14 September 2017

Refleksi Minggu kedua September 2017


Matius 18: 15-20


Terbuka terhadap Teguran Allah 



Ibadah yang kita lakukan, sejatinya adalah proses untuk membuat 

kita semakin terbuka. Tepatnya dibukakan hati pikiran karena 

mengalami pencerahan dalam kasih Allah. Bermuara pada 

kesediaan kita terbuka dan membukakan hati-pikiran orang lain 

juga. Khususnya terhadap kebiasaan buruk, kesalahan dan dosa-

dosa. Dalam perikop kali ini ada petunjuk dari Tuhan Yesus 

Kristus untuk kita mampu menegur, menasihati dan membimbing orang lain dengan kasih. Teguran dan nasihat itu harus dilakukan bertahap. Pertama, hendaklah dilakukan dalam pembicaraan pribadi antara Anda dan dia (ayat 15). Jika tahap teguran dan nasihat itu tidak ditanggapi, perlu menghadirkan saksi bukan untuk menghakimi, melainkan sebagai upaya menyadarkan (ayat 16) dan seterusnya. Intinya kita mau dipakai menyalurkan teguran Allah kepada diri sendiri dan kepada semua orang.


Sebab sesungguhnya, terbuka terhadap teguran Tuhan akan 

memampukan kita semakin terbuka mengasihi dan melakukan

kebaikan-kebaikan. "Apabila saudaramu berbuat dosa, 

tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan 

nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.” (ayat 15). Mendengar teguran Allah adalah ibadah kita. Ibadah di Hari Minggu, namun juga ibadah hari demi hari. Sehingga Dia selalu hadir dalam kehidupan kita bersama keluarga, umat Tuhan (gereja), bahkan masyarakat luas.

“Dan lagi Aku berkata kepadamu:  

Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (ayat 19-20). Mari beribadah dan mempraktikkan ibadah GKJ Nehemia yang lebih terbuka. Urutan liturgi bisa tetap sama, namun isi ibadah seharusnya hati dan sikap kita yang lebih terbuka, lebih mampu saling menerima dan memberi ruang antar umat, lalu di keseharian dengan tetangga, bahkan menrima orang lain yang berbeda sangat tajam dengan kita. Dalam percakapan, dialog, pelayanan gereja, hidup lingkungan masyarakat, kerjasama studi dan kerja kita, mari lebih banyak “menegur” dengan perbuatan nyata, dengan penuh kasih. Amin.



Pdt. Lusindo Tobing


Tidak ada komentar:

Posting Komentar