29 Maret 2016

Refleksi Minggu Pertama April 2016


Markus 16: 1-8 


Selamat Paskah: Lebih Baik 




Keterangan waktu “pagi-pagi benar” (baca ayat 2) keberangkatan rombongan Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus serta Salome menuju kubur Yesus, merefleksikan keinginan dan kebiasaan yang baik. Untuk satu tujuan yang sangat baik: meminyaki jenazah Yesus, Guru dan Tuhan (ayat 1). Bisa ada banyak penafsiran mengapa pagi-pagi benar mereka berangkat, namun satu yang pasti bahwa keinginan dan kebiasaan yang baik tersebut berhubungan erat dengan sifat yang baik. 

“Kebiasaan melahirkan karakter,” kata teori yang sudah umum kita tahu. Atau ajaran orang tua kita supaya kita jangan bangun siang-siang, nanti “berkatnya dipatuk ayam.” Termasuk sudah menjadi kebiasaan dalam era persaingan sekarang, harus rajin, siap berkompetisi. Salah satunya dengan kebiasaan bangun pagi-pagi. Mulai beraktifitas dan bahkan jangan lupa berdoa, pagi-pagi. Bahkan pagi-pagi benar. Yang semua itu sesungguhnya berangkat dan akan meluhurkan sifat-sifat yang baik dari seorang manusia.

 Mari membangkitkan sifat yang baik. Bahkan sebelum para perempuan yang melawat ke ke kuburNya di konteks perikop, juga khususnya kita setelah melewati Jumat Agung dan menikmati secara iman, pengharapan dan kasih kasih pengorbanan Tuhan dalam Sakramen Perjamuan Kudus lalu. Dan kini menjemput penghayatan ulang dan mensyukuri dengan sorak-sorai dari hati kita masing-masing untuk kemenangannya atas belenggu kematian, menang atau kuasa maut yang gelap kelam, kebangkitan-Paskah Tuhan Yesus Kristus! 

Kebangkitan-Nya membangkitkan sifat yang baik dalam hati, pikiran dan diri kita. Bukan sekadar dalam rangka menggenapi nubuatan serta janji sejak konteks Perjanjian Lama (oleh Nabi Yesaya misalnya). Hingga di konteks Perjanjian Baru, Yesus sendiri mengajarkan dan berjanji bahwa “di hari yang ketiga aku akan bangkit.” Juga bukan sekadar karena memastikan ulang rancangan Allah dalam proses penyelamatan dunia, termasuk untuk keselamatan kita, keluarga kita dan semua umat manusia. Tetapi semuanya karena cinta. 

Cinta Kasih-Nya, hingga di ayat 3-4, batu besar (maknai-refleksikan sebagai berbagai “batu besar” pergumulan dan tantangan hidup kita) kubur bisa dan sudah terguling saat rombongan ibu (perempuan) itu tiba di kubur. Juga Cinta Kasih Sayang-Nya kepada semua manusia, melalui malaikat Tuhan di ayat 6 berkata, “Jangan takut!” Jangan takut, untuk berjuang jadi berani melawan kejahatan dengan kebaikan, kebusukan dengan kesegaran iman, pengharapan dan kasih, termasuk kepada berbagai semakin tingginya angka kejadian kriminalitas, kekerasan, bahkan teror, pengaruh berbagai ajaran yang menyesatkan, ancaman narkoba, pergaulan dan perilaku menyimpang, goncangan ekonomi, hingga goncangan akibat erupsi gunung, perang, kemiskinan dan kelaparan. 

Semua bisa kita lalui hanya dengan kekuatan Kasih Allah dalam perwujudan kematian (Jumat Agung) lalu khususnya kebangkitan Tuhan Yesus Kristus (Paskah), lalu nanti waktu penghayatan kita kembali akan tiba pada Pentakosta (turunnya Roh Kudus). Dibangkitkan dan membangkitkan sifat rendah hati, kejujuran, kesederhanaan, tulus hati, peduli kepada siapapun, mengasihi orang lain dan melayani mereka yang membutuhkan. Sebab membangkitkan sifat-sifat yang baik, dalam diri kita sendiri, langsung atau tidak langsung dimampukan-Nya membangkitkan sifat-sifat baik orang lain. 

Sehingga kita bersama akan terus-menerus menegaskan hal-hal yang baik. Dan melalui berbagai durasi kehidupan yang panjang, berujung kepada membuat kehidupan bersama jadi lebih baik. Tiap waktu, tiap kesempatan selalu dan semakin jadi lebih baik. Membangkitkan sifat yang baik. Menegaskan hal-hal yang baik. Membuat kehidupan bersama jadi lebih baik. 

Selamat Paskah. 
Amin. 


Tulisan: Lusindo Tobing.
Foto: doc. keluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar