10 Mei 2016

Refleksi Minggu Kedua Mei 2016


Mazmur 97: 1-12 

Mereka yang Mengasihi Tuhan - 
Membenci Kejahatan 


Mengasihi dan membenci rupanya bisa berjalan beriringan? Bersamaan? Maksud penulis Mazmur adalah: Di saat yang satu dan waktu yang juga sama, kita berada di pihak dan dimensi yang berbeda, tetapi juga untuk dua pihak yang berbeda. Mengasihi Tuhan dan membenci kejahatan! “Hai orang-orang yang mengasihi TUHAN, bencilah kejahatan! Dia, yang memelihara nyawa orang-orang yang dikasihi-Nya, akan melepaskan mereka dari tangan orang-orang fasik.” (ayat 10) Kata “hai” di awal ayat 10 bukanlah sekadar sapaan kepada semua orang yang mau dan berupaya setia kepada-Nya. Tetapi lebih terdengar dan terasa sebagai ajakan. 

Mari membaca dan mendengar kata “hai” itu menjadi “mari.” Sebuah ajakan yang kuat dari pemazmur, yang percaya hidupnya dipelihara dan diselamatkan oleh Allah. Menyapa-mengajak semua kita yang juga menjadi “pemazmur-pemazmur di zaman ini,” untuk menjauhi berbagai kejahatan. Bahkan meninggalkan segala hal yang tidak sesuai Firman-Nya dan tidak disukai Tuhan. Dengan tetap menyembah Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Dan dengan urapan Roh Kudus Allah, mengasihi semua Sabda Firman dan terus berupaya menyenangkan-Nya. Memuji dan memuliakan Tuhan di segenap hidup kehidupan kita. Mari jelas bersikap dan berposisi. 

Terlebih dalam menjalani hidup di era kini dengan berbagai perubahan yang terjadi. Dan ketika perubahan akan semakin berlangsung cepat dan ekstrim, mari jangan berubah: Tetap mengasihi Tuhan. Dengan konsisten, tidak terlampau banyak bertanya, mengenal (bukan sekadar mengetahui) dan semakin mengenal Allah dengan Kasih-Nya dalam penyelamatan Sang Kristus, lalu selalu punya kemungkinan untuk mengasihi keluarga dan sesama manusia. Sebaliknya, konsisten membenci berbagai hal yang jahat. Pikiran jahat, sikap yang jahat dan perbuatan-perbuatan kejahatan, membenci semua itu. Walau membenci berkonotasi negatif. 

Tetapi seperti formula/rumus matematika, ketika negatif dengan negatif bertemu maka sama dengan positif, demikian pula membenci hal-hal yang jahat akan menghasilkan kebaikan. Kebaikan dalam Tuhan. Bahkan kita akan terus dimampukan untuk mengasihi Allah dengan segenap (ingat Matius 22: 37-40). Sebaliknya, seperti formula matematika tadi, plus dengan plus maka hasilnya akan plus atau positif. Bahkan dengan refleksi Mazmur ini, ayat 10 tadi, kesadaran bahwa Allah selalu “memelihara nyawa orang-orang yang dikasihi-Nya, akan melepaskan mereka dari tangan orang-orang fasik.” Maka mengasihi Tuhan Allah, mengasihi Dia Sang Sumber segala yang positif, plus dan baik, maka hasilnya? Sama dengan = kita hidup dalam kasih dan dikasihi tambah-tambah, berlimpah-limpah! 

Bahkan proses untuk taat-setia mengasihi Tuhan itu yang membuat kita siap dan sigap mengasihi sesama kita manusia. Mengasihi orang yang belum kita kenal. Yang lebih lagi, mampu mengasihi mereka yang membenci dan pernah menyakiti kita. Ingat firman dalam Mazmur tadi “melepaskan mereka (kita yang mau setia mengasihi) dari tangan orang-orang fasik.” Mengasihi terus dan terus dan semakin terus mengasihi semua ciptaanNya dan kehidupan. Yang diadakan Tuhan Allah, juga hanya dengan Kasih-Nya. Amin. 


Tulisan & Foto: Pdt. Lusindo Tobing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar