11 Maret 2014

Refleksi minggu kedua Maret 2014




Mazmur 80: 1-8



KEHADIRAN TUHAN YANG MEMULIHKAN






Selalu ada pengharapan yang bersinar di balik kegelapan pergumulan. Lebih tepatnya, selalu ada sinar kasih Tuhan yang memulihkan berbagai tekanan, tantangan dan pergumulan hidup kita.

Hal seperti inilah yang terjadi pada bangsa Israel.  Sungguh tertekan bergumul karena jatuhnya kerajaan utara Israel  ke Asyur pada 722 SM. Rupanya pemazmur mempunyai perhatian yang sungguh tulus kepada Kerajaan Israel Utara. Sebab Jatuhnya Israel utara ke tangan Asyur membawa petaka dan penderitaan yang luar biasa. Hingga ayat 4 terasa rintihan permohonan,  “Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat”. Karena mereka sungguh menyadari bahwa nyala murka Allah sedang berkobar atas mereka (ayat 5). Israel menyadari bahwa Allah telah memungut, membela, menanam, menyediakan tempat dan membuat mereka bertumbuh menjadi besar.

Namun karena dosa-dosa dan ketidaktaatan mereka, maka Allah menjungkirbalikkan keadaan mereka dalam nyala murka-Nya. Sehingga keadaan mereka seperti kebun anggur yang runtuh temboknya. Di tengah situasi yang pilu dan terjungkirbalik, pemazmur (menurut kesaksian Asaf) mengajak Israel untuk menyadari keadaan mereka, kembali berharap kepada Allah dan mengungkapkan janji setia kepada-Nya.

Di dalam perikop kita kali ini siapakah sebenarnya Asaf itu? Asaf, adalah salah satu dari para kepala pemain musik di bawah pimpinan Daud. Sedangkan nama-nama lain seperti Efraim, Benyamin, dan Manasye, adalah keturunan Rahel, dan mereka mewakili suku-suku di Kerajaan Utara.  Lalu siapakah kerub itu?  Kerub adalah Malaikat Allah. Kerubim adalah para malaikat yang menyembah dan memuji Allah. Kerubim pertama-tama disebutkan dalam Alkitab di Kejadian 3:24, “Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyala beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.

Dan siapakah yang dimaksud dengan Gembala itu? Kita tentu teringat Maz 23:1 mengungkapkan Gembala itu adalah Tuhan. “Tuhan adalah Gembalaku”“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;  Dalam konteks Perjanjian Baru jelas, Gembala itu adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri.

Pemazmur mengajak Israel untuk melihat bahwa walaupun Israel memakan roti cucuran air mata dan meminum air mata yang berlimpah-limpah (ayat 6), namun mereka tetaplah memiliki Allah yang sama. Sekalipun mereka telah menjadi bahan olokan dan sasaran kejahatan (ayat 7), namun Allah tetaplah berperan sebagai Gembala Israel. Dialah yang akan menggiring dan memulihkan Israel (ayat 2). 

Di balik penghukuman yang dilaksanakan-Nya terdapat pengharapan akan pemulihan dan penyelamatan yang memungkinkan Israel berseru momohon agar Tuhan berbalik kepada mereka, memandang, melihat dan mengindahkan keadaan mereka.

Pengharapan akan pemulihan dan penyelamatan ini memiliki intensitas yang semakin memuncak, sebagaimana ditekankan dalam refrein lagu mazmurnya: "Ya Allah (ayat 4); Ya Allah semesta alam (ayat 8); Ya Tuhan, Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah- Mu bersinar, maka kami akan selamat (bisa juga baca ayat 20)."

Sosok Tuhan Allah adalah Gembala umat-Nya (ingat Mazmur 23 –Tuhan adalah gembalaku-) diulangi lagi dan lagi di bagian bahan PA kita kali ini . Ia juga adalah pemelihara kebun anggur yaitu umat-Nya Israel (ayat 2). Asaf  mengenang dan mengingatkan Tuhan akan karya-karya penyelamatan-Nya dulu ketika membawa Israel keluar dari Mesir dan menjadikan mereka umat-Nya dan bangsa yang berdaulat. Doa ini pasti dipanjatkan dalam masa-masa saat Israel dihukum Tuhan melalui bangsa Asyur. Asaf  berdoa agar Israel (Efraim, Benyamin, Manasye mewakili suku-suku Kerajaan Utara) dipulihkan Tuhan kembali.

Inti doa Asaf ini ialah memohon keselamatan bagi Israel. Artinya agar mereka diselamatkan dari kehancuran dan kepunahan. Bila kita membaca kitab nabi-nabi yang dipakai Tuhan memperingati Israel (Yesaya misalnya) jelas bahwa Allah telah memberi mereka undangan untuk bertobat. Namun semua undangan dan peringatan itu mereka anggap angin lalu. Meskipun tepat mengarahkan doa permohonan keselamatan kepada Tuhan, walau saat itu sepertinya sudah terlambat.


Rintihan pilu pemazmur merupakan ratapan pertobatan.  Ratapan nasional ini dapat dihubungkan dengan direbutkan kerajaan utara oleh orang Asyur (ayat 3), maupun dengan dimusnahkannya Yerusalem oleh tentara Babel pada 586 Sebelum Masehi.  Jelaslah umat Israel sangat terdesak oleh musuh (perhatikan kembali ayat 5-7) Karenanya umat berdoa kepada Tuhan supaya kiranya sebagai gembala yang baik.  Sekali lagi, bukan hanya penyesalan, melainkan juga pengharapan akan pemulihan yang sedang Tuhan kerjakan, janji untuk kembali setia kepada jalan Tuhan, dan tekad sebagai anak-anak kesayangan Allah untuk setia bersaksi demi Nama-Nya.

Hidup dalam gelap hanya akan membuat kita binasa. Karena itu, mari hiduplah setia di dalam terang, sinar terang kehadiran Tuhan yang memulihkan kita, selalu! Amin.




Tulisan & Foto: Lusindo Tobing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar