merupakan tanda kebesaran sejati. Karena dengan melakukan hal itu, kita berarti sedang melayani Allah Bapa di dalam Kristus. Amin. 



Tulisan: Lusindo Tobing
Foto: Doc. Komisi Wanita GKJ Nehemia.

08 September 2015

Refleksi Minggu Kedua September 2015.


 Yesaya 50: 4-9a 


MELALUI IBADAH 




Bagian pasal ini sesungguhnya ditulis selama tahun-tahun akhir hidup Yesaya. Allah menyatakan nubuat-nubuat memberikan pengharapan dan penghiburan kepada umat-Nya selama tertawan di Babel 150 tahun. Penuh dengan penyataan nubuat mengenai Mesias yang akan datang dan kerajaan-Nya di bumi kelak. 

Mesias yang akan menghibur orang lemah dan penuh kesusahan itu, dikatakan akan memiliki kebiasaan bersekutu "setiap pagi" dengan Bapa-Nya. Melalui bentuk kontras, Tuhan Yesus Kristus, dinyatakan sebagai Israel sejati, seorang hamba yang taat secara sempurna. Setiap pagi, menandai persekutuan dengan sang Bapa pada pagi-pagi buta. Yang membuatNya memiliki lidah seorang murid. Artinya Mesias akan berbicara karena telah menerima pesan Allah untuk menghibur orang-orang letih lesu karena dosa. 

Mari teladani Tuhan Yesus Kristus, melalui ibadah tiap hari (“tiap pagi”), Iman kita ditopang dan ditumbuhkan. Mari memelihara hubungan akrab dengan Bapa di sorga. Di tiap Ibadah Minggu kita, juga di tiap hari. Ibadah kita setiap hari. Mengutamakan Allah, mendengarkan Firman tiap hari. Proses pembentukan itu berat, tetapi melaluinya kita akan jadi tegar (maknai lagi ayat 6,7-9).

Sehingga kata-kata, juga sikap dan perbuatan kita bukanlah kita sendiri, tetapi dariNya. Bahkan bisa dipakaiNya menjadi saluran berkat kepada semua orang, khususnya yang letih dan lesu, ahli membagi kekuatan-penghiburan dan semangat baru. Amin. 


Tulisan & Foto: Lusindo Tobing.

01 September 2015

Refleksi Minggu Pertama September 2015


 Yakobus 2: 1-13 

 
TIDAK DISKRIMINATIF  
 



“Bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?” (ayat 4). Salah satu ungakapan Yakobus ini sebenarnya mengangkat fakta konteks saat itu (dan kemungkinan besar sampai sampai kini). Firman Tuhan melalui penulis Yakobus mengajar dan mengingatkan agar jemaat (juga kita sekarang) tidak pilih kasih dalam hidup berjemaat dan bermasyarakat. 

Kesetaraan harus terpancar baik dalam ibadah maupun dalam pelayanan sosial. Firman Tuhan mengajar kita untuk konsisten menjadikan iman sebagai norma pergaulan di kehidupan masyarakat yang beragam. Kasih menjadi dasar ibadah yang tidak diskriminatif. Tidak boleh pilih kasih atau hanya hidup untuk sendiri. Iman harus berdampak luas, hingga Kasih Kristus dapat dirasakan semua manusia. 

Mari taatilah hukum kasih dalam seluruh sikap dan perbuatan kita, jangan taat kepada harta. Kuasai dengan mengelola harta yang dari Tuhan, bukan sebaliknya, harta menguasai kita. Agar kita tidak jatuh membeda-bedakan siapapun, apalagi berdasarkan kekayaannya. 

Tetapi menjadi ahli bersyukur bersama orang-orang dan kehidupan sekeliling kita dalam segala hal. Dan makin ahli memuliakan Tuhan -Sang Sumber berkat-. Berwujud nyata aktif ber-“ibadah tiap hari” membangun relasi kasih dengan semua manusia juga seluruh kehidupan. Tanpa diskriminasi. Kasih yang tidak “pilih kasih”. Amin. 


Tulisan & Foto: Lusindo Tobing.

Refleksi Minggu Kelima Agustus 2015


Ulangan 4: 6-9 



BIJAK & BERAKAL BUDI 





Apakah Indonesia adalah negara dan bangsa yang besar? Jawabannya sudah pasti: Ya. Tetapi, apakah Indonesia adalah negara dan bangsa yang bijaksana dan berakal budi? Jawabannya?? Mungkin untuk menjawab pertanyaan terakhir kita bersyukur kali ini disapa, diingatkan sekaligus ditegur lagi firmanNya. Konteks Ulangan 4 ayatnya yang keenam, “... Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi.”   

Setelah Musa mengingatkan bangsa Israel tentang sejarah mereka, mulai pasal ini ia menasihatkan mereka untuk menaati hukum-hukum Allah agar mereka hidup. Allah mencintai bangsa Israel dengan pemeliharaan-Nya yang begitu indah. Ia juga memberikan hukum pengajaran-Nya yang unik, yang tidak dimiliki bangsa-bangsa lain (ayat 8). Dengan hukum-hukum ini, bangsa Israel akan menjadi bangsa yang besar (secara spiritual, bukan kuantitas). Ketika mereka dengan bijak dan berakal budi menaati hukum-hukum tersebut, Allah akan menjadi dekat dan menolong mereka (dan kini juga untuk kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia) -- ini merupakan suatu keajaiban bagi bangsa-bangsa lain (ayat 7).   

Mari hidup selalu bijak dan berakal budi, dengan setia melakukan semua hukum-Nya dan menyampaikannya kepada generasi-generasi berikutnya. Itulah sebabnya dua loh untuk sepuluh perintah Allah dibuat. 

Itulah sebabnya juga, mari dengan bijak dan berakal budi kita saling mengasihi dan melayani satu dengan lainnya. Sebagai keluarga, jemaat, maupun sebagai warga negara NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) bahkan sebagai warga Kerajaan Allah di dunia. Ayat 9 mengingatkan, “Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu.” Amin.  


Tulisan & Foto: Lusindo Tobing.

Refleksi Minggu Keempat Agustus 2015


Efesus 6: 10-20   



SENJATA ROHANI   




 
Dengan kekuatan sendiri, kita sesungguhnya tidak mampu melawan apalagi mengalahkan “Pemerintah, penguasa dan roh jahat di udara (ayat 12). Oleh karenanya, Sabda Tuhan melalui Rasul Paulus mengingatkan bahwa minimal ada dua sikap ekstrim yang harus dilakukan. Pertama, jangan terlalu memberi perhatian berlebihan terhadap roh-roh jahat sehingga mengabaikan kuasa Kristus; Kedua, waspada dan berjuang mengabaikan kehadiran roh-roh jahat dalam dunia. 

Orang- orang percaya harus bergantung sepenuhnya pada kuasa Allah (ayat 10). Dan harus mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah (ayat 13). Kuasa Allah telah diungkapkan melalui kemenangan pengorbanan salib Kristus. Maut dan kuasa Iblis telah dikalahkan! Marilah mengenakan 6 jenis perlengkapan senjata rohani yakni: Ikat pinggang Kebenaran-keadilan (ayat 14), Kasut kerelaan Pemberitaan Injil - damai sejahtera (ayat 15), Perisai Iman (ayat 16), Ketopong Keselamatan dan Pedang Roh yaitu Firman Allah (ayat 17). 

Pembenaran adalah pulihnya relasi dengan Allah melalui Tuhan Yesus Kristus yang melindungi orang percaya. Kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera sangat dibenci iblis. Iman pada Allah berarti percaya pada janji Allah, akan melindungi kita dari serangan iblis dalam berbagai bentuk khususnya keraguan dan kebimbangan. Dan Allah telah dan akan selalu menyelamatkan kita dari semua serangan si jahat. Perlengkapan terakhir adalah firman Allah yang merupakan pedang Roh. Tuhan Yesus melawan serangan iblis dengan firman Allah (baca juga Matius 4: 1-10). 

Disempurnakan dengan doa dan melakukan semuanya. Siap sedialah selalu jemaat dan pelayan Tuhan. Kenakan selalu senjata rohani. Dan wujudkanlah dalam “peperangan” kehidupan nyata, setiap hari. Amin. 


Tulisan & Foto: Lusindo Tobing.            

12 Agustus 2015

Refleksi Minggu Ketiga Agustus 2015



Mazmur 34: 10-15


HIDUP DAMAI



Hampir bisa dipastikan jauh lebih banyak orang yang bertanya, “Siapakah yang akan menunjukkan kepada kita apa yang baik?” Daripada (sedikit sekali) yang bertanya, “Apa yang harus kami perbuat memperoleh hidup damai bahkan damai yang kekal?”

Dari perikop kita kali ini, refleksikan dan renungkanlah bahwa sesungguhnya tidak ada yang lebih bertentangan dari kasih –inti ajaran Tuhan kita- selain pertentangan dan percekcokan. Yang menimbulkan kekacauan dan akan makin jauh dari damai sejahtera. Oleh karena itulah, kita terus berupaya mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya. Menunjukkan kecenderungan perilaku pembawa damai, mempelajari hal-hal yang membawa perdamaian, Berjuang tidak melakukan hal-hal yang menghancurkan perdamaian dan tidak melakukan kejahatan.

Mari mengupayakan hidup damai, bagi dirimu sendiri, bagi keluarga kita, bagi Jakarta dan terlebih damai bagi bangsa-negara Indonesia. Berusaha hidup damai dengan semua orang, jangan tanggung-tanggung, jangan takut rugi. Bahkan hidup damai bagi semua kehidupan dunia. Bagaimana caranya? Tiap pribadi berusaha: “Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya! (ayat 15)  Berusaha hidup damai dengan semua orang, jangan tanggung-tanggung, damai.. Amin.




Tulisan & Foto: Lusindo Tobing.

07 Agustus 2015

Refelksi Minggu Kedua Agustus 2015


Efesus 4: 25 – 5: 2



RAMAH






Semua kita kemungkinan besar bergumul dan berjuang di tema renungan kali ini: Ramah. Berjuang bisa ramah, tetap ramah, apalagi semakin ramah kepada semua orang. Di konteks carut-marut kehidupan sosial masyarakat, bangsa negara dan bahkan dunia.  Yang semakin tegang dan panas, kita difirmankan untuk ramah. Sebagai umatNya, sekali lagi, untuk lebih ramah kepada orang lain.

Marilah mulai dari keluarga, berlanjut ke persekutan kebersamaan jemaat dan gereja. ” Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. (Efesus 4: 32).  Firman Tuhan melalui Rasul Paulus menginginkan jemaat Efesus berani tampil beda dalam kehidupannya. Juga kepada kita yang berusaha memberlakukan hidup ramah dengan tetangga di rumah, maupun “tetangga” / orang-orang di dekat kita, di mana pun kita berada, seperti diri kita sendiri (ingat dan maknai lagi Hukum Kasih-Nya, Matius 22: 37-40). 

Bahkan kita dimampukan Kristus Sang Sumber Kasih, untuk bisa ramah sebagai warga negara Indonesia.  Berjuang melakukan kasihNya dalam kehidupan, bukan saja sebagai suatu keharusan tetapi juga sebagai tanda atau bentuk keunikan kehidupan kita, orang Kristen. Terlebih di tengah  bangsa dan negara kita memasuki usia ke-70 tahun di bulan ini. 

Hingga keramahan dan benar-benar bisa berlaku ramah kepada seluruh dunia. Kepada  sesama manusia, suku atau bangsa dan agama apapun. Bahkan mampu dengan nyata ramah kepada air, udara, tanah, binatang, tumbuhan dan pelestarian segala ciptaanNya. Amin.



Tulisan & Foto: Lusindo Tobing.


05 Agustus 2015

Bahan PA (Pemahaman/Pendalaman Alkitab)





Bahan PA GKJ Nehemia, Agustus 2015.


Doa & Iman


Matius 9: 27-31.



1.    Berdoalah Berdasar Iman.  

Sesungguhnya iman merupakan syarat utama untuk menerima pertolongan dari Kristus. Berkat Tuhan memang bisa berlaku untuk semua orang.  Tetapi orang yang ingin menerima belas kasihan pertolongan dari Kristus harus percaya dengan yakin akan kuasa-Nya. Apa pun yang kita butuhkan Dia lakukan untuk kita, kita harus benar-benar yakin bahwa Ia dapat melakukannya.  Apakah kamu percaya? Apakah kita sungguh-sungguh beriman? Alam bisa membuat orang bersungguh-sungguh hati, tetapi hanya anugerah Allah sajalah yang bisa menghasilkan iman; berkat-berkat rohani hanya diperoleh melalui iman. 

Dua orang buta dalam perikop kita kali ini telah menunjukkan iman mereka melalui pengakuan akan kedudukan Kristus sebagai Anak Daud dan akan belas kasihan-Nya. Walaupun begitu, Kristus juga mau agar mereka menyatakan iman mereka akan kuasa-Nya.  “SetelahYesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?" Mereka menjawab: "Ya Tuhan, kami percaya.“ (ayat 28). Percayakah kita?  Bahwa Dia dapat melakukannya, dapat memberikan pertolongan, memberikan penglihatan kepada orang buta, menyembuhkan orang lumpuh, dan membangkitkan orang mati? Perhatikanlah, dalam menerapkan iman, sebaiknya kita menyebut doa secara lebih terperinci apa yang kita imani mengenai keyakinan kita akan kuasa Allah, kehendak baik-Nya, dan janji-janji-Nya yang umum pada keperluan-keperluan kita yang khusus. 

Segala sesuatu bekerja untuk mendatangkan kebaikan, dan jika dikatakan segala sesuatu, maka ini pun termasuk dalam doa-doa kita. Ini berarti mereka bukan saja harus percaya bahwa Dia Anak Daud, melainkan juga Anak Allah; karena Allah sendirilah yang mempunyai hak istimewa untuk membuka mata orang buta (Mzm. 146: 8); Ia menciptakan mata yang melihat (Kel. 4: 11). Kita harus percaya bahwa Kristus dapat melakukannya, dengan kuasa doa,  doa yang berdasar iman yang kokoh teguh.  Dalam Roh, tidak hanya kita merasa pasti akan kuasa-Nya itu, tetapi juga kita benar-benar menyerahkan dan mengikat kepada kuasaNya.  Mendorong hati, roh, akal, diri serta hidup kita teguh di dalam janji  sekaligus jawaban doa, penggenapan janji dan rancangan diberlakukanNya atas kita. Orang yang mengalami penderitaan yang sama haruslah mengucapkan doa yang sama pula untuk meminta pertolongan. Orang-orang yang sama-sama menderita haruslah memohon bersama-sama pula. Di dalam Kristus, semuanya bisa mendapat bagian. Oleh karenanya menutup point 1 (pertama), tetapi mengawali seluruh PA kali ini, mari bersama-sama kita berkata dari iman (katakan bersama-sama):   "Ya Tuhan, kami percaya.“



2.    Iman Bekerjasama Dengan Doa. 

Memasuki bagian kedua ini, mohon jawab pertanyaan ini, Apakah Tuhan Yesus berdoa? Jawabannya dan ingatlah misalnya yang tertulis di Injil Lukas 9: 18, “Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka: "Kata orang banyak, siapakah Aku ini?" Ya Dia berdoa, benar-benar dan sungguh-sungguh di tiap doaNya.  Sama persis format pemahaman dan refleksi iman atas jawaban dua orang buta di konteks bahan PA kita kali ini. Mereka langsung memberikan jawabannya, tanpa ragu-ragu, "Ya Tuhan." 

Ayat 27 menyatakan jelas upaya doa yang tiada henti, terus memohon dengan sembah kepada Tuhan. Dan semua itu menjadi indikasi paling jelas bahwa ada kerjasama kuat antara Iman dengan Doa. Perhatikan, “Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: "Kasihanilah kami, hai Anak Daud.“  Walaupun Dia membuat mereka gelisah menanti-nanti untuk beberapa waktu dan tidak segera menolong mereka, namun mereka dengan tulus melihat bahwa Dia berbuat seperti itu karena hikmat-Nya, bukan karena kelemahan-Nya, dan mereka terus beriman akan kemampuan-Nya.  Harta kekayaan belas kasihan yang tersimpan di dalam kuasa doa bekerjasama dengan orang-orang yang percaya hanya kepada-Nya.

Dan bukankah kita selalu diingatkan salah satu ayat (dari sekian banyak ayat Alkitab) yang menandaskan hal tersebut, “Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.“  (Matius 17:20).



3.    Doa Membuat Iman Menjadi Sempurna.  
 
Oleh karenanya, berdoalah dengan hati dan pikiranmu. Tetapi pertama dan khususnya berdoalah dari hati. Berdoa dari hati, menyentuh Hati & kembali ke banyak hati. Hati semua orang, khususnya kedalaman serta ketulusan hati kita. Hati yang berisi penuh iman akan kuasa dan kasih sayang Allah dalam Tuhan Yesus Kristus. Penyembuhan akhirnya dilakukan Kristus terhadap mereka; Ia menjamah mata mereka (ayat 29):  “Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: "Jadilah kepadamu menurut imanmu."

Ini dilakukan-Nya untuk menguatkan iman kedua orang buta itu, yang telah diuji-Nya dengan menunda-nunda waktu. Jadi ingatlah selalu, mungkin jawaban atas doa kita dari Tuhan seperti lambat (atau mungkin lambat sekali) bagi kita, tetapi percayalah Tuhan dan jawabanNya tidak pernah terlambat!  Akhirnya menunjukkan bahwa Ia memberikan penglihatan kepada jiwa-jiwa yang buta dengan mengerjakan anugerah-Nya yang menyertai perkataan-Nya, dengan melumas mata. Ia melakukan kesembuhan itu berdasarkan iman mereka, jadilah kepadamu menurut imanmu. Ketika mereka memohon untuk disembuhkan, Ia menanyakan iman mereka, "Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?" (ingat lagi ayat 28). 

Di konteks lain, penulis Yakobus sangat jelas menyatakan, “Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama  dengan perbuatan-perbuatan  dan oleh perbuatan-perbuatan  itu iman menjadi sempurna.”  (Yakobus 2: 22).  Dan lihatlah kembali di konteks pembacaan PA kali ini, Tuhan Yesus tidak menanyakan kekayaan mereka, apakah mereka mampu membayar-Nya untuk menyembuhkan mereka, juga tidak bertanya tentang nama baik mereka, supaya Ia mungkin bisa mendapat pujian dengan menyembuhkan mereka; sebaliknya, Ia menanyakan iman mereka. Dan sekarang setelah mereka menyatakan iman mereka, seperti yang dipertanyakan-Nya.  Dialog Tuhan Yesus dengan kedua orang buta akhirnya menampilkan penyempurnaan iman percaya. Benar-benar semakin percaya beriman, dan lihat, kuasa yang mereka (dan kita juga percaya-imani) pasti dilaksanakan bagimu. Jadilah kepadamu menurut imanmu!



4.    Doa Yang Dari Iman, Menyelamatkan! 
  
“Maka meleklah mata mereka. ...” (penggalan ayat terakhir, ayat 30).  Ia tahu akan ketulusan iman mereka, dan Ia menerima dan mengabulkan permintaan dari iman mereka itu. Perhatikanlah, orang yang sungguh-sungguh percaya boleh merasa tenang bahwa Yesus Kristus mengetahui iman mereka, dan Ia senang dengan iman mereka itu. Sekalipun iman itu lemah, sekalipun orang lain tidak memahaminya, dan sekalipun mereka sendiri bisa mempertanyakannya, iman itu diketahui-Nya.

Tuhan Yesus Kristus menekankan bahwa iman kedua orang buta itu penting. Doa yang berasal dari iman, pasti menerima pertolonganNya. Pasti menyelamatkan! Perhatikanlah, orang yang datang kepada Yesus Kristus akan diperlakukan menurut iman mereka; bukan menurut angan-angan mereka atau menurut pekerjaan mereka, melainkan menurut iman mereka. Ini artinya, orang-orang yang tidak percaya tidak bisa berharap akan mendapat pertolongan dari Allah, tetapi orang yang sungguh-sungguh percaya bisa yakin akan mendapat segala Keselamatan yang ditawarkan di dalam Injil.

Di semua mujizat yang berlaku (khususnya dalam konteks Perjanjian Baru) pastilah bersumber dari Pribadi Yesus, Tuhan danh Juruselamat  yang berkuasa. Perhatikan setiap proses mujizat yang terjadi.  Saat Dia memegang tangan anak kepala rumah ibadat yang mati, lalu bangkitlah ia. Perempuan yang sakit pendarahan itu sembuh bukan karena jubah yang dikenakanNya, namun karena perempuan itu beriman kepada Pribadi Yesus. Orang buta disembuhkan karena jamahan kuasa Tuhan Yesus. Demikian pula orang bisu dapat berbicara karena kuasa setan dipatahkan oleh kuasa-Nya. Kuasa-Nya tidak dapat dipisahkan iman yang datang memohon kepadaNya.  Mari jangan hanya takjub dan mencari mujizatNya. Namun mari tunduk kepada Pribadi Tuhan Yesus Kristus yang, berdoa dengan iman menyembah kepada  Sumber segala keselamatan kekal. Sebab banyak Kristen yang hanya tergiur mengalami Kuasa-Nya, tanpa mau datang dan tunduk beriman tiap hari kepadaNya.  Dalam tingkah laku nyata. Terlebih mulai dari doa-doa yang dipanjatkan.



5.    Tekunlah Berdoa Dengan Iman.

Dan walaupun jawaban atas doa kita, jawabanNya adalah “tidak”.  Itu sudah jawaban, jawaban yang terbaik. Karena dari Allah atas doa-doa kita yang beriman. Tetap dan semakinlah beriman. Walau belum dapat, tetaplah taat. Taat dan tekunlah berdoa dengan iman percaya hanya kepadaNya. Ora et Labora (berdoa dan bekerja/berusaha). Bahkan akhirnya juga mampu mempengaruhi orang di sekitarnya untuk juga berdoa & berusaha/bekerja.  Dulu ada orang-orang di Israel (di konteks Perjanjian Lama) yang terkenal bisa mengadakan mujizat, tetapi Kristus melebihi semuanya. Mujizat-mujizat yang diadakan Musa ditujukan kepada Israel sebagai suku bangsa, tetapi mujizat-mujizat Kristus ditujukan kepada orang per orang dan bisa untuk semua orang. Mari dengan tekun berdoa. Tekun karena iman. Tidak pernah terlepas: Doa&Iman.  

Perhatikanlah, pintu Kristus selalu terbuka bagi siapa saja yang memohon dalam doa dengan yakin dan tidak jemu-jemu. Tekun karena iman akan membawa kita ke pintu kemenangan. "Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.“ (1 Yohanes 5: 4).  Lalu bagaimana dengan “GeraDo 3 menit” kita? Apakah sudah menjadi Gerakan Doa Tiga Menit kita semua?  Tidak harus pasti/tepat di jam 12 siang dilakukan. Tetapi minimal 3 menit marilah berdoa dengan mendoakan. Mendoakan keluarga kita, pekerjaan dan pelayanan, dan mendoakan gereja di mana kita bersekutu dan bertumbuh dalam iman, Gereja Kristen Jawa Nehemi.  Kalau bisa terus bertambah kwantitas maupun kwalitasnya. Kwantitas waktu dan pihak-pihak yang kita doakan. Namun juga kwalitas doa karena berasal dari ketulusan dan kesungguhan kita berkomunikasi, menyembah, bersyukur dan khususnya berangkat dari iman percaya yang semakin kuat kepadaNya.

Ditambah dengan kehausan kita bersama untuk membaca Alkitab (Firman Tuhan), menggumuli dan mendalaminya. -Contohnya Komisi PA juga akan mengajak kita membaca dan mendalami Kitab Nehemia. Dan kitab-kitab yang lain seterusnya-  Sehingga mungkin bisa ada berlaku GeraDo 3+3 menit = 6 menit. Atau Gerado 13 menit, bahkan 30 menit? Dan seterusnya. Namun yang pasti adalah kesungguhan dan keyakinan kita memanjatkannya, melakukannya kepada Tuhan dan diperjuangkan untuk kita lakukan nyata. Mengasihi Tuhan Allah dengan wujud mengasihi keluarga, rekan jemaat dan melayani semua umat manusia lebih indah lagi.





Diskusi dan Sharing:

1.       Pilihlah salah satu point (nomor) atau satu hal, dari kelima hal/nomor di atas. Mohon didiskusikan dan dalami dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil (minimal 5 orang). Dan mohon, upayakan tidak ada kelompok memilih hal/point yang sama.  

2.       Temukanlah “hal-hal baru yang membangun iman” untuk doa juga tingkah laku kita, dari diskusi mendalam  tiap kelompok kecil.

3.       Kembalilah ke pleno (kelompok besar sebelumnya). Mohon tiap perwakilan dari tiap kelompok kecil: Menjelaskan dengan singkat apa yang mereka temukan di tugas no 2. Dan tiap perwakilan menutup dengan mengajak berdoa singkat, khususnya mendoakan semua jemaat dan orang/pihak lain sesuai penjelasannya tadi. 
Dan jika memungkinkan, akhiri  seluruh rangkaian PA ini dengan bersama berdoa “Doa Bapa Kami.”



Pdt. Lusindo Tobing