05 November 2014

Sikap Berdoa





SIKAP BERDOA
Matius 6: 5-15





“Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,” (ayat 9). Orang Kristen yang tidak berdoa itu sama saja seperti manusia hidup yang tidak bernapas. Sebab itu hendaklah setiap orang percaya berdoa. Tanpa doa, tidak ada anugerah. Dibandingkan memberi sedekah, dalam doa kita lebih langsung berhubungan dengan Allah. Oleh sebab itu kita seharusnya bersikap lebih tulus lagi dalam berdoa, dan inilah yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus dalam perikop kali ini.

"Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik, atau melakukan seperti yang mereka lakukan" (ayat 5). Perhatikanlah, orang yang tidak mau meniru orang munafik dalam cara dan tindakan mereka, juga tidak boleh seperti orang munafik dalam pikiran dan tabiat mereka. Kristus memang tidak menyebut langsung nama siapa-siapa, tetapi dalam Matius 23: 13, juga di beberapa kesempatan lainnya, tampaklah bahwa yang dimaksudkan-Nya dengan orang munafik terutama adalah para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. 

Ada dua kesalahan besar yang mereka lakukan ketika berdoa, dan kita diperingatkan berhati-hati untuk tidak melakukannya. Yaitu: 1. Keinginan akan kemuliaan yang sia-sia belaka (ayat 5-6) dan 2. Mengulang-ulang apa yang kita doakan secara sia-sia (ayat 7-8)
Tuhan Yesus bukan hanya mengoreksi motivasi dan isi doa yang salah. Ia kini mengajar mereka bagaimana mereka seharusnya sikap berdoa. 

Berdoa itu berbicara langsung dengan Allah secara hangat, sederhana, dan apa adanya. Dengan hangat kita memanggil Allah, Bapa Surgawi kita sebab Tuhan Yesus, Putra-Nya yang Tunggal telah lebih dulu memanggil kita untuk mengikut Dia dan belajar dari Dia. Doa itu sederhana, tidak rumit dan bertele-tele sebab bukan pertunjukan rohani, tetapi merupakan perjumpaan hati dengan hati. Doa dalam hubungan riil memungkinkan orang membuka hidupnya apa adanya di hadapan Allah.

Doa yang baik adalah menyembah Allah, serta mendahulukan kepentingan Allah lalu menempatkan kepentingan kita di dalam wilayah kepentingan Allah. Inilah sikap doa yang Tuhan Yesus ajarkan. Tiga pokok penting menyangkut Allah (ayat 9-10) merangkul tiga pokok penting kebutuhan nyata kita (ayat 11-13). Doa yang dimulai dengan sapaan iman kepada Allah Bapa Surgawi, ditutup dengan pernyataan iman tentang kedaulatan Allah (ayat 13b). 

Tiga hal yang perlu kita utamakan dalam doa dan hidup kita adalah Nama, Kerajaan, dan Kehendak Allah. Kita berdoa agar diri Allah dijunjung tinggi, pemerintahan-Nya terwujud, dan kehendak-Nya yang baik itu terjelma dalam dunia nyata melalui kita. Allah juga memperhatikan kebutuhan jasmani dan rohani kita. Karena itu, kita tidak perlu ragu memohon agar Allah memenuhi kebutuhan hidup kita. Apalagi memohon kebutuhan rohani kita akan pengampunan dan kemenangan dari berbagai pencobaan.

Dan Doa Bapa Kami bukan sekadar hafalan. Tuhan Yesus mengajarkan doa ini agar nafas, semangat dan prinsip di dalamnya ditaati. Semua orang yang berdoa harus sungguh menyadari siapa dirinya dan siapa Tuhan. Sebagai ciptaan berdosa, kita menggantungkan diri kepada sifat-sifat agung Allah. Sebagai orang yang telah diampuni dan diperdamaikan Kristus, kita mempercayakan diri penuh kepada-Nya. Di dalam tekad meninggikan Allah dan menyaksikan Kerajaan-Nya terwujud di bumi, seharusnya seluruh kebutuhan rohani dan jasmani kita kita pertaruhkan kepada Tuhan Allah.

Doa Bapa Kami sesungguhnya memadukan: Pertama menyembah dengan sikap tidak egois. Allah bukan milik dirinya sendiri, tetapi Allah dari semua orang beriman. Yang jadi bukanlah pemerintahan manusia, sebab Allah berdaulat penuh di surga dan di bumi. Kedua, sikap arah hidup ke masa depan. Ketiga, kebutuhan manusia, seperti pengampunan dosa, bimbingan agar dijauhkan dari semua pencobaan yang menjatuhkan pada kejahatan, dan diwujudnyatakan dalam sikap hidup sehari-hari. Setiap orang beriman yang berdoa menempatkan diri dalam arus tak terbendungkan dari pewujudan kehendak penyelamatan dan Kerajaan Kasih Allah ini.

Oleh karenanya kita perlu berdoa menurut doa yang Tuhan Yesus ajarkan ini dengan segenap hati dan menjadikan kebenaran di dalamnya model bagi semua doa-doa kita. Sikap hubungan kita dengan Allah tidak dapat dilepaskan dari sikap hubungan kita dengan sesame. Jadi maknai ini sekali lagi: Sikap penerimaan Allah akan doa kita pun terkait dengan sikap penerimaan kita akan sesama kita. 

Teruslah refleksikan dalam sikap hidup bahkan hingga akhir hidup, sama seperti hingga di bagian akhir Doa Bapa Kami, “.. dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.”




tulisan & foto: Lusindo Tobing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar