10 Mei 2016

Penyajian Khotbah

Lusindo Yosep Tobing 
Mahasiswa Pascasarjana STT Jakarta



Penyajian Khotbah 


Abstrak 

Kata “penyajian” pada judul makalah ini, sesungguhnya diambil dan diterjemahkan dari kata “performance.” Bertaut langsung dengan “penyajian khotbah” atau “preaching performance.” Yang sampai saat makalah ini dibuat, masih belum banyak pihak mau mengangkat topik: Penyajian Khotbah. Karena ungkapan performance, sadar atau tidak, kerap dipisahkan dari khotbah. Di dunia akademis saja (sekolah teologi ataupun sekolah-sekolah yang melahirkan pengkhotbah), khususnya di konteks Indonesia, masih sedikit yang membicarakan, apalagi melakukan studi mendalam tentang penyajian khotbah atau preaching perfomance. Tujuan penulisan ini adalah menelusuri serta menemukan makna pentingnya penyajian khotbah. Sebagai bagian yang tidak terlepas dari khotbah. Baik sejak di proses penyiapan, lalu penyusunan khotbah, hingga performance atau penyajian “mendaratkan” khotbah kepada jemaat, semua itu adalah satu keutuhan khotbah. Kata-kata kunci: Penyajian, Performance, Preaching, Sermon, Suara, Bahasa Tubuh, Jemaat, Khotbah, Pendeta dan Pengkhotbah.   


Pendahuluan   

Hingga kini, masih ada beberapa pendeta dan pengkhotbah yang memandang performance bukan sesuatu yang penting. Sebab yang penting bagi mereka hanyalah penyusunan khotbah yang dituangkan dalam bentuk tertulis saja. Bahkan masih ada yang memahami bahwa penyajian khotbah adalah terpisah dengan khotbah. Semisal masuk dalam bagian daftar isi satu buku preaching / khotbah, maka bab penyajian khotbah, biasanya hanya dapat porsi dan tempat sedikit saja. Padahal di kenyataannya, khotbah yang sudah disiapkan dengan baik secara tertulis tadi, harus delivery atau disampaikan-disajikan sang pengkhotbah juga dengan baik, kepada jemaat, kepada para pendengar khotbah. Jika penyajiannya tidak baik, maka khotbah jadi tidak baik. Ini bukti jelas bahwa penyajian khotbah itu sangat penting. Bahkan sesungguhnya performance tidak bisa kita tampik. Karena penyajian khotbah sesungguhnya bagian dari keutuhan Homiletika itu sendiri. Performance atau penyajian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari khotbah.   


Pemaknaan Teologis Penyajian Khotbah   

Penjelasan mendasar yang pernah disampaikan Jana Childers dalam bukunya Performing the Word (1998, 23) penting untuk kita perhatikan bahwa, “Teologi sesungguhnya mendesak homiletik untuk memperluas jangkauannya. 'Pergilah,' teologi mendorong kita, 'jelajahi negara ini. Orang-orang ini berbicara bahasa Anda. Apakah kamu tidak melihat Anda berhubungan dengan mereka?" Memang, itu benar. Kita semua berhubungan. Apalagi bahasa dari teologi adalah creation language (bahasa mencipta dan berkreativitas) yang kenyataannya tidak hanya milik teolog dan pengkhotbah atau jemaat saja. Tetapi juga milik hampir semua dimensi kehidupan manusia. Bahakan mungkin lebih sering digunakan dalam ruang kelas seni, beberapa penayangan film di gedung bioskop, daripada di dalam kehidupan jemaat dan gereja.   

Bahasa teologis adalah bahasa yang paling tepat untuk memahami penyajian khotbah sebagai proses kreatif. Karena kreativitas manusia adalah gema dari kreativitas Ilahi. Childers di buku Performing the Word tadi, bahkan mengangkat observasi yang pernah dilakukan oleh Dorothy Sayers pada subjek yang sudah sangat dikenal: Trinitas. Sayers (1998, 23) melihat resonansi antara peran dari pribadi Trinitas dan aspek-aspek kunci dari proses kreatif. Termasuk kreativitas dalam penyajian kohobath. Tapi minat Sayers dalam kesejajaran semacam ini sangatlah unik. Melibatkan banyak orang lain, dengan pikiran besar, seperti Paul Tillich dan Jurgen Moltmann di antara mereka, menegaskan adanya hubungan antara agenda teologis dan seni dan khotbah. Menunjukkan bahwa koneksitas antara teologi-khotbah-khususnya kreativitas penyajian khotbah tersebut adalah lebih dari sebuah kebetulan. Childers (1998, 26-27) menyimpulkan bahwa: Teologi adalah kekuatan besar yang membentuk preaching performance. Sehingga dapat menangani tema-tema besar, misalnya tentang hidup dan kematian, yang memberikan daya tarik khotbah. Menjadi seperti tarian antara khotbah dan teologi. Menjadi sumber daya dan kekuatan tampilnya kotbah yang hidup. Posisi sang artis (dalam hal ini adalah sang pengkhotbah) dalam tarian teologi dengan preaching performance (penyajian khotbah), terasa di ungkapan Childers yang demikian:   

Creation, Incarnation, Transformation, Ephiphany, Illumination, Annunciation, Inspiration, Creative Spark, Spirit, Communion. This is the language not only of theologians but of artists. Theological language is the language of creativity. It provides vocabulary and categories for the expression of our experiences with the creative process. Such language suggests that preaching is part of a vast, generative world. (Childers 1998, 22)      


Pentingnya Penyajian Khotbah   

Childers (1998, 47-48) juga berpendapat bahwa, “Performance itu melibatkan presentasi diri kita, melibatkan keberadaan dan pengalaman orang lain. Kita dapat menyajikan khotbah dengan kata serta ungkapan kita sendiri atau orang lain. Dalam performance, diri kita adalah sebuah instrumen bersama dengan hal-hal lainnya yang dapat membawa dorongan dalam hati untuk keluar. Menjadi dorongan untuk berkomunikasi, untuk menyelesaikan tugas, atau untuk menjalankan proses keterlibatan tadi. Ketika kita mewujudkan atau menginkarnasi dorongan kekuatan dari dalam hati kita tersebut, kita performing.”   

Sehingga Ruthanna B. Hooke di bukunya Transforming Preaching menekankan pentingnya posisi dan keberadaan seorang pengkhotbah sebagai performer itu:   

A sermon is the moment in the worship service when the preacher takes the word of Scripture and the elements of the liturgy and seeks not only to explain them, but to make them relevant to the world today. In the sermon the preacher shows why we should care about the Bible verses that have been read and the traditional words and actions of the liturgy. Why does all of this matter to us today? The preacher’s task is to bridge a gap between the texts and tradition of the church, and the world that we lives in now, and to show why the Christian faith is the best way to make sense of this world and to give meaning to our lives. (Hooke 2010, 5)   

Beberapa pertanyaan dan analogi dari Red B. Craddock dalam bukunya berjudul Preaching, mengingatkan betapa pentingnya, untuk kita memberi perhatian terhadap (bahkan studi tentang) performance dan deliveri dalam khotbah (1985, 211), “Apa yang akan menjadi pengalaman pendengar khotbah? Atau lebih tepatnya, apa yang akan menjadi pengalaman pendengar khotbah atas apa yang disampaikan oleh pengkhotbah ini pada kesempatan ini? Mengantisipasi selama beberapa menit. Pikirkan dan berusahalah menjawab dengan bantuan analogi alat musik: Apakah ini sebuah biola, drum, terompet, suling, atau organ pipa? Atau menggunakan analogi gerak: Apakah ini berjalan-jalan, ras, jalan cepat, parade, pawai, atau menari? Atau gunakan analogi cahaya: Apakah ini sebuah lilin, cahaya, neon, lampu baca, matahari terbit, atau tengah hari? Minggu pagi (saat kita akan berkhotbah) segera mendekat dan sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap pengalaman hidup pendengar khotbah kita, perlu lebih diperhatikan. "   

Paul Scott Wilson dalam buku Performance in Preaching (2008, 38) sangat mengingatkan orang-orang di luar studi preaching performance (penyajian khotbah). Karena kata performance sering digambarkan sesuatu yang negatif dalam khotbah, seperti apakah maunya berfokus terutama hanya pada pendeta atau pada teatrikal, atau hiburan, atau pada hal-hal lain yang dapat mengalihkan perhatian dari Firman. Karena sifat hakiki dari Firman itu sendiri adalah eventful and performative. Juga tentang pentingnya penyajian khotbah atau preaching performance ini, Childers dengan lugas menyatakan (1998, 54), “Akhirnya, kita bisa membayangkan ekspresi jujur seorang penyaji khotbah (pendeta/pengkhotbah) berdasarkan teks (Alkitab) yang telah menyajikan kehidupan dan kekuatan, akan membuka dan membuatnya dapat diakses oleh semua pendengar khotbah itu. Performance!”   


Studi Penyajian Khotbah: Kelas, Praktek dan Latihan Lagi!   

Penyaji khotbah haruslah benar-benar memperhatikan, dan mempelajari konteks jemaat dan lingkungan pendengar khotbahnya. James R. Nieman di bagian akhir bukunya Knowing the Context, mengingatkan (2008, 83) bahwa, "Yang terutama, pengkhotbah harus memulai dari kenyataan dan keberadaan (jemaat) lokal, menuju cakrawala yang lebih luas. Hal yang sangat wajar untuk mempertanyakan tentang fokus sosial yang lebih luas dari khotbah kontekstual.” Lalu jika demikian, berapa lama waktu dibutuhkan untuk mempersiapkan sebuah khotbah? Termasuk dengan penyajian khotbah? Jana Childers dalam buku Birthing the Sermon-Women Preachers on the Creative Process, dimana ia juga menjadi editornya, menulis dengan kritis demikian:   

Sometimes I think it might have better if nobody had ever told me how long preparing a sermon is supposed to take. But twenty-some years ago somebody did tell me about the, “one hour in study for every minute in the pulpit” rule. I am sorry to say that not only did it prove true in my experience, but every year now I hand it on as advice to my students. I hope I am not doing them a disservice. It does take me along time to bring a sermon into this world. So far it has seemed better to be honest about that. (Childers, ed. 2001, 35)   


Jadi sesungguhnya preaching perfomance atau penyajian khotbah sangat membutuhkan kelas, praktek dan latihan terus-menerus. Belajar dan terus belajar, latihan dan latihan lagi! Ruthanna B. Hooke (2010, 110-111) dalam bukunya Transforming Preaching menegaskan pentingnya latihan mempersiapakan dan melakukan penyajian khotbah. Karena setiap praktek penyajian khotbah kita menjadi latihan demi latihan perfomance, mengundang kita untuk mengeksplorasi hubungan, antara dan hal-hal lainnya, melalui tubuh kita. Dengan demikian, menyajikan khotbah berdasarkan Teks Alkitab adalah cara alami, hubungan anatara pengkhotbah dengan teks melalui tubuh dan pengetahuan kita, dan membawakan teks dan pengkhotbah bersamaan, sehingga Alkitab terus berlanjut karena itulah praktek penyajian khotbah membutuhkan pemain untuk melakukan proses ketat ekesegese, menafsirkan, serta mewujudkan teks, dan dengan berbuat, “latihan demi latihan” memberlakukan nyata di kehidupan sehari-hari, membawa hidup si penyaji khotbah (pendeta atau sang pengkhotbah) dalam hubungan dengan teks.   

Suara dan Gerak/Bahasa Tubuh   

Suara (voice) dan tubuh/bahasa tubuh (body) sang pengkhotbah, sepertinya hampir tidak bisa dipisahkan khususnya dalam sebuah penyajian khotbah. Namun menurut Childers tidak ada yang lebih penting dalam perfomance khotbah selain suara.   

Nothing is more important in sermon performance than the voice -not the face, not the arms, not the hands. As important as gestures and facial expressions are, the role they play in the preaching moment is a supprting one. While it is true that in most public speaking settings, nonverbal communication -the communication achieved by the face, body, and vocal tone- is stronger than the sheer force of the words themselves, in much preaching the power of voice is stronger still. It is the preacher’s voice, comprised of thought, emotion, instinctive, impulse, sensory response, and vocal/physical action, that sets the stage for the sermon. (Childers 1998, 57)   

Juga pendapat oleh Hooke (2010, 98) yang menegaskan jika khotbah akan menjadi peristiwa anincarnational, atau Firman Allah yang menjadi daging dan tinggal di antara kita, maka hal tersebut membutuhkan pengkhotbah dengan kemauan dan kemampuan untuk membawa semua dirinya saat menyajikan khotbah. Dan menghadirkan Firman Allah itu dalam dan melalui tubuh, pikiran, jiwa dan suara. Metode tertentu seperti pelatihan fisik dan vokal dapat mengajarkan kita bagaimana menjadi lebih lengkap hadir dalam penyajian khotbah kita, melibatkan tubuh serta pikiran dan semangat dalam karya pewartaan kabar baik. Juga oleh Tan Jin Huat (2000, 274) dalam buku tulisannya Preacher, Prepare Yourself! Bahwa penyajian khotbah yang efektif seharusnya melibatkan integrasi yang tepat dari sejumlah faktor, menghasilkan khotbah yang baik. Ini termasuk penggunaan suara kita, ekspresi wajah kita, tatapan mata kita, gerak tubuh dari tangan, kaki, kepala kita dan cara postur tubuh. Juga dibutuhkan keterampilan untuk menggunakan dan menggabungkan mereka secara efektif.   

Ditambahkan oleh Childers (1998, 61) menggambarkan pentingnya proses memproduksi suara dalam penyajian khotbah,pertama-tama adalah fungsi dukungan napas. Seperti seorang penari terus mempelajari ulang kemampuan dasar seperti berdiri dan berjalan, sehingga pengkhotbah harus mempelajari kembali apa yang paling mendasar dari semua kebiasaan manusia - yakni bernapas. Ketika kebiasaan bernapas digunakan secara otomatis dalam kehidupan sehari-hari, yang cukup banyak untuk tugas komunikasi. Suara yang berasal dari proses bernapas biasa di sehari-hari, tidaklah mencukupi untuk durasi penyajian khotbah. Selain itu, bagi pembicara di depan umum (termasuk khususnya seorang penyaji khotbah) harus terus berlatih untuk memperbesar kemampuan voice dan vocal dalam penyajian khotbah. Serta terus memperkecil kebiasaan buruk yang relatif berbahaya dalam penyajian khotbah. Sebab sebuah kesalahan produksi suara dan vokal akan cenderung semakin besar, misalnya saja ketika suara diproduksi keras, monoton keras dan berkelanjutan lebih panjang bahkan terus keras hingga akhir penyajian. Maka tidak hanya mengakibatkan kerusakan mekanisme vokal serta suara, tetapi juga akan mengagalkan penyampain pesan Firman Allah kepada para pendengar khotbah kita.   

Mengenai penggunaan tubuh, Cox juga memberi catatan (1985, 248) bahwa suara dan bahasa tubuh adalah aset pengkhotbah yang paling penting untuk memberitakan Injil. Suara dan tubuh (dan bahasa tubuh) mencerminkan karakter, itu bisa meningkatkan atau mengurangi reputasi. Suara bisa mengalihkan perhatian dan menghilangkan konsentrasi. Juga keanehan vokal, kekerasan, atau volume tidak cukup dapat menyebabkan pesan jadi hilang sebab tidak tertangkap dengan jelas. Cox juga menjelaskan (1985, 253), tidak hanya suara, tetapi juga seluruh tubuh dapat mengkomunikasikan kebenaran Firman Allah. Bahasa tubuh mengungkapkan jiwa. Sebenarnya, seluruh tubuh dalam tindakan dapat meningkatkan sekali efektivitas penyajian khotbah melalui dan bersama voice (suara) pengkhotbah. Juga seorang Ruthanna B. Hooke (2010, 103) yang pernah mengangkat tema seputar “engaging the body in preaching” dalam bukunya Transforming Preaching mengingatkan, “ Membawa tubuh kita dalam keterlibatan penuh dengan momen penyajian khotbah, adalah lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Kadang-kadang kita mendengar pengkhotbah dan merasa bahwa pikiran dan roh mereka berkomunikasi dengan kita, tetapi tubuh mereka sedang tidur atau sedang “mati”. Atau kita mungkin merasa bahwa kata-kata pendeta memang menyampaikan pesan (Firman Allah), tetapi tubuhnya mengatakan sesuatu yang sangat berbeda.”   

Oleh karena itu, lanjut Hooke (2010, 103), ia kerap merekam dengan video para muridnya di kelas khotbahnya. Ketika mereka melihat rekaman tersebut dengan volume suara dimatikan, murid-muridnya dapat melihat bahwa tubuh mereka mengkomunikasikan sesuatu yang lain daripada apa yang dikatakan oleh Firman yang mereka sampaikan. Sehingga benar pendapat juga ajakan Childers, untuk kita lebih melibatkan suara dan gerak tubuh dalam penyajian/performance khotbah:   

In the performance of Scripture, the preacher gives his or her body and voice to the text for the purpose of bringing it to life in a particular context. All the preacher’s physical, mental, and spiritual skills are brought to bear in the task of interpreting and embodying the text. When all goes well, a bodily entelechy is achieved which, as it is blessed by Holy Spirit, may allow those who have ears to hear. When all goes ideally, the preacher and congregation are caught up in a creative process that has the power to transform both sides of the chancel. (Childers 1998, 52)   

Agar penggunaan gerak/bahasa tubuh tetap baik dalam penyajian khotbah, ditambahkan Childers (1998, 73), bahwa selain latihan relaksasi yang terkait dengan pernapasan, pengkhotbah juga harus memberikan waktu dan perhatian untuk latihan meningkatkan otot dan fleksibilitas. Sementara pelatihan dasar meningkatkan pernapasan diafragma dapat dipelajari dalam beberapa bulan dan hanya membutuhkan latihan sesekali setelah periode awal penyesuaian, tidak ada akhir untuk peregangan otot. Setiap pengkhotbah harus melakukan latihan peregangan sederhana, baik peregangan otot kaki, pinggang, dada, bahu, kepala, tangan, jari-jari, leher, mata, mulut dan seluruh tubuh, setiap hari. Yang coba disimpulkan oleh Todd Farley (2008, 138) dalam buku Performing in Preaching bahwa tubuh adalah juga alat komunikatif dalam penyajian khotbah. Dimanapun penonton hadir, pembicara harus selalu menyadari apa yang tubuh komunikasikan sejalan kata-kata yang dikhotbahkan. Banyak pengkhotbah telah melatih suara mereka dalam persiapan untuk berkhotbah dan belajar memilih kata-kata mereka dengan terampil. Tetapi belum menyadari bahwa tubuh mereka sering mendustakan apa yang mereka katakan lewat khotbah mereka. Setiap penyaji Firman (pengkhotbah) harus menyadari tentang memasukan “tinta ke dalam darah,” melibatkan gerak dan bahasa tubuh dalam gerak penyajiam khotbahnya.   


Menggunakan Notes atau Tidak   

Salah satu pertanyaan awal yang sering ditanyakan tentang performance khotbah,”Manakah yang lebih baik, berkhotbah dengan menggunakan catatan, atau tanpa catatan?” Untuk menjawab ini, mungkin pendapat James W. Cox dalam bukunya Preaching-A Comprehensive Approach to the Design and Delivery of Sermons, dapat kita perhatikan:   

Preaching without notes has strong support. To begin with, this is the kind of preaching that the people who listen like best. It suggests to them a direct conversation-that the speaker is talking out of a heart-to-heart feeling. And it is true that there is a kind of electricity that flows between speaker and hearer. They are thinking together, looking each other in the eye, so that the speaker can read from the hearer’s face agreement, disagreement, question, and excitement. This is a powerful stimulus to further creativity. (Cox 1985, 240-241)   

Selain Cox, Craddock juga menjabarkan Pre-delivery, yakni bagaimana kita harus memperhatikan tentang tempat juga kondisi lokasi saat menyampaikan khotbah, liturgi yang di dalamnya ada khotbah bersama unsur lain untuk selalu dimaknai secara utuh, juga tentu materi khotbah, bahkan keadaan si pengkhotbah sendiri (baik mentalnya, emosinya, serta kondisi psikologisnya). Juga berlanjut kepada The delivery itself yang menurut Craddock (1985, 214) seharusnya diperhatikan, baik penyampaian khotbah dengan naskah, catatan atau tidak sama sekali. Beberapa diantaranya, seperti: Bila menggunakan notes atau catatan, sebaiknya sudah dalam bentuk oral atau penyampaian berbicara.   

Dan jangan pernah menggunakan semua buah hasil penelitian dan persiapan kita “dipaksa masuk” ke dalam satu khotbah. Baik menggunakan notes ataupun tidak menggunakan naskah maupun catatan. Hal ini akan sangat memfasilitasi untuk meredakan beberapa gangguan tentang poin-poin khotbah, tema, juga keadaan lokasi dan dalam hubungan komunikasi antara pembicara-pendengar. Memang secara peringkat populer, menurut Craddock (1985, 214-215) , penggunaan naskah untuk berkhotbah berada di bagian terbawah dan berkhotbah tanpa catatan berada di bagian teratas. Namun bagi Craddock ketimbang pengkhotbah hanya berpikir tentang mana preaching performance yang lebih baik atau mana yang lebih buruk, lebih indah jika seorang pengkhotbah merancang dan menentukan sendiri metode penyajian khotbah yang paling efektif (di konteks dan waktu tertentu) untuk membebaskan dirinya dan para pendengar khotbah.   


Variasi-Improvisasi-Inovasi   

Penyajian khotbah adalah kreasi yang kreatif. Kita ingat Tisdale misalnya (1989, 122), yakin menegaskan bahwa khotbah tidak hanya sebagai konstruksi teologis, tetapi juga sebagai karya seni. Penuh dengan variasi dan improvisasi. Sehingga kita bisa mengerti pentingnya penggunaan variasi dan improvisasi dalam khotbah. Demikian juga bagi Hooke (2010,115), improvisasi akan sangat membantu pengkhotbah belajar meningkatkan kemampuannya menjadi otentik dan otoritatif. Kata "improvisasi" seperti kata "performance," bisa saja memiliki konotasi negatif. Dan menggunakan improvisasi dalam menyajikan pengkhotbah, bukan berarti, kita tidak lagi mempersiapkan khotbah. Melainkan memilih untuk tetap berdiri, mempersiapkan penyajian khotbah dengan sebaik-baiknya dan memberitakan apapun yang Roh Allah beritahu untuk kita khotbahkan. Ada inovasi namun tetap memberitakan passion dari Allah, berdasarkan Firman diwartakan melalui persiapan matang penyajian khotbah, yang melibatkan improvisasi serta variasi dan menjadi passion sang pengkhotbah.   Juga ditambah pendapat Craddock (1985, 215) yang mengingatkan untuk jangan perfomance menggunakan metode yang itu-itu saja. Adalah bijaksana untuk tidak terjebak ke dalam penggunaan berulang-ulang metode yang sama untuk setiap penyajian khotbah. Variasi, dalam penggunaan baik dengan naskah, catatan atau tidak, terbukti mendapatkan dan mempertahankan perhatian jemaat sebagai pendengar khotbah kita. Bersamaan dengan kesiapan kita untuk menyajikan khotbah. Yakni ditunjukkan dengan kepastian tema dan tujuan dari preaching performance kita. Childers (1998, 95) memberi catatan tambahan untuk ini, bahwa pengkhotbah yang baik akan tampak dalam teknik bagaimanapun dan berbagai cara penyajian khotbahnya. Termasuk inovasi yang baru bagi jemaat pendengar khotbah. Namun tetap berdasarkan kekuatan menguasai teks Alkitab yang ditafsirkan dengan respek, tetap menghormatinya sebagai Firman Allah. Gerakan, suara dalam rangka variasi dan improvisasi yang harus jelas dari seorang performer, harus serius namun santai. Sebab bagi Craddock (1985, 218-219), pendengar menginginkan ada rasa bahwa pesan yang disampaikan itu penting bagi mereka, juga bagi pengkhotbah. Tetapi tanpa kesan mimbar yang terlampau serius, apalagi terkesan menghakimi.

Yang terpenting adalah keyakinan pengkhotbah bahwa pesan yang disajikan dapat membawa perbedaan yang baik. Dan suasana serta keyakinan itu “ditangkap” dan dirasakan jemaat salah satunya melalui variasi serta improvisasi bahkan inovasi dalam penyajian khotbah.   


Etika Penyajian Khotbah: Siapa yang Mendengar?   

Oleh Arthur Van Seters, kita diajak dalam bukunya Preaching and Ethics agar siapapun yang akan menjadi pengkhotbah atau penyaji khotbah, harus lebih dulu “berdiri di hadapan-Nya,” ia sependapat dengan Craddock yang menekankan pentingnya persiapan khotbah. Karena secara etis, sebuah persiapan performance mutlak diperlukan. Termasuk khususnya proses spiritualitas pengkhotbah menuju penyampaian khotbahnya. Seters (2004,120) mengutip satu ungkapan Craddock yang berbunyi demikian, “proceeding from silence, heard in a whisper, shouted from the housetop.” Salib adalah pusat dari khotbah Kristen, karena Allah merangkul umat manusia dalam ruang cipta-Nya, bahkan dengan tindakan. Inilah salah satu dasar pentingnya penyajian khotbah atau preaching performance kita, bahwa Kristus adalah Allah yang performance, menyajikan-memberi diri-Nya, yang selamanya berproses mengubah etika kehidupan, dari dalam hati manusia.   

Ada catatan menarik dari John c. Holbert dan Alyce M. Mckenzie menegaskan bahwa etika pengkhotbah sangatlah bertautan erat dengan spiritualitas sang pengkhotbah. Dalam buku mereka yang berjudul What Not to Say, Avoiding the Common Mistakes That Can Sink Your Sermon, salah satu contoh penekanan etika seorang pengkhotbah adalah: Jangan pernah menjadi “The Underestimator,” memandang rendah orang lain atau apalagi meremehkan orang-orang yang mendengarkan khotbah kita. Khususnya tentang keadaan dan keunikan jemaat pendengar khotbah kita.   

The ability to respect the mystery of people’s uniqueness, both as a group and as individuals, is a gift from God to a preacher. It can come through in phrase: “ I’m guest preacher; I don’t presume to know all about you and yoursufferings,” or “I’m going to speak for myself now, and if you recognize yourself in this, then come on in and join me.” You’ll come up with better phrases, but signal from time to time that you’re not understimating the differences betwen you and them and that you recognize and respect their uniqueness. (Holbert & Mackenzie 2011, 54)   


Penyajian Yang Tidak Bohong   

Melanjutkan tentang etika sang penyaji khotbah, dalam buku Hooke (2004, 92-95) juga sangat ditekankan pentingnya pengkhotbah untuk tidak berbohong. Sang pengkhotbah haruslah mengatakan hanya apa yang dia tahu dan yakini benar serta menghindari berpura-pura. Benar-benar tulus menyampaikan Firman (khotbah) dengan melibatkan seluruh bagian tubuhnya termasuk khususnya hati, pikiran dan jiwa. Yang berproses menjadi bagian penting mengelola hubungan yang mendalam dengan Allah dan upaya mengubah manusia yang mendengar khotbah kita. Hooke juga meneruskan penegasannya (2010, 111) bahwa: Para pengkhotbah sebaiknya melakukan hal tersebut, tetapi performers haruslah melakukannya. Mereka tidak boleh tampil menyampaikan khotbah tanpa melakukan itu semua. Dan inilah mengapa pengalaman performance akan memperdalam cara berkhotbah. Yang diungkapkan Childers akan menjadi proses lahirnya kesatuan, sebagai khotbah yang jujur dan utuh.   

An actor joins the script, a preacher joins the text, and a third thing is born of the union. The third thing has still absolutely the essential properties of its parents. The actor’s arms, the preacher’s face, they are still the actor’s arms and the preacher’s face. But they are enmeshed now in the something-happening of the play or the sermon. “The dancer is the dance,” as they say. (Childers 1998, 53)   

Yang dalam buku berjudul Hearing the Sermon: Relationship/Content/Feeling. Karya Ronald J. Allen. Di pengantar bukunya, mencoba membagi untuk bagian dan tema utama yang dibangun, atas dasar pemahaman Aristoteles, yaitu : Ethos (tentang pengkhotbah), berkaitan dengan persepsi jemaat tentang karakter pengkotbah dan hubungan mereka dengan pengkotbah Logos (tentang Ide), berkaitan dengan persepsi jemaat tentang ide kotbah dan bagaimana pengkotbah mengembangkan ide tersebut Pathos (tentang perasaan), fokus pada persepsi jemaat tentang perasaan mereka yang tertuang dalam kotbah. Dan ditambah dengan; Embodiment (tentang penyampaian), fokus pada persepsi jemaat tentang deliver atau cara penyampaian sebuah khotbah.   Keempat pemahaman ini diibaratkan seperti sound system, diatur penekannya dalam sebuah khotbah. Dan setiap pendengar juga dapat menerima penekanan yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Pemahaman ini juga didasari dengan survey yang dilakukan oleh Allen. Dan adalah baik untuk dicermati, bahwa empat hal pemahaman tersebut diibaratkan sound system, diatur tiap hal penekannya dalam sebuah khotbah. Dan setiap pendengar khotbah menerima penekanan yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Sedangkan untuk si pengkhotbah, Allen juga menganjurkan untuk secara berkelanjutan, membuat “diagnostic table” sebagai acuan persiapan dan juga evaluasi khotbah kita:   Pastoral listening may lead a minister to conclude that a particular congregational setting needs particular amphasis in preaching. Consequently, a preacher might develop a sermon or a series of sermons with that setting in mind. For example, a pastor may conclude that a congregation needs to understand the theological rationale for a particular church practice. (Allen 2004, 112)   

Juga seorang Clayton J. Schmit (2008, 181) dalam buku Performance in Preaching menyatakan bahwa, “Kesuksesan seorang pengkhotbah dipelajari melalui pelatihan pikiran, tubuh, dan suara. Juga dengan perhatian terhadap penggunaan lingkungan tempat pemberitaan, termasuk mimbar, microphone, bahan mimbar, ruang mimbar, dan sebagainya. Kebiasaan-kebiasaan ini diasah melalui periode pelatihan dan praktek, serta melalui praktek setiap khotbah. Kadang-kadang, kebiasaan khotbah yang baik dapat diperoleh dengan mengamati karya orang lain dan berbagai masukan yang mungkin menginformasikan serta memperkuat penyajian khotbah kita.” Allen (bersama penulis lainnya: Barbara Shires Blaisdell dan Scott Black Johnston di buku yang lain, berjudul Theology for Preaching (1997, 175), mengingatkan bahwa sebagai pengkhotbah, kita jangan lagi hanya mempertanyakan “how do humans listen?” tetapi yang jauh lebih penting, “who listens?” Kita harus lebih mau dan mampu menyelami kedalaman lautan kebutuhan dan keadaan nyata yang sedang ada dan dialami oleh jemaat dan pendengar khotbah kita.   


Media, Musik dan Alat Dalam Penyajian Khotbah   

Penyajian khotbah adalah juga performance dengan menggunakan media, musik dan alat atau pendukung lainnya. Dalam bukunya Envisioning The Word, Richard A. Jensen pernah memaparkan tiga era komunikasi umat manusia, yang terdiri dari: 1. Oral-aural Culture; 2. Literate Culture; dan 3. Postliterate Culture. Dimana setiap era memiliki kebutuhan dan harapannya sendiri. Jensen juga menampilkan sosok dan tokoh-tokoh lainnya -salah satunya- khususnya Marthin Luther, yang menggambarkan penggunaan gambar visual sebagai "Firman yang dilukis."   

Hal ini menjelaskan keadaan pada tahun-tahun awal kekristenan, ketika banyak sekali faktor menghambat ekspresi artistik. Namun, artistik gambar dan media dengan berbagai bentuknya, menjadi sarana penyajian khotbah yang terus dikembangkan. Termasuk tentang media puisi dan lukisan. Pengaruh yang kuat datang dari dualisme filosofis, yang saat itu lebih menghargai puisi daripada lukisan. Sampai kemudian terus berkembang pada kesadaran dan pengkauan akan penggunaan visual dan media dalam pereaching performance mengikuti perkembangan jaman yang terus maju. Begitu juga dengan Jensen yang melakukan penelitian dan dituangkan melalui tulisannya, dengan harapan, memberikan pemikiran cerdas tentang penggunaan gambar visual dalam berkhotbah. Dari pengalamannya, Jensen akhirnya berpendapat tidak ada yang bertentangan tentang penggunaan gambar dan berbagai media dalam penyajian khotbah.   

Begitu juga dengan musik. Salah satu yang cerdas misalnya menyajikan khotbah dengan penggunaan dan refleksi dari musik jazz, Schmit (2008, 182) berpendapat bahwa dengan jazz maka apa yang tak terelakkan adalah bahwa: yang konvensional juga menjadi bagian dari gaya penyajian khotbah. Musisi jazz berkomitmen untuk keyakinan "selalu ada satu juta satu cara" untuk bermain melodi (demikian pula dalam penyajian khotbah). Konvensi jazz menunjukkan variasi jatuh dalam kisaran konvensional. Untuk mendorong melampaui harapan mereka -memainkan melodi terbalik, misalnya, atau untuk menyelinap di luar kemapanan totalitas- akan mendorong melodi di luar pengakuan yang sudah ada.” Hal seperti ini menjadi pantulan bagi kita, tentang penggunaan musik (aliran dan jenis apapun) dalam penyajian khotbah. Juga refleksi tentang preaching performance itu sendiri. Menemukan bentuk penyajian khotbah, seperti ketika mempertimbangkan keniscayaan musik. Ada kualitas-kualitas yang memang yang harus diantisipasi baik oleh musisi dan pendengar musik juga khotbah. Demikian pula dengan pengkhotbah dan bersama pendengar khotbah. Cita rasa dan harapan dalam musik juga berlaku untuk penyajian khotbah, termasuk antisipasi pengambilan signifikansi teologis, sudah tampak dalam cara khotbah disiapkan, disusun rapih dan layak performed. Khotbah disajikan sebaik-baiknya.   

Dan Troeger juga sependapat, tidak hanya menggunakan satu atau dua media dalam penyajian khotbah. Juga memungkinkan penggunaan lebih banyak media atau multimedia. Troeger menambahkan penjelasan kritis yang mengingatkan di akhir bukunya Ten Strategies for Preaching in a Multi Media Culture. Agar setiap pendeta dan penyaji khotbah (pengkhotbah) selalu berupaya mengembangkan strategi preaching performance dalam budaya multimedia yang terus berkembang. Dan hal ini adalah tugas teologis yang besar. Pengkhotbah terus bersedia bertransformasi, berproses menggunakan multi media, untuk lebih dipakai Allah mentransformasi hati. Seraya terus menangkap imajinasi manusia dalam kerangka dan bagi tujuan: Proses penyelamatan Allah bagi dunia.   Developing strategies for preaching in a multimedia culture represents, a great theological task. No one else can tell you exactly how to do this. Then ten strategies in this book will be most fruitful when they set you off to work on your own.To preach this vision to our multimedia culture is to transform the landscape of the heart and to capture the human imagination for the purposes of God. (Troeger 1996, 120-121)      


Mengetahui Kapan Memulai dan Mengakhiri   

Sangat penting untuk mengetahui persis kapan memulai dan mengakhiri khotbah. Secara menyeluruh tahu persis, bagaimana performance khotbah akan berawal dan berakhir. Ini memberikan kepercayaan diri penyaji khotbah / pendeta di seluruh khotbahnya. Serta jangan lupa, ungkapan Craddock (1985, 220), “during delivery has to do with eye contact.” Ya, melakukan dan menjaga kontak mata kita sebagai pengkhotbah dengan jemaat pendengar. Dari awal, isi pesan kuat, tujuan jelas dalam dimensi Firman Allah. Dengan itu semua, maka bagi Craddock, khotbah memiliki integritasnya. Dan nantinya, hingga memiliki “ending” yang harus tepat. Kemudian, setelah diam, saat teduh dengan musik organ, ada transfer pesan untuk ibadah berlanjut. Tetapi juga dilanjutkan dalam perwujudan Firman dalam performance kehidupan para pendengar khotbah (jemaat) nyata sehari-hari. Istilah yang digunakan Craddock (1985, 220-221) untuk ini semua adalah reexperiencing. Penyajian khotbah yang disiapkan dengan baik, tersampaikan dengan konsisten efektif, lalu berdiam di hati dan pikiran pendengar khotbah (jemaat), untuk masih berlanjut ke perbuatan sehari-hari jemaat, sebagai reexperiencing pesan Firman Allah di tiap hari, seperti yang telah disajikan pengkhotbah.   

Dan ketika pengkhotbah harus mengakhiri penyajian khotbahnya. John C. Holbert dan Alyce M. McKenzie dalam buku berjudul What Not to Say memberikan analogi sangat cerdas (2011, 103), "Dua analogi datang ke pikiran saya ketika berpikir tentang mengakhiri khotbah. Yang pertama adalah pecahnya hubungan romantis. Kedua adalah meninggalkan pesta. Dalam kedua kasus, tidak selalu sulit untuk mengakhiri beberapa hal, tetapi sering sulit untuk mengakhiri hal-hal baik.” Karena itulah pengkhotbah sebaiknya terus berlatih tentang kapan memulai atau kapan mengakhiri penyajian khotbah. Agar akhir penyajian khotbah semakin tepat. Tepat waktu dan tepat sasaran, “mendaratkan” isi Firman Tuhan. Kepada telinga, hati dan pikiran jemaat pendengar khotbah.   


Catatan Kritis dan Refleksi   

Penyajian khotbah adalah bagian dari khotbah. Preahing perfomance adalah bagian penting, tidak boleh dilepas dan tidak bisa terlepas dari khotbah. Teks Alkitab harus dibacakan dan diwartakan. Konsep khotbah yang tertulis harus berlanjut: disuarakan, ditampilkan, dilakukan, dikhotbahkan dan disampaikan. “The sermon must move, must be driven the way the text is.” Demikian ungkap Childers (1998, 41). Yang juga dilanjutkannya (1998, 50), “It is not claimed here that everything that needs to be known about a text can be known by way of performance.” Dan performance atau penyajian khotbah itu adalah sebuah proses kreatif. Agar aspek-aspek penting, makna dan konteks teks, dapat diketahui dan diterima jemaat melalui pengkhotbah yang “berbicara kata-kata dari teks” bukan hanya dengan suara keras. Tetapi juga seperti Troeger dengan ungkapannya: Menggunakan “strategi-strategi khotbah,” beserta segala potensi yang Tuhan sudah berikan ke setiap pendeta/pengkhotbah, sesuai takarannya, digunakan secara kreatif dalam preaching performance. Utuh dalam penyajian khotbah dari Allah melalui dirinya dan mendarat ke telinga, mata, (serta hampir ke semua panca indera), juga pikiran dan khususnya hati jemaat pendengar khotbah.   

Baik melalui suara (voice), bahasa tubuh (body), hingga dengan menggunakan alat dan media lainnya. Seorang pengkhotbah tidak boleh tampil menyajikan khotbah tanpa mengerti pentingnya penggunaan berbagai hal yang sudah sediakan-Nya. Baik di dalam diri, maupun dari luar diri si pengkhotbah. Dan inilah mengapa pengalaman performance akan semakin memperdalam isi dan cara berkhotbah, sehingga “si pelukis tampak di lukisan itu sendiri, si penari menjadi tarian itu sendiri.” Si pengkhotbah menjadi khotbah itu sendiri. Yang bagi Childers, preaching performance/penyajian khotbah akan menjadi proses lahirnya kesatuan, yakni kesatuan-keutuhan khotbah.   

An actor joins the script, a preacher joins the text, and a third thing is born of the union. The third thing has still absolutely the essential properties of its parents. The actor’s arms, the preacher’s face, they are still the actor’s arms and the preacher’s face. But they are enmeshed now in the something-happening of the play or the sermon. “The dancer is the dance,” as they say. (Childers 1998, 53)   

“Penyajian khotbah mungkin dapat mencakup baik verbal dan penampilan fisik, untuk mengatakan apa yang harus kita katakan.” Demikian penegasan Marguerite Shuster (2008, 24), salah satu penulis buku Performance in Preaching. Juga oleh Mary Donovan Turner (2008, 97) di buku yang sama, apalagi jika penyajian khotbah itu disampaikan dan menyampaikan tentang suara atau suara-suara yang dibungkam dan tertindas. Saat itu disuarakan tepat dari mimbar, menyajikan-menyampaikan suara-suara tentang Tuhan? Maka penyajian khotbah tidak hanya tentang penebusan misalnya, tetapi suara kenabian secara menyeluruh.    

Sehingga setiap penyajian khotbah menjadi seperti yang disebutkan Childers (1998, 51) sebagai, “honest performance.” Setiap preaching performance, apakah itu diwartakan di atas panggung atau khususnya di mimbar, diupayakan dapat dikatakan dengan jujur dan benar. Ketika sang penafsir (yang adalah sang pengkotbah) membuatnya dengan cermat, menggunakan berbagai pengetahuan serta pengalaman nyata dan jujur. Mulai secara internal. Harus ada passion. Gairah dan semangat yang jujur dari dalam hati dan pikiran si pendeta atau pengkhotbah. Namun kritik Craddock (1985, 221), “Faktanya, beberapa pendeta dan pengkhotbah, karena berbagai alasan, menolak semua demonstrasi passion. Tetapi sama seperti sebuah lukisan di galeri mempengaruhi penikmat lukisan, meskipun sang pelukisnya tidak diketahui atau tidak ada, bahkan mungkin sudah meninggal dunia.” Khotbah, menurut penggambaran Craddock tadi, seharusnya bisa melakukan tugasnya sendiri, tanpa menghilangkan energi dari pengkhotbah. Passion yang ditaruh Tuhan Allah kepada sang pengkhotbah dan khotbah itu sendiri.   

When preaching starves the sensibilities of listeners, driving underground their emotional life, they may be set up as easier prey for the vigorous propagandist. People cannot live by ideas alone; the whole being has to register the value of those ideas. We call this passion. (Craddock 1985, 221)   

Lebih bersemangat dan kritis lagi, Mary Donovan (2008, 94) juga dalam buku Performance in Preaching, mengingatkan bahwa pembebasan Allah akan terjadi jika jemaat dan gereja dapat menciptakan sebuah cerita pembebasan untuk melawan cerita penindasan yang telah dikenal begitu lama sebelumnya. Pengkhotbah bersama jemaat harus menandai perbedaan antara kisah pembebasan dan kisah penindasan dan membuat tonggak pembebasan melalui performance preaching. Yang bagi Leonora Tubbs Tisdale dalam bukunya Preaching as Local Theology and Folk Art, dengan cara memandang penyajian khotbah sebagai sebuah seni. Misalnya, seperti melakukan tarian dalam kemitraan antara pengkhotbah dengan jemaat lokal. Tentu berdasarkan Alkitab, dengan terus melibatkan keadaan, tempat, waktu dan doktrin gereja dimana khotbah disajikan. Pendapat Tisdale tersebut mungkin bisa semakin lengkap dengan meminjam pendapat Eugene L. Lowry, bagaimana semua unsur seperti itu seharusnya dibentuk menjadi satu kesatuan dalam penyajian khotbah? Karena akan selalu ada misteri indah, yaitu khotbah yang membumi di jemaat lokal, namun di dimensi lain tetap bisa menyajikan makna meluas bagi dunia dan kehidupan alam semesta.   

Di buku The Sermon - Dancing the Edge of Mystery (1997, 12-13) Lowry bertanya, “Jika penyajian khotbah memang tidaklah kurang dari ilmu arsitektur dan melebihi seni hortikultura, bagaimana kita bisa belajar untuk melakukannya? Tentunya, pertanyaan ini sangat praksis. Bagaimana mungkin kita, bisa berhubungan dengan isu-isu mendasar yang diangkat? Secara teologis dan terutama mengingat waktu, manusia dan tempat di setiap transisi, khotbah dan berkhotbah menjadi seperti ‘menari di tepi misteri’? ”   

And who conceive of any greater motivation for preaching our very best than this: there is at least one person in the sanctuary listening, one person who, because of this sermon, may have a clearer vision, a brighter hope, a deeper faith, a fuller love. That person is the preacher. (Craddock 1985, 222)   Oleh sebab itu Tisdale menegaskan salah satu unsur penting (kalau bukan yang dikatakan terpenting) dari performance khotbah, yaitu: Hubungan. Yang paling mendasar, tentu hubungan sang pengkhotbah dengan Allah. Lalu hubungan pengkhotbah dengan jemaat lokal. Bahkan hubungan di antara jemaat itu sendiri, dan meluas hingga hubungan dengan sosial masyarakatnya. Kita jadi teringat hasil interview Allen, mungkin bisa melengkapi pendapat Tisdale tadi. Menampilkan salah satu kutipan kemurnian suara jemaat atau pendengar khotbah:   

I Think that preachers are instructors like I’m an instructor. They’re trying to help people see connections. They’re trying to help people fell connected, to have a relationship to God and to Jesus. I would assume they’re also working to create some feeling of community in the church. I hope that the preacher will help me make sense of the readings for the day, of the gospel. That the person will somehow make feel more conncted to God-remind me of things that I often don’t think about in a busy life with lots of competing demands. That somehow I’ll feel inspired afterward, either inspired to change the way I think or the way I act or to reflect more on things that I don’t think about very often. I hope for inspiration. (Allen 2004, 134)   

Ungkapan jernih seperti itu, menantang upaya kita semua. Khususnya bagi para pendeta maupun pengkhotbah, untuk lebih mampu “mendaratkan” Firman Allah, di hati serta pikiran (termasuk ingatan) jemaat. Melalui suara, mimik, gerak dan bahasa tubuh saat menyajikan khotbah kita. Menyanyi dan mengajak menyanyi bersama pendengar penyajian khotbah kita. Juga performance menggunakan gambar dan cerita. Dalam buku Open To Go (2015) yang ditulis dan disusun bersama oleh Christina Brudereck dan kawan-kawan, menegaskan bahwa gambar dan cerita bahkan sudah menyatu dengan kehidupan nyata sehari-hari (Brudereck dan kawan-kawan 2015, 101), “Kita memiliki tubuh -bukan hanya pikiran, melainkan juga panca indera, otot dan tulang. Yang mendasari perbuatan kita adalah gambar dan cerita, bukan kebenaran abstrak. Gambar dan cerita tersebut menyatu dengan perbuatan jasmani, “liturgi” kita sehari-hari, yang membentuk kebiasaan dan sikap kita. Budaya konsumtif sangat menggiurkan dan menarik. Satu cara untuk menangkalnya adalah dengan menarik diri dari dunia - hidup tanpa tv, internet dan shopping. Beberapa kelompok Kristen radikal memang telah memilih untuk hidup seperti itu. Kelompok lainnya memilih untuk sedikit menjauhi - dan inilah salah satu alasan mengapa gereja Protestan sering enggan bercampur dengan budaya populer. Namun, jika ingin tetap menjadi sebuh gereja misioner, kita harus hadir di tengah masyarakat, tanpa terpengaruh keinginan dan kebiasaan yang tidak benar, ‘di dalam dunia’, tetapi bukan di ‘luar’ dunia.”   

Mari merefleksikan tanggung jawab untuk menyajikan khotbah yang lebih baik dan benar dengan hati, diri, juga khususnya: Tingkah laku setiap kita. Baik sebagai pendeta ataupun pengkhotbah. Dan bahkan sebagai jemaat. Ya, sebagai jemaat Tuhan Allah yang sesungguhnya setiap hari bahkan setiap waktu, ditantang mem-performance akan Kasih dan Rahmat-Nya kepada orang lain serta semua ciptaan. Paul Scott Wilson (2008, 38) masih dalam buku Performance in Preaching, dengan mengangkat Yesaya 55:11, mungkin dapat lebih membantu mengendapkan refleksi kita, demikian, ”Sifat Firman itu sendiri adalah kejadian dan performatif. Salah satu yang bisa mengingatkan kita ketika Allah berbicara dalam Yesaya 55:11, ‘demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.’” Sehingga Firman Allah, menggambarkan kehendak Allah, dan tindakan Allah. Pikiran-rancangan Allah adalah peristiwa. Ekspresi kehendak Tuhan adalah janji dan jaminan pemenuhan dan pengenapan janji-Nya. Sehingga Allah memberikan paradigma utama dari proses preaching performance: pikiran dan kata-kata menjadi tindakan dan peristiwa.   

Alyce M. McKenzie pada bagian akhir tulisannya di buku Performance in Preaching (2008, 66) mengingatkan pentingnya penyajian khotbah memperhatikan dimensi jemaat sebagai pendengar. Bahwa, “Khotbah adalah dialog yang tidak membutuhkan perkalian (multiplication) dari sang pengkhotbah, tetapi perkalian dari pendengar. Khotbah terutama melibatkan proses mendengarkan. Ini berbicara tentang tujuan khotbah adalah untuk memudahkan orang lain dapat mendengarkan. Memberitakan isu-isu dari keheningan yang mendalam, keheningan dari Allah.” Yang disajikan kepada umat-jemaat Allah melalui penyajian sang pengkhotbah. Dan oleh karena itu, mari lebih merefleksikan lagi suara-suara murni dari bangku jemaat. Tentu sekali lagi, diawali dengan kesediaan kita sebagai penyaji khotbah (pengkhotbah) bukan sekadar “dengar” tetapi benar-benar “mendengarkan” suara-suara murni, bahkan suara-suara yang mungkin tidak berani disuarakan dan atau sengaja “ditekan” ke bawah sadar karena ada ancaman atau resiko jika mengatakan-menyuarakannya. Contoh sederhana, namun sangat kuat, seperti yang ditorehkan bersama oleh Troeger dan Tisadale (2013, 167) dalam buku A Sermon Workbook:   

There’s a song in the musical “Little Shop of Horrors”   
Sung by Audrey II, the giant Venus-fly-trap-space-plant   
Called “Feed Me!”   
That’s what I would say to a congregation of preachers   
Tha’s what I say every time I sit down in the pews   
Feed Me!   
You can vary my diet   
Make it prophetic or sad   
Or funny or charming   
Full of historical facts, Greek verbs, or stories about your cat   
Just   
Serve me up the Word of God!   
I’m hungry   
I’m just about starved   
For some Good News   
So please, please, please   
Don’t give me junk   
Or empty calories.   
Feed Me!      

Membuat kita kembali ke penegasan seorang Childers (1998, 54) bahwa, “Pada akhirnya, kita mungkin bisa membayangkan ekspresi jujur sang pengkhotbah dari teks yang telah melepaskan kehidupan dan kekuatannya, dapat membuka dan membuatnya bisa diakses oleh jemaat pendengar khotbah.” Di tiap zaman, termasuk khususnya pada masa sekarang ini, kembali lagi bisa “menikmati” khotbah. Penyajian khotbah yang “membumi” dan bisa “mengenyangkan” spiritualitas (iman) jemaat pendengar.   

Agar lebih banyak orang menerima Firman Allah. Percaya, dan lebih percaya. Bahkan jemaat mampu juga mem-performance atau menyajikan khotbah di setiap hari, khususnya melalui perbuatan nyata. Performance khotbah yang membuat jemaat memiliki ketaatan dan keberanian, agar Firman Allah performance di kehidupan sehari-hari. Marvin A. McMickle dalam bukunya Shaping the Claim mengingatkan:   

Given the often unpredictable nature of the people who listen to sermons, who often manage to hear or think they have heard things not actually intended by our sermons, it is crucial that preachers deliver sermons that offer a single, compelling, clearly focused message, that invite a single emotional experience, that call for a single behavioral outcome, a next step, or a now what in mind. When preachers ignore this step in the process and fail to answer the ‘now what’ question, they run the risk of lumping their sermons in with the TV channels that are quickly changed, the junk mail that is discarded, and the unwanted or uninteresting e-mails that are deleted without being read. (McMickle 2008, 76)   

Sehingga John M. Rottman mengingatkan dalam buku Performance in Preaching (2008, 80), bahwa rasa penerimaan akan Suara Allah, sepenuhnya mempertahankan kebebasan radikal Allah untuk berbicara atau diam. Bahkan sebagai pengkhotbah yang berbicara menyajikan Firman Allah, kita perlu memahami betul kekuatan penyajian khotbah. Dilengkapi dengan indah oleh Paul Scott Wilson (2008, 47) dalam buku yang sama, Performance in Preaching, demikian, “Preaching performance yang paling signifikan dari khotbah adalah tindakan Allah, yang divina actio. Pengkhotbah, seperti pemain apapun, memberikan lebih dari dirinya sendiri untuk penyajian atau performance-nya, yaitu, untuk Allah. Pewartaan Injil adalah tujuan yang mencakup semua tujuan penyajian khotbah. Ini bahkan sering sudah tampak secara formal dalam doa pengudusan sebelum khotbah, menggunakan kata-kata seperti Mazmur 19:14, 'Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku.’ Pengkhotbah yang setia mendekati mimbar dengan kerendahan hati, berharap bahwa Firman Tuhan akan didengarkan melalui apa yang dikatakan dan dilakukan.”   

Oleh Childers (1998, 43) ditegaskan bahwa, “Khotbah adalah tindakan.” Tindakan, sikap, tingkah laku dan perbuatan yang mengambil serta mengikuti arah dari aliran kehidupan teks Alkitab. Itu merupakan tindakan yang bergerak dari pesan teks sebagai Firman, sehingga ada sambungan antara penggambaran Alkitab dengan hal-hal nyata dalam kehidupan jemaat pendengar khotbah. Dan menurut Childers juga, bahwa Kristus sendiri berbicara jauh lebih sedikit Kasih dibandingkan Dia melakukan Kasih itu. Khotbah yang bertindak, aktif dan tindakan. Para pendeta/pengkhotbah harus terus berupaya menyajikan khotbah, agar bersama dengan para pendengar dan penikmat khotbah berhasil menenun bersama. Bukan menenun dan merangkai hanya ide tetapi roh/inti dari Firman Allah. Sehingga inti setiap khotbah dapat dipegang dan disajikan melalui kehidupan nyata pendengar khotbah. Performace, jemaat menyajikannya untuk orang lain. Berwujud nyata di sikap serta tingkah laku, perbuatan kasih, semakin setia menyajikan kehidupan mereka sebagai “garam-terang dunia.”   

Untuk Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, juga semua kampus dan dunia akademis (sekolah teologi ataupun sekolah-sekolah yang melahirkan pengkhotbah), khususnya di konteks Indonesia, yang belum banyak melakukan studi mendalam, tentang penyajian khotbah atau preaching perfomance sebagai bagian tidak terlepas dari khotbah. Ungkapan “Preaching is an act” oleh Childers tadi juga mengajak kita lebih memaknai lagi pentingnya penyajian khotbah. Karena akan sangat menolong jemaat (dan tidak hanya menolong sang pengkhotbah). Menolong dalam ajakan lebih kuat sehingga jemaat performance dalam perbuatan. Menyajikan iman, pengharapan kasih kepada sesama serta seluruh ciptaan. Preaching performance seorang pengkhotbah, membuat seorang, beberapa orang atau banyak jemaat pendengar khotbah untuk dapat performance perbuatan kasih nyata sehari-hari. Jana Childers dalam buku yang sama ia menjadi editornya, Performance in Preaching, membuat tulisan yang sangat kuat berjudul The Preachre’s Creative Process -Reaching the Well (2008, 168), cuplikannya demikian, ”Khususnya untuk pengkhotbah yang haus memberi perhatian untuk proses kreatifnya, mengembangkan disiplin ilmu untuk mendukungnya, dan untuk bereksperimen secara bebas dalam penggunaan suara dan tubuh dalam upaya mencapai hal baik, karena berita Firman adalah sangat baik.” Karena Tuhan memang memiliki dan memberikan banyak hal baik, untuk dibangun di kedalaman diri seorang pengkhotbah. Menjadi perlengkapan yang diberkati hikmat Roh Allah Yang Kudus. Mendukung serta melengkapi penyajian khotbah yang baik.   

Akhirnya mari kita semua, para pendeta dan penyaji khotbah (pengkhotbah), dengan Rahmat-Nya, terus-menerus memaknai ulang betapa pentingnya preaching performance atau penyajian khotbah. Agar bersama dengan jemaat atau para pendengar khotbah, kita semua ditransformasi. Termasuk terus memaknai seperti yang dibagikan Hooke dalam buku Transforming Preaching (2010,138), dengan pengambaran kelas dalam tulisannya. Mempertanyakan sekaligus mengajak dan menantang kita semua untuk memberlakukan studi tentang, dan meningkatkan, serta mewujudan penyajian khotbah yang semakin baik dalam ibadah, “Sekali lagi, itu seperti ragi dalam adonan; orang-orang yang telah berlatih dan belajar meningkatkan berkhotbah ke tingkat yang baru untuk semua orang, dan bahkan pengunjung seperti Anda merasa terinspirasi oleh itu. Kemudian kadang-kadang orang-orang yang tadinya pengunjung itu memutuskan, mereka tidak ingin menjadi pengunjung lagi, tapi ingin bergabung dengan kami dalam petualangan Firman yang menjadi daging. Jadi bagaimana dengan Anda, pendeta?” Dan lebih luas lagi, bagaimana dengan Anda dan kita semua, penggiat preaching performance, para penyaji khotbah?   




Daftar Acuan 

Allen, Ronald J. 2004. Hearing the Sermon: Relationship/Content/Feeling. Danvers: Chalice Press. Allen, Ronald J., Barbara Shires Blaisdell, Scott Black Johnston. 1997. Theology for Preaching - Authority Truth and Knowledge of God in A Postmodern Ethos. Nashille: Abingdon Press. Brudereck, Christina, dkk. 2015. Open To Go: Bagaimana menjadi gereja masa depan. Jakarta: Gunung Mulia. Childers, Jana. 1998. Performing the Word - Preaching as Theatre. Nashville: Abingdon Press. Childers, Jana and Clayton J. Schmit. 2008. Performance in Preaching -Bringing The Sermon to Life. Michigan: Baker Academic. Childers, Jana (editor). 2001. Birthing the Sermon - Women Preachers on the Creative Process. Missiouri: Chalice Press. Craddock, Red B. 1985. Preaching. Nashville: Abingdon Press. Cox, James W. 1985. Preaching-A Comprehensive Approach to the Design and Deliivery of Sermon. San Fransisco: Harper & Row, Publishers. Hooke, Ruthanna B. 2010. Transforming Preaching. New York: Church Publishing. Holbert, John C. & Alyce M. McKenzie. 2011. What Not to Say-Avoiding the Common Mistakes That Can Sink Your Sermon. Kentucky: Westminster John Knox Press. Huat, Tan Jin. 2000. Preacher, prepare yourself!-towards better Preaching. Kuala Lumpur: Good News Resources. Jensen, Richard A. 2005. Envisioning the Word, The use of visual images in preaching. Minneapolis: Fortress Press. Lowry, Eugene L. 1997. The Sermon - Dancing the Edge of Mystery. Nashville: Abingdon Press. McMickle, Marvin A. 2008. Shaping the Claim-Moving from Text to Sermon. Minneapolis: Fortress Press. Nieman, James R. 2008. Knowing the Context-Frames, Tools, and Signs for Preaching. Minneapolis: Fortress Press. Tisdale, Leonora Tubbs, 1989, Preaching as Local Theology and Folk Art. Minneapolis: Fortress Press. Troeger, Thomas H. 1996. Ten Strategies for Preaching in a Multi Media Culture. Nashville: Abingdon Press. Troeger, Thomas H. & Leonora Tubbs Tisdale. 2013. A Sermon Workbook-Exercises in the Art and Craft of Preaching. Nashville: Abingdon Press. Van Seters, Arthur. 2004. Preaching and Ethics. Missouri: Chalice Press.

(cat: mohon maaf.. tata ketikan tampak kurang rapi, karena format sebelumnya berbeda dan cukup sulit untuk merapikannya ke dalam format blog ini. Terima kasih. - Lusindo Tobing)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar