30 Agustus 2017

Refleksi Minggu pertama September 2017


Matius 16: 21-28




Beribadah dengan Memikirkan Apa yang

 Dipikirkan Allah




Pikiran Simon Petrus menentang pikiran Guru dan Tuhannya: Yesus Kristus. Jelas Petrus hanya menggunakan hikmat dunia, bukan hikmat Allah dalam Tuhan Yesus Kristus. Petrus tidak dapat menerima bahwa Mesias, Anak Allah yang hidup, akan mati. Kristus mengungkapkan pemikiran lain yang berbeda kepada Petrus dan para murid-Nya, dengan memberitahukan perihal salib dan penderitaan. Petrus masih sulit berpikir bahwa kematian, bagi Tuhan bukan berarti kekalahan dan atau kegagalan. Kematian-Nya justru mengalahkan maut dan dosa. Tidak sepatutnya Petrus membantah apalagi menasihati-Nya dengan nada memerintah: "Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau" (ayat 22), padahal Kristus telah berkata, "Hal ini harus terjadi" (ayat 21). 

Ketika kita ditipu (seperti kasus First Travel), atau ketika musibah bencana alam menghantam (seperti hujan badai dan banjir yang menerjang Texas, Amerika), mari tetap bahkan semakin berpikir seperti Allah berpikir. Bukan pola pikir iblis, Petrus ditegur Tuhan Yesus, “Enyahlah iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia (ayat 23). Hal-hal yang dipikirkan Allah memang seringkali berbenturan dan bersilangan dengan hal-hal yang dipikirkan manusia, seperti kenikmatan daging, kesenangan pribadi, dan nama baik kita saja.

Mari berjuang mewujudkan pikiran-Nya yakni mengasihi, memberkati dan menyelamatkan semua orang. Jika hal-hal ini yang kita pikirkan, maka kedagingan kita sangkal, bahaya bisa kita hadapi, dan kesukaran dapat dijalani serta diselesaikan. Kita semakin bersedia memikirkan keadaan orang lain, bukan hanya diri sendiri dan siap membantu sesama manusia dengan Kasih Allah. Dasar semua itu sekali lagi adalah: selalu memikirkan apa yang dipikirkan Allah. Sehingga kita tidak hanya beribadah di Hari Minggu tok, tetapi di keseharian kita menyembah dan memuliakan (beribadah) kepada Tuhan Allah. Setiap hari, kita mewujudnyatakan pikiran Allah dengan menjalani kehidupan yang menghidupkan! Amin.



Pdt. Lusindo Tobing

Tidak ada komentar:

Posting Komentar